Open School Jadi Panggung Keberanian, Lomba Tapak Suci TK Hebohkan SD Muhammadiyah 1 Kebomas

banner 468x60

GIRIMU.COM — Pagi itu, beberapa anak terlihat menggenggam tangan temannya sebelum masuk arena. Ada yang masih dibantu membetulkan ikat kepala. Ada pula yang berbisik pelan, mengulang hitungan jurus yang sudah mereka hafal di luar kepala.

Di halaman SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Kamis (12/2/2026), 14 kontingen Taman Kanak-kanak (TK) se-Kabupaten Gresik berkumpul dalam Lomba Pencak Silat Seni Beregu Pra Usia Dini, dalam gelaran Open School. Matras telah terpasang, kursi juri tertata, dan orang tua berderet di salah satu sudut arena. Namun, yang paling terasa bukanlah suasananya, melainkan degup kecil dari anak-anak yang bersiap tampil.

Begitu nama regu dipanggil, langkah-langkah mungil itu maju ke tengah arena. Mereka memberi hormat, lalu mengambil posisi. Musik pengiring terdengar. Seketika, gerakan mereka berubah tegas.

Tangan mengepal, kaki membentuk kuda-kuda, tubuh berputar mengikuti irama. Tidak semua gerakan sempurna. Ada yang sedikit terlambat, ada yang sempat menoleh ke samping, memastikan temannya bergerak bersama. Tetapi, justru di situlah letak maknanya: mereka sedang belajar menyatu dalam satu ritme.

Dalam kategori seni beregu, kekompakan menjadi penentu. Anak-anak ini tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Jika satu maju, semua harus maju. Jika satu berhenti, semua harus berhenti. Latihan yang mungkin dilakukan berulang-ulang di sekolah masing-masing, kini diuji di depan banyak tatapan pasang mata.

Dewan juri mengamati dengan saksama: ketepatan jurus, keserempakan, penghayatan, hingga kerapian kostum. Namun di luar meja penilaian itu, ada pelajaran lain yang tak tertulis di lembar skor, yakni keberanian untuk berdiri di depan umum pada usia yang masih sangat belia.

Suara dukungan orang tua kerap pecah saat satu regu menuntaskan gerakan terakhirnya. Ada tepuk tangan yang panjang, ada pelukan kecil setelah anak turun dari matras. Beberapa terlihat lega, beberapa lainnya masih ingin mengulang karena merasa belum maksimal.

Persaingan berlangsung sehat. TK ABA 25 Golokan, Kecamatan Sidayu akhirnya meraih Juara I dengan nilai 201,6. Juara II diraih TK ABA 37 Dermo, Benjeng dengan nilai 180, dan Juara III oleh TK ABA 36 PPI dengan nilai 175. Untuk kategori harapan, TK ABA 24 BP Wetan meraih Harapan I (170), disusul TK ABA 40 PPS, dan TK ABA 21 Benjeng sebagai Harapan II dan III dengan nilai 171,6.

Namun ketika piala dibagikan dan foto bersama digelar, batas antara juara dan bukan juara seolah memudar. Semua anak berdiri dengan bangga dalam seragam merahnya. Semua telah melewati satu pengalaman penting: tampil, menyelesaikan jurus, dan tidak menyerah di tengah arena.

Lomba hari itu bukan hanya tentang angka dan peringkat. Ia tentang langkah kecil yang berani, tentang tangan-tangan mungil yang belajar bergerak serempak, dan tentang senyum yang muncul setelah rasa gugup berhasil ditaklukkan.

Di atas matras sederhana itulah, anak-anak TK se-Gresik belajar satu hal mendasar, bahwa keberanian dan kekompakan bisa dilatih sejak dini, selangkah demi selangkah. (*)

Kontributor: Abdul Rokhim Ashari

Author