Girimu.com — Suasana ballroom Hotel Horison GKB Gresik, Ahad (31/5/2026), nampak ramai dan ceria. Senyum haru para orang tua, wajah-wajah penuh optimisme para wisudawan, serta semangat para guru dan tenaga kependidikan berpadu menjadi satu dalam gelaran Haflah Akhirissanah XI SMK Muhammadiyah 3 Gresik (SMK Matig).
Saya yang hadir sebagai Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik merasakan kebanggaan tersendiri saat menyaksikan prosesi wisuda yang berlangsung khidmat sekaligus penuh kreativitas. Acara tersebut selain sebagai seremoni kelulusan, juga menjadi penanda lahirnya generasi muda yang siap menapaki dunia kerja, perguruan tinggi, maupun dunia usaha.
Sejak awal acara, para hadirin sudah dibuat terpukau oleh berbagai penampilan seni yang dibawakan siswa-siswi SMK Matig. Penampilan Dance Mime (Pantomim) oleh Matig Art berhasil menyita perhatian seluruh tamu undangan. Dengan ekspresi yang kuat, gerakan yang kompak, dan pesan yang tersampaikan tanpa kata-kata, para siswa menunjukkan bahwa kreativitas adalah bahasa universal yang mampu menyentuh siapa saja.
Tak kalah memukau, Tari Kreasi Kratajna yang dibawakan para siswi SMK Matig menghadirkan nuansa budaya yang elegan dan penuh makna. Balutan busana merah yang anggun dipadukan dengan gerakan yang harmonis menjadikan penampilan tersebut mendapat apresiasi meriah dari hadirin. Saya melihat bagaimana panggung wisuda pagi itu tidak hanya menjadi ruang apresiasi akademik, tetapi juga panggung ekspresi bakat dan karakter siswa.
Tema yang diusung tahun ini, “Be Success: Walking with Confidence Toward Brighter Future”, terasa sangat relevan dengan semangat pendidikan vokasi saat ini. Kesuksesan tidak hanya berbicara tentang nilai akademik atau selembar ijazah, melainkan keberanian melangkah dengan percaya diri menuju masa depan yang lebih baik.
Tema tersebut seolah tergambar nyata dalam capaian para lulusan SMK Matig tahun ini. Dalam sambutannya, Plt Kepala SMK Muhammadiyah 3 Gresik, Yuli Rahmawati, MPd, menyampaikan data yang sangat membanggakan. Dari total 115 siswa Angkatan XI, sebanyak 35 persen telah diterima bekerja sebelum dinyatakan lulus, sementara 38 persen lainnya telah mendapatkan pekerjaan sebelum ijazah diterbitkan. Sebanyak 7 persen melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, 2 persen memilih berwirausaha, dan 18 persen masih berada dalam proses rekrutmen kerja maupun pendaftaran kuliah. Data tersebut menunjukkan bahwa sekitar 73 persen lulusan telah mengantongi pekerjaan bahkan sebelum wisuda dilaksanakan.
Mendengar capaian tersebut, saya merasa sangat bahagia dan optimistis. Angka itu menunjukkan bahwa pendidikan vokasi Muhammadiyah mampu menjawab kebutuhan dunia kerja. Di tengah berbagai tantangan ketenagakerjaan yang dihadapi lulusan SMK secara nasional, capaian SMK Matig menjadi kabar menggembirakan sekaligus harapan baru bagi pendidikan kejuruan.
Dalam sambutan saya, saya menyampaikan bahwa Kabupaten Gresik merupakan salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia yang membuka peluang luas bagi lulusan SMK. Berbagai sektor industri membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, terampil, dan berkarakter. Namun saya juga mengingatkan para wisudawan bahwa dunia kerja hari ini tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis. Dunia industri membutuhkan pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, cepat beradaptasi, serta memiliki akhlak yang baik.
Saya berpesan kepada para lulusan agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari sekolah bukan berarti selesai belajar. Justru saat itulah proses pembelajaran sesungguhnya dimulai. Perubahan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan artifisial menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi diri.
Saya juga mengajak para lulusan untuk berani mengambil peluang. Jika ada kesempatan magang, sertifikasi kompetensi, pelatihan industri, atau melanjutkan pendidikan, maka manfaatkanlah sebaik mungkin. Bahkan jika memungkinkan, jadilah wirausahawan muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Lebih dari itu, saya mengingatkan agar seluruh lulusan selalu menjaga nama baik orang tua, almamater, dan Muhammadiyah. Sebab keberhasilan sejati bukan hanya ketika seseorang diterima bekerja, tetapi ketika ia mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Haflah Akhirissanah XI SMK Muhammadiyah 3 Gresik menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengantarkan siswa lulus sekolah, tetapi tentang menyiapkan mereka untuk melangkah dengan percaya diri menuju masa depan yang lebih cerah.
Dan pagi itu, di Ballroom Hotel Horison GKB Gresik, saya menyaksikan sendiri bagaimana optimisme itu tumbuh dan menyala di wajah-wajah generasi muda Muhammadiyah.
“Terbanglah setinggi mungkin dengan ilmu yang kalian miliki, tetapi jangan pernah melepaskan akhlak yang telah diajarkan kepada kalian.” Itulah harapan yang saya titipkan kepada seluruh wisudawan SMK Matig Angkatan XI.
Semoga langkah mereka benar-benar menjadi langkah menuju masa depan yang gemilang. (*)





