GIRIMU.COM — Lapangan SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik berubah menjadi “panggung politik” yang tak biasa pada Rabu (28/1/2026). Bukan debat kusir yang tersaji, melainkan sebuah fragmen kecil dari visi besar negara: mengejar ketertinggalan piring makan anak bangsa melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan (Zulhas), hadir bukan sekadar untuk menabur janji. Ia datang membawa beban data: dari 82 juta target penerima, masih ada 22 juta perut yang belum terjamah layanan negara, termasuk para siswa di sekolah unggulan ini. Namun, di balik angka-angka statistik itu, Smamsatu justru menyuguhkan sesuatu yang lebih fundamental daripada sekadar urusan metabolisme: keberanian.
”Pantas saja jadi SMA terbaik,” seloroh Zulhas.
Kalimat itu bukan pemanis bibir belaka. Saat ia melempar tantangan dialog, yang muncul bukan kegagapan khas remaja di depan pejabat, melainkan serbuan antusiasme. Lima siswa merangsek maju, mematahkan protokol yang tadinya hanya meminta satu perwakilan.
Di titik ini, Smamsatu menunjukkan, bahwa pendidikan bukan hanya soal menghafal rumus, melainkan tentang membangun otot-otot kepercayaan diri. Zulhas, dengan gaya politisi kawakannya, mencoba menguji nalar mereka dengan isu paling sensitif bagi ibu rumah tangga: harga cabai.
Sava Al Qortun, siswa kelas XII Soshum, menjawab dengan ketenangan seorang analis pasar. Ia mengurai rantai pasok, gagal panen, hingga fluktuasi musiman yang memengaruhi dompet masyarakat. Sebuah jawaban yang membuktikan bahwa di ruang-ruang kelas Muhammadiyah, logika ekonomi kerakyatan telah bersemi jauh sebelum mereka mengenal istilah ‘koperasi desa’ yang kerap digaungkan pemerintah.
Namun, di balik pembagian tablet dan sanjungan “siswa keren”, ada sebuah renungan yang lebih dalam. Kunjungan ini sebenarnya adalah cermin dari kontradiksi pembangunan kita. Di satu sisi, ada sekolah yang begitu progresif dan berani seperti Smamsatu, namun di sisi lain, institusi ini masih masuk dalam daftar “antrean” bantuan gizi negara.
Zulhas mencoba menjembatani ini dengan narasi kerakyatan. Ia menyentil mekanisme pasar yang selama puluhan tahun hanya menguntungkan “pemain yang itu-itu saja”. Dengan membawa semangat Al-Ma’un filosofi pendiri Muhammaiyah, KH Ahmad Dahlan tentang keberpihakan pada yang lemah, pemerintah ingin menggerakkan 80.000 koperasi desa sebagai mesin ekonomi baru.
Hari itu di Gresik, setidaknya terlihat satu hal pasti: saat negara berusaha memenuhi nutrisi di piring makan, Smamsatu telah lebih dulu memenuhi nutrisi di kepala siswanya dengan keberanian berpendapat. Sebab, seperti kata Zulhas: “Orang pintar tanpa keberanian tidak akan membawa perubahan.” (*)
Kontributor: M. Islahuddin
