Merangkak ke Surga: Kisah Sedekah Mengubah Nasib, dari Kebun Umar hingga Kafilah Abdurrahman

Reporter: Mahfudz Efendi

Kabar30 Dilihat
banner 468x60

Sabtu pagi di Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik, sebuah kisah membayangi jemaah. Bukan soal dosa besar, melainkan keteledoran kecil yang berujung pada sedekah raksasa. Umar bin Khattab, suatu hari, rela menghibahkan seluruh kebun kurmanya hanya karena satu kali terlambat menunaikan Salat Asar berjamaah. Sebuah “keputusan ekstrem” yang, menurut Mujiman, da’i dari Yogyakarta, menandai betapa hatinya tak terikat dengan kemewahan dunia.

Mujiman, anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah Bantul, mengawali kajiannya dengan mengutip hadis Rasulullah Muhammad yang diriwayatkan Imam Tirmizi. Ia berpesan, “Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.”

Perintah sedekah, sambung Mujiman, menjadi amalan yang sepatutnya dilakukan umat muslim manakala ketiga kondisi dalam hadis itu telah terpenuhi. Sampai-sampai di antara doanya, malaikat akan mendoakan hamba yang memperhatikan nafkah keluarga dan gemar sedekah agar mendapatkan ganti dan keberkahan. “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, ‘Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga)’. Malaikat yang lain berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah)’.” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010).

Mujiman kemudian mengungkap tiga tipe sahabat Rasulullah dalam bersedekah. Tipe pertama adalah sahabat yang memiliki pekerjaan lebih dari satu, pendapatan di antara pekerjaannya itu disedekahkan. Tipe kedua, sahabat yang hanya memiliki satu pekerjaan, namun sebelum dipakai untuk hidupnya, ia memakainya untuk bersedekah terlebih dahulu. Tipe ketiga, sahabat yang bersedekah dari sisa pendapatannya setelah untuk pengeluaran hidupnya. “Jemaah tipe yang mana?” tanya Mujiman seakan menguji kadar keimanan yang hadir.

Mujiman juga mengingatkan kembali perilaku Umar bin Khattab saat lalai menjalankan ibadah. Suatu hari, Umar pergi ke kebun kurma miliknya. Ketika pulang, ia mendapati sejumlah orang telah rampung menunaikan Salat Asar. Sontak mulut Umar berucap, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, aku ketinggalan salat jemaah!” Pemimpin berjuluk “al-Faruq” ini kecewa bukan main lantaran tak sempat menunaikan salat jemaah bersama mereka. Sebagai pelunasan atas rasa bersalahnya, ia pun melontarkan sebuah pengumuman di hadapan mereka. “Saksikanlah, mulai sekarang aku sedekahkan kebunku untuk orang-orang miskin,” ujarnya.

“Umar merelakan kebun lepas dari kepemilikannya, sebagai kafarat atas keterlambatannya melaksanakan salat jemaah. Sebenarnya, tak ada kewajiban bagi umat Islam untuk menghibahkan kekayaan sebesar itu ‘hanya’ gara-gara telat salat jemaah. Tapi Umar melakukan hal itu lantaran kecintaannya yang mendalam terhadap aktivitas ibadah. Sikap Umar tersebut secara tersirat juga mencerminkan kezuhudan dalam dirinya. Lebih dari sekadar ketertarikan atas pahala berlipat dari salat jemaah, ‘keputusan ekstremnya’ itu menjadi penanda bahwa hatinya tak begitu terikat dengan kemewahan harta benda,” ungkap Mujiman.

Sedekah mendatangkan pengampunan Allah, papar Mujiman. Ia mengutip sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, “Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Dari pesan di hadis itu, Mujiman meminta agar jemaah perempuan yang hadir tidak seperti kebanyakan wanita yang masuk neraka itu. Hendaklah ibu-ibu jemaah menjaga lisan dan bersyukur atas pemberian suami selain bersedekah tentunya.

Mujiman menambahkan, sedekah tidak hanya untuk sesama manusia, bahkan juga untuk hewan. Ia merujuk hadis tentang keutamaan bersedekah dengan memberikan minum pada hewan, yang menunjukkan Islam mengajarkan berbuat baik pada setiap makhluk. Di antara hadis yang diangkat adalah kisah wanita pezina yang memberi minum pada anjing dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa.

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244).

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

Mujiman menyampaikan sedekah juga dapat dijadikan sebagai tawassul. Setelah bersedekah, bisa memohon diberikan kesembuhan dan kebaikan dunia. Meski demikian, ia menyarankan hal ini tidak menjadikan hamba yang bersedekah selalu untuk urusan dunia saja, yang lebih baik untuk urusan dunia akhirat. Juga tidak menjadikan sedekah sebagai pemahaman transaksional, “bersedekah sebuah rumah untuk mendapatkan sepuluh rumah misalnya,” tandasnya. Yang pasti, setiap sedekah pahalanya akan dilipatgandakan Allah hingga tujuh ratus kali.

Ia menuturkan bahwa sedekah mempermudah jalan shirathal mustaqim. Siapa yang tak mengenal Abdurrahman bin Auf? Ia adalah sahabat Rasulullah yang kaya raya dan terkenal akan kegemarannya untuk bersedekah di jalan Allah. Sifat dermawannya ini tak jauh dari didikan ayahnya, Auf bin Abd Auf, seorang yang menepati janji dan mencintai sesama. Hingga nilai bijaksana, setia, dermawan terus melekat padanya ketika beranjak dewasa.

Dalam suatu kisahnya yang terkenal, Madinah, yang tampak tenang saat itu, mendadak ramai. Warga dan para pedagang berlarian menuju jalan. Rupanya, kafilah Abdurrahman bin Auf dengan 700 ekor untanya lengkap dengan dagangan memasuki Madinah, untuk disumbangkan.

Melihat hal ini, Aisyah berkata: “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya bagi Abdurrahman bin Auf dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat nanti. Aku pernah mendengar Rasul bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga sambil merangkak.” Sahabat Abdurrahman bin Auf merangkak bukan karena sulitnya memasuki surga. Sebaliknya, ini adalah makna konotasi, bahwa ia sangat dekat dengan surga, sehingga ia tak perlu lagi berjalan dan hanya perlu merangkak saja.

Mendengar hal tersebut, seorang sahabat berlari kencang mencari Abdurrahman bin Auf untuk menyampaikan kabar gembira itu. Hingga akhirnya Abdurrahman bin Auf menemui Aisyah dan bertanya: “Wahai Ibunda, apakah Ibunda mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?” Jawab Aisyah, “Ya, aku mendengar sendiri.” Mendengar hal tersebut, Abdurrahman bin Auf kegirangan sambil berkata, “Wahai Ibunda, saksikanlah, seluruh unta lengkap dengan barang dagangan di punggungnya masing-masing, aku dermakan untuk fisabilillah.”

Dalam Surat Ali ‘Imran ayat 92, Mujiman menyampaikan sedekah hendaknya memberikan yang kita menyukainya. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Mujiman menceritakan suatu saat sahabat tergopoh-gopoh menemui Rasulullah untuk menanyakan kepada siapa sedekah diberikan. Rasulullah mengatakan, “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah. Sedekah terhadap kerabat memiliki dua keutamaan, yaitu sedekah dan menyambung tali silaturahmi.” (HR. Tirmizi).

Mujiman mengisahkan, infak dan jihad adalah pilar kejayaan di era Sahabat Rasulullah. Ibnu Mas’ud mengisahkan sifat mulia ini dimiliki sempurna oleh para sahabat Rasulullah dan inilah yang menjadikan mereka lebih utama di sisi Allah dibandingkan generasi setelah mereka. Ibnu Mas’ud berkata, “Kalian (para tabiin) lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) salat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para sahabat Rasulullah, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah) daripada kalian.” Ada yang bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat.”

Editor