Luar Biasa, Siswa SMAMDELA Dewi Sinta Berhasil Olah Daun Kelor Jadi ‘Pumpleaf Bar’ Bernilai Gizi Tinggi

Kabar3 Dilihat

GIRIMU.COM — Rada Dewi Sinta, salah satu siswa SMA Muhammadiyah 8 (SMAMDELA) Gresik berhasil menciptakan produk pangan yang inspiratif dan membanggakan. Siswa kelas XII ini sukses menciptakan produk pangan berupa camilan (snack) bergizi tinggi, berbahan baku tepung daun kelor.

Sukses Sinta, sapaan akrabnya, dipresentasikan dalam ujian hasil Project Based Learning (PjBL) kelas XII pada 21 Januari 2026 lalu, pukul 09.30–10.30 WIB, di ruang ujian SMAMDELA. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari ujian proposal yang sebelumnya telah dilaksanakan pada Desember 2025, sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek yang rutin diterapkan sekolah. Sementara hasil produk kreatif Sinta ini, dirilis dalam pameran karya pada 27 Januari 2026.

Produk inspiratif yang dihasilkan Sinta, mengangkat judul “Pembuatan Snackbar dari Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera) dan Labu Kuning (Cucurbita Moschata) sebagai Pangan Fungsional Sumber Protein dan Antioksidan”. Produk yang dihasilkan diberi nama Pumpleaf Bar, camilan berbahan lokal dengan nilai gizi tinggi.

Ujian hasil produk karya Sinta ini dibimbing oleh Uswatun Khasanah, SSi, dan mendapat apresiasi dari Emi Faizatul Afifah, MSi, selaku penguji sekaligus Kepala SMAMDELA. Menurutnya, proyek ini mencerminkan esensi PjBL yang tidak hanya mengasah keterampilan akademik, tetapi juga membangun sikap kritis, kreativitas, dan kepedulian terhadap kesehatan.

“Pembelajaran seperti ini melatih siswa berpikir aplikatif dan siap menghadapi tantangan setelah SMA. Ini layak dikembangkan,” ujar Emi saat dihubungi, Sabtu (31/1/2026).

Sinta menuturkan, PjBL memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran konvensional. Dalam proyek ini, ia mengaku terlibat langsung sejak tahap awal, mulai dari pencarian ide, mempelajari kandungan gizi bahan, menyiapkan alat dan bahan, hingga proses produksi dan uji organoleptik sederhana.

“Saya benar-benar merasakan prosesnya dari awal sampai akhir,” ujarnya bangga.

Tantangan pun tak terhindarkan. Pengaturan waktu dengan mata pelajaran lain, penentuan takaran bubuk daun kelor agar rasa tidak terlalu kuat (menyengat), serta pengaturan suhu dan waktu pemanggangan menjadi kendala utama. Namun dari proses tersebut, Sinta mengaku belajar untuk lebih sabar, teliti, dan bertanggung jawab.

“Saya jadi lebih mandiri dan paham, bahwa bahan sederhana di sekitar kita bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat,” katanya.

Secara keseluruhan, Sinta mengaku puas dengan hasil PjBL yang ia capai. Selain produk yang diterima dengan baik, pengalaman selama proses menjadi bekal penting bagi perkembangan sikap dan keterampilannya sebagai pelajar. (*)

Kontributor: Liset Ayuni

Author