Lulu Si Pemberani: Drama Komedi Musikal ‘STEAMS Aqua Farming’ yang Lahir dari Student Agency Siswa

Berita Sekolah1913 Dilihat

Girimu.com – Suasana panggung STEM Fest di Gressmall Sabtu, 16 Mei 2026 berubah meriah dan penuh gelak tawa saat siswa kelas IV SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik menampilkan drama musikal bertajuk Lulu Si Pemberani: Dari Kolam ke Piring Kehidupan. Pementasan tersebut menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian, karena memadukan unsur teater, musik, komedi, dan pembelajaran STEAMS berbasis pengalaman nyata siswa selama menjalankan proyek Aqua Farming.

Drama musikal ini dibimbing oleh Guru Pembina Nur Aini Ochtafiya, MPd dan Drs. AH. Nurhasan Anwar, MPd, yang sengaja membangun pembelajaran berbasis student agency. Dalam prosesnya, siswa tidak hanya menjadi pemeran, tetapi juga terlibat langsung mulai dari pencarian ide, penentuan alur cerita, reading naskah, penentuan dialog, hingga pemilihan kostum.

“Kami tidak ingin ide drama ini hanya berasal dari guru. Kami ingin anak-anak ikut berpikir, menentukan ide, dan menyampaikan pengalaman mereka sendiri agar pementasan drama terasa lebih bermakna,” ujar Nur Aini Ochtafiya.

Proses ideasi dilakukan dengan mengajak siswa berdiskusi satu per satu mengenai ide yang ada di dalam pikiran mereka untuk tampilan drama STEM Fest. Dari situlah muncul berbagai usulan unik. Ada siswa yang ingin memasukkan adegan saat membuat prototype Aqua Farming dengan menggergaji paralon. Ada juga yang mengusulkan adegan menguras kolam, hingga ide tentang perawatan kolam setelah proyek berhasil diwujudkan.

Ide dasar cerita justru muncul dari pengalaman nyata siswa selama merawat Aqua Farming di sekolah. Kenzu Keven Hafidz Dhawami, siswa kelas 4 Andalusia, pemeran utama Lulu, menjadi siswa yang pertama kali mencetuskan ide cerita drama tersebut.

“Aku kepikiran bikin cerita tentang merawat lele karena waktu merawat Aqua Farming ternyata tidak semudah waktu membuatnya. Pernah kolamnya penuh nasi goreng dan kita harus menguras kolam bersama-sama. Kadang juga lupa kasih makan lele. Jadi aku kepikiran bagaimana kalau pengalaman itu dijadikan drama, pasti lucu,” ujar Kenzu.

Ide tersebut kemudian dikembangkan bersama ide siswa lainnya yang menginginkan penampilan tetap terlihat profesional, namun lucu dan menghibur. Dari situlah lahir konsep drama komedi musikal bertema Aqua Farming.

Agar drama terasa semakin hidup, siswa juga menggubah beberapa lirik lagu sesuai adegan cerita. Lagu-lagu tersebut menjadi salah satu daya tarik utama pertunjukan. Pada bagian pembuka, para pemeran lele tampil dengan gerakan berenang lucu sambil menyanyikan lagu Menanam Jagung dengan mengubah lirik. Salah satu adegan paling ikonik terjadi ketika para lele mulai kelaparan karena lupa diberi makan manusia. Pada adegan tersebut, siswa menggubah lagu Mangku Purel menjadi versi komedi tentang lele yang kelaparan.

“Lele… kita kelaparan…
Tak ada makanan… kau tinggalkan ku kelaparan…”

Adegan tersebut sukses membuat penonton tertawa karena dibawakan dengan ekspresi dramatis dan gerakan lucu para pemeran lele.

Cerita drama dimulai dari keresahan siswa terhadap limbah sisa makan siang yang sering terbuang sia-sia dan kondisi kebun belakang sekolah yang kurang dimanfaatkan. Dari rasa peduli tersebut lahirlah ide membuat sistem STEAMS Aqua Farming yang mengintegrasikan budidaya lele dan tanaman dalam satu ekosistem pembelajaran.

Cerita kemudian berlanjut pada kehidupan Lulu, seekor lele kecil pemberani yang hidup bersama teman-temannya di kolam Aqua Farming. Awalnya kehidupan mereka berjalan damai hingga manusia mulai lupa memberi makan dan merawat kolam. Situasi berubah lucu ketika beberapa siswa datang dan melempar nasi goreng ke dalam kolam karena kasihan melihat lele-lele kelaparan. Namun kondisi semakin menegangkan saat air kolam berubah kotor, tanaman mengering, dan para lele mulai panik karena kekurangan makanan.
Lulu kemudian tampil sebagai sosok pemberani yang mengingatkan teman-temannya untuk tetap bertahan bersama dan tidak saling menyalahkan.

Konflik memuncak saat manusia akhirnya menyadari kondisi kolam yang rusak dan mulai bekerja sama menguras kolam, membersihkan air, dan memperbaiki pompa. Adegan menguras kolam dikemas secara musikal. Pada akhir cerita, Lulu tumbuh menjadi lele sehat yang akhirnya memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Ending tersebut menjadi simbol bahwa setiap perjuangan dan proses belajar akan selalu membawa manfaat jika dijalani dengan tanggung jawab dan kepedulian. Drama ditutup dengan seluruh pemain menyanyikan lagu Kicau Mania yang digubah menjadi Lele Blukutuk sambil menari bersama di atas panggung.

“Aku suka cerita Lele Blukutuk ini, apalagi saat adegan para lele kelaparan dan saat ending, kita menyannyikan lagu Lele Blukutuk bersama–sama. Ini pengalaman pertama berlatih dan mementasakan drama di sini,” tutur Dhirgham Haidar Irhab, siswa kelas IV Cordoba yang merupaka siswa pindahan dari Jayapura, Papua.

Penampilan tersebut berhasil mengundang tepuk tangan meriah dari penonton karena tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan pesan moral tentang tanggung jawab, kerja sama, kepedulian lingkungan, dan keberanian menghadapi masalah melalui pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan. (red)

Editor