Oleh: Abdul Rokhim Ashari
Setiap Ramadan memasuki sepuluh malam terakhir, suasana ibadah umat Islam biasanya berubah. Masjid menjadi lebih hidup pada malam hari. Orang-orang mulai berbicara tentang i’tikaf, memperbanyak tilawah, dan tentu saja tentang satu malam yang paling dinanti: Lailatul Qadar.
Namun di Indonesia, pencarian malam istimewa itu sering bersamaan dengan satu percakapan lain yang tak kalah hangat: perbedaan penentuan kalender antara Muhammadiyah dan pemerintah. Bagi sebagian orang, perbedaan ini terasa membingungkan. Tapi jika dilihat dengan tenang, justru di sanalah menariknya dinamika keilmuan Islam.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama masih menggunakan pendekatan rukyat yang didukung hisab dalam menentukan awal bulan hijriyah. Setiap menjelang Ramadan, Syawal, atau Dzulhijjah, sidang isbat digelar untuk memastikan apakah hilal dapat terlihat atau tidak. Keputusan akhir biasanya menunggu laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Muhammadiyah kini mengembangkan pendekatan yang lebih luas melalui konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Gagasan ini lahir dari kesadaran, bahwa umat Islam hidup dalam dunia yang semakin terhubung. Dengan KHGT, Muhammadiyah mendorong adanya satu kalender hijriah yang berlaku secara global, sehingga umat Islam di berbagai negara dapat memulai bulan hijriah pada hari yang sama.
Secara ilmiah, KHGT berbasis pada perhitungan astronomi modern yang sangat presisi. Kalender disusun dengan prinsip kesatuan matlak global dan dapat diproyeksikan jauh ke depan, bahkan hingga puluhan tahun. Dengan kata lain, umat Islam tidak perlu lagi menunggu pengamatan hilal setiap bulan untuk menentukan awal waktu ibadah.
Gagasan ini sebenarnya bukan sekadar persoalan teknis penanggalan. Ia menyimpan visi yang lebih besar: menyatukan sistem waktu umat Islam di seluruh dunia. Namun dalam praktiknya, selama dunia Islam masih menggunakan berbagai metode penetapan kalender —rukyat lokal, imkanur rukyat, maupun sistem hisab tertentu— perbedaan tetap akan muncul. Termasuk dalam menentukan kapan tepatnya sepuluh malam terakhir Ramadhan dimulai.
Di titik inilah, pembicaraan tentang Lailatul Qadar menjadi menarik. Sebab Al-Quran sendiri tidak pernah menyebut tanggal pasti turunnya malam tersebut. Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Artinya, sejak awal Islam memang tidak mengunci Lailatul Qadar pada satu tanggal tertentu. Ia sengaja “disembunyikan” agar manusia tidak hanya beribadah pada satu malam saja, melainkan bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam di akhir Ramadan.
Karena itu, ketika Muhammadiyah dan pemerintah memiliki perhitungan kalender yang berbeda, sebenarnya umat tetap berada dalam ruang spiritual yang sama. Mereka tetap mencari malam yang sama, hanya saja dengan titik awal perhitungan yang sedikit berbeda.
Perbedaan ini pada akhirnya lebih mencerminkan kekayaan pendekatan ilmiah dalam Islam daripada sebuah pertentangan. Yang satu menekankan kesatuan kalender global melalui KHGT, sementara yang lain mempertahankan tradisi rukyat yang telah lama menjadi praktik keagamaan.
Di atas semua itu, Lailatul Qadar tetap berdiri sebagai misteri ilahi. Ia tidak tunduk pada sidang isbat, tidak pula terikat sepenuhnya oleh rumus astronomi. Ia datang kepada mereka yang menjemputnya dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Maka, mungkin yang lebih penting bukanlah memastikan malam ke berapa Lailatul Qadar jatuh menurut kalender masing-masing, tetapi memastikan, bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan benar-benar kita hidupkan. Sebab boleh jadi, di antara doa yang lirih dan sujud yang panjang pada malam-malam itulah, Lailatul Qadar diam-diam hadir, tanpa bertanya kita mengikuti kalender siapa. (*)
*) Abdul Rokhim Ashari, Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur.






