Pelepasan Siswa Muhammadiyah Banyutengah Berlangsung Haru

Reporter: Shella Mahdiyah

Kegiatan Sekolah366 Dilihat
banner 468x60

Pelepasan siswa Perguruan Muhammadiyah Banyutengah berlangsung khidmat, haru, dan penuh kebanggaan. Kegiatan ini diikuti siswa MI Muhammadiyah 5 Banyutengah, MTs Muhammadiyah 6 Banyutengah, dan MA Muhammadiyah 2 Banyutengah.

Acara tersebut dihadiri jajaran pimpinan sekolah, dewan guru, wali murid, serta para siswa. Bagi para lulusan, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya satu tahap pendidikan sekaligus awal perjalanan baru untuk meraih cita-cita.

Sejak awal kegiatan, suasana hangat terasa di tengah para hadirin. Para orang tua tampak bangga menyaksikan putra-putrinya menyelesaikan pendidikan. Sementara itu, para siswa terlihat bahagia sekaligus haru karena harus meninggalkan kebersamaan dengan guru dan sahabat mereka.

Puncak acara diisi tausiyah inspiratif oleh Isa Iskandar, Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Timur. Ia mengajak para siswa memandang masa depan dengan optimisme, semangat juang, dan keyakinan yang kuat.

Isa menyampaikan bahwa kesuksesan tidak hanya menjadi milik anak yang lahir dari keluarga kaya atau memiliki fasilitas lengkap. Menurutnya, kesuksesan dapat diraih siapa pun yang memiliki tekad kuat, kemauan belajar, dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.

Untuk memperkuat pesan itu, Isa menghadirkan sejumlah kisah inspiratif dari tokoh dunia maupun tokoh yang lahir dari kehidupan sederhana.

Ia mengisahkan Adam Khoo, tokoh sukses asal Singapura yang saat kecil pernah dianggap kurang berprestasi. Namun, kerja keras, disiplin, dan kemauan untuk terus berkembang mampu mengubah hidupnya hingga menjadi motivator dan pengusaha yang dikenal luas.

Isa juga menceritakan kisah Reni, seorang mahasiswi dari keluarga sederhana. Dalam perjuangannya menempuh pendidikan tinggi, Reni harus berangkat kuliah menggunakan becak setiap hari. Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya berhenti belajar.

Dengan ketekunan dan semangat yang besar, Reni akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Kisah itu menjadi contoh bahwa mimpi besar tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga.

Kisah lain datang dari perjalanan hidup Prof. Sugimin. Saat kecil, ia pernah menjadi penggembala kambing di kampungnya. Namun, kesungguhan dalam menuntut ilmu, kerja keras, dan keyakinan terhadap cita-cita membawanya mencapai puncak pendidikan hingga menjadi profesor.

Isa juga mengangkat keteladanan sahabat Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf. Ia dikenal sebagai pedagang sukses yang tetap rendah hati dan dermawan.

Dari sosok Abdurrahman bin Auf, para siswa diajak memahami bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari harta atau jabatan. Keberhasilan juga harus dilihat dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Selain itu, Isa menyampaikan kisah Thomas Alva Edison, ilmuwan besar yang dikenal sebagai penemu lampu pijar. Edison mengalami ribuan kegagalan dalam proses percobaannya, tetapi ia tidak pernah berhenti berusaha.

Kisah Edison menjadi pengingat bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu mudah. Namun, jalan itu tetap terbuka bagi mereka yang mau belajar dari kegagalan dan terus berjuang.

Dari berbagai kisah tersebut, Isa menegaskan tiga kekuatan besar yang menjadi fondasi keberhasilan seorang anak. Pertama, kesungguhan dalam berjuang. Kedua, pengorbanan ayah yang bekerja demi masa depan anak-anaknya. Ketiga, doa dan kelembutan ibu yang selalu mengiringi langkah putra-putrinya.

Ia mengajak para siswa tidak melupakan jasa kedua orang tua. Sebab, di balik keberhasilan seorang anak, selalu ada peluh ayah dan doa ibu yang tidak pernah berhenti.

Suasana acara semakin hening ketika Isa mengingatkan bahwa tidak semua perjuangan orang tua terlihat oleh anak-anaknya. Banyak ayah menahan lelah demi biaya pendidikan. Banyak ibu menyembunyikan kesedihan agar anak-anaknya tetap bisa belajar dengan tenang.

Karena itu, keberhasilan yang diraih para lulusan bukan hanya hasil perjuangan pribadi. Keberhasilan tersebut juga lahir dari dukungan orang tua, bimbingan guru, dan lingkungan pendidikan yang membentuk karakter mereka.

Menjelang akhir tausiyah, Isa menyampaikan lima pesan penting bagi para lulusan. Pertama, milikilah cita-cita yang tinggi. Setiap keberhasilan selalu diawali dari keberanian untuk bermimpi besar.

Kedua, teruslah bersekolah dan menuntut ilmu. Pendidikan menjadi jalan untuk membuka kesempatan dan mengangkat derajat manusia.

Ketiga, kuasailah keahlian. Di era yang terus berkembang, generasi muda harus memiliki kompetensi dan keterampilan sebagai bekal kehidupan.

Keempat, jagalah akhlak. Ilmu yang tinggi akan kehilangan makna apabila tidak disertai akhlak mulia.

Kelima, jangan pernah meninggalkan doa. Setelah semua ikhtiar dilakukan, doa menjadi kekuatan yang menghubungkan manusia dengan pertolongan Allah SWT.

Pesan tersebut memberi kesan mendalam bagi para hadirin. Banyak wali murid tampak terharu, sementara para siswa menyimak nasihat itu dengan penuh perhatian.

Acara pelepasan ini menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak hanya menekankan pencapaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan Muhammadiyah juga membentuk generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, para lulusan Perguruan Muhammadiyah Banyutengah resmi memasuki babak baru. Mereka membawa bekal ilmu, pengalaman, nilai-nilai akhlak, serta doa dari orang tua dan guru.

Hari itu bukan akhir perjalanan. Bagi para lulusan, pelepasan ini menjadi awal untuk menapaki mimpi yang lebih besar, mengukir prestasi, dan memberi manfaat bagi agama, bangsa, serta Persyarikatan Muhammadiyah.

Editor