Pelajaran dari Segelas Teh Tawar di Bandung: Budaya Sunda vs Jatim
Sabtu malam, 14 Februari 2026, terasa berbeda. Setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta api untuk menghadiri acara wisuda keponakan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung esok harinya, tubuh terasa lelah dan perut mulai keroncongan.
Meskipun suasana haru dan bangga menyelimuti karena akan menghadiri wisuda putri pertama kakak kami—yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ranting Muhammadiyah di desanya—rasa lapar tak bisa ditunda. Kami sepakat mencari makan sekadar untuk mengganjal perut sebelum beristirahat.
Kami singgah di sebuah warung penyetan sederhana di sudut Kota Bandung. Tempatnya tidak terlalu besar, namun terlihat ramai dan hangat. Aroma sambal terasi yang khas langsung menyapa indera penciuman begitu kami duduk. Saya dan istri memesan ayam goreng, sementara kakak bersama keluarganya memilih lele dan tempe penyet.
Tidak butuh waktu lama, pesanan pun datang satu per satu. Dengan logat Sunda yang kental dan ramah, penjual itu mempersilakan kami menikmati hidangan.
“Mangga, sok makanannya,” ujarnya sambil menyodorkan piring serta gelas-gelas teh hangat.Kami pun mulai menyantap makanan dengan lahap. Sambalnya pedas menggigit, ayamnya renyah, dan lelenya gurih. Rasa lelah perjalanan seakan terbayar oleh kenikmatan sederhana itu.
Namun, di tengah suasana makan yang hangat, istri saya berbisik pelan, “Tehnya kok tawar ya, tidak manis?” Pertanyaan yang sama juga dilontarkan putri saya yang memang hobi minum teh manis. Selain teh yang tawar, nasi goreng yang kami santap juga terasa sangat pedas, mencerminkan budaya Sunda yang masakannya serba pedas.
Saya tersenyum kecil. Saat itulah ingatan saya melayang jauh ke masa 23 tahun silam. Kala itu, saya bersama beberapa rekan bertugas sebagai surveyor di wilayah Jawa Barat dan Banten untuk sebuah perusahaan semen. Hampir setiap hari kami singgah di warung-warung kecil untuk makan dan minum.
Di situlah saya pertama kali menyadari kebiasaan unik masyarakat Sunda dalam menyajikan teh. Jika kita hanya memesan “teh” tanpa embel-embel apa pun, maka yang datang adalah teh tawar. Jika ingin manis, kita harus secara jelas mengatakan “teh manis”.
Kebiasaan ini berbeda dengan di Jawa Timur, tempat saya dibesarkan, yang secara umum teh yang disajikan otomatis sudah manis, kecuali diminta sebaliknya. Perbedaan kecil ini seringkali luput dari perhatian, padahal dapat menimbulkan kebingungan bagi pendatang.
Saya pun menjelaskan kepada istri tentang kebiasaan tersebut. Ia mengangguk sambil tersenyum, lalu memanggil penjual untuk meminta tambahan gula. Momen kecil itu terasa sederhana, namun sarat makna. Saya menyadari kembali betapa pentingnya memahami budaya dan adat istiadat setempat.
Hal-hal yang tampak sepele seperti cara memesan minuman, sebenarnya mencerminkan kebiasaan yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Belajar budaya setempat bukan hanya soal mengetahui aturan besar atau norma adat dalam upacara resmi. Ia hadir dalam detail keseharian: cara berbicara, kebiasaan makan, pilihan kata, bahkan selera rasa.
Dengan memahaminya, kita tidak hanya terhindar dari salah paham, tetapi juga menunjukkan rasa hormat kepada tuan rumah. Sikap bijak seperti ini membuat kita lebih mudah diterima dan dihargai.
Pepatah mengatakan, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Kalimat itu terasa begitu relevan malam itu. Kita boleh datang dari latar belakang berbeda, membawa kebiasaan sendiri, namun ketika berada di tempat orang lain, sudah sepantasnya kita menyesuaikan diri. Bukan berarti meninggalkan jati diri, melainkan menghargai perbedaan.
Pengalaman sederhana tentang segelas teh tawar itu kembali mengingatkan saya bahwa keberagaman Indonesia bukan hanya tentang suku dan bahasa, tetapi juga tentang kebiasaan kecil yang unik di setiap daerah. Justru di situlah keindahannya. Dengan belajar dan membuka diri, kita menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih toleran, dan lebih kaya pengalaman.
Akhirnya, malam itu kami pulang dengan perut kenyang dan hati hangat. Bukan hanya karena makanan yang lezat, tetapi karena pelajaran lama yang kembali hidup: memahami budaya dan adat setempat adalah kunci untuk bersikap arif dalam setiap langkah perjalanan hidup. (Rahmat Syayid Syuhur)








