GIRIMU.COM — Aksi Penanaman Pohon bertema “Akar yang Ditanam, Harapan yang Tumbuh” yang digelar Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Sidayu, Gresik, pada Ahad (25/1/ 2026) di Brang Wetan, Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu, menghadirkan pemandangan yang berbeda dan penuh makna. Bukan hanya kader dewasa yang terlibat, tetapi juga anak-anak yang dikenal dengan sebutan kader kinthilan, anak-anak Yunda Nasyiatul Aisyiyah, yang tumbuh dalam lingkungan gerakan dakwah ramah anak.
Sejak awal kegiatan, suasana hangat dan penuh keceriaan langsung terasa. Anak-anak hadir bersama orang tua mereka, berlarian kecil di antara bibit pohon, tertawa, dan saling menyemangati. Kehadiran mereka menjadikan aksi lingkungan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi ruang belajar hidup yang membahagiakan.
PCNA Sidayu secara sadar menghadirkan pendekatan ramah anak dalam seluruh rangkaian kegiatan. Anak-anak tidak hanya diajak hadir, tetapi dilibatkan secara aktif. Dengan pendampingan para Yunda, kader kinthilan ikut menanam bibit pohon, menaburkan kompos, menutup tanah, hingga menyiram tanaman. Semua dilakukan dengan metode yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dunia anak.
Gerakan kecil itu menyimpan makna besar. Anak-anak belajar mencintai lingkungan bukan melalui ceramah, tetapi melalui pengalaman langsung. Mereka mengenal makna merawat, menjaga, dan menumbuhkan. Dari tangan kecil mereka, tumbuh nilai tanggung jawab, kesabaran, kerja sama, dan kepedulian.
Kehadiran kader kinthilan menjadi simbol, bahwa dakwah lingkungan tidak mengenal batas usia. Pendidikan ekologis tidak harus menunggu dewasa. Nilai cinta alam bisa ditanamkan sejak dini melalui praktik sederhana yang berulang dan menyenangkan.
Gerakan ini juga menegaskan peran strategis perempuan dalam membangun peradaban. Para Yunda Nasyiatul Aisyiyah hadir bukan hanya sebagai kader organisasi, tetapi sebagai pendidik nilai, teladan moral, dan penggerak budaya ramah anak. Anak-anak tumbuh dalam ruang yang aman, partisipatif, dan penuh kasih.
Aksi ini membuktikan, bahwa organisasi perempuan mampu membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus membentuk karakter generasi masa depan. Penanaman pohon bukan hanya soal penghijauan, tetapi proses menanam nilai kehidupan.
Bibit-bibit buah yang ditanam hari ini menjadi simbol masa depan. Kelak, pohon-pohon itu akan tumbuh, berbuah, dan memberi manfaat. Begitu pula anak-anak yang hari ini belajar menanam—mereka tumbuh dengan kesadaran ekologis, kepedulian sosial, dan karakter keberlanjutan.
Melalui semangat kader kintilan, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu menegaskan bahwa gerakan ramah anak bukan slogan, tetapi praktik nyata. Dari Randuboto, tumbuh generasi kecil yang belajar mencintai bumi sejak dini—sebagai pondasi peradaban yang lebih beradab, manusiawi, dan berkelanjutan. (*)
Kontributor: Luthfi Dyah Radintari







