GIRIMU.COM — Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Gresik menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi (PAP) dengan tema “Menyongsong Ramadan dengan Hati yang Bersih”, Ahad (15/2/2026). Menghadirkan KH Abdul Hamid Muhannan, LC sebagai penceramah, PAP di Masjid At Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri Kebomas itu diikuti ratusan warga Muhammadiyah di Kecamatan Kebomas dan sekitar.
Dalam paparan kajiannya, dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan itu mengungkapkan, bahwa hidup tak terlepas dari nikmat Allah, baik itu nikmat yang diberikan Allah sejak dalam kandungan (fitri) maupun nikmat yang Allah berikan setelah manusia itu lahir (azali). Ustadz Muhannan menyampaikan, hati yang selalu condong kepada hidayah Allah, yakni yang selalu bersemangat beribadah dan berbuat baik, tidak pernah suudzon kepada Allah dan manusia lainnya dan perbuatannya selalu dipenuhi takwa.
“Saat memasuki bulan penuh ampunan ini, kita semestinya bersyukur karena diberi kesempatan menjadi orang baik,” ungkapnya
Saat di penghujung Ramadan 1446 H lalu, tambah Ustadz Muhannan, umat Muslim meminta ampunan kepada Allah dan bermohon dimasukkan ke surganya Allah. Tapi, apakah pasca-Ramadan itu tidak pernah dosa dan kesalahan yang diperbuat, baik kepada Allah maupun ke sesama manusia? Pertanyaan itu semestinya diajukan sebagai bekal penyemangat beribadah di bulan yang penuh ampunan ini.
“Tapi menjadi orang baik itu tidak mudah. Pengakuan, janji kita saat melepas Ramadan 1446 H, dari Syawal hingga masuk Ramadan tahun ini sudah berapa banyak dosa kesalahan dan khilaf yang telah kita perbuat? Berganti waktu, hari, pekan, tahun, sudah semestinya kita bertambah baik dan lebih positif,” pesannya.
Maka, Ustadz Muhannan memberikan tips agar mampu menjadi manusia yang hidup lebih baik dari hari ke hari. Pertama, jaddid hayyata (perbaiki hidup). Kedua, jaddid ibadah (perbaiki ibadah) dan ketiga, jaddid fil akhlak (perbaiki perbuatan).
Ia kemudian membagi berbagai tipe manusia dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Ada yang menyambutnya dengan penuh suka cita karena Allah, ada pula yang dengan perasaaan senang, namun masih menyisakan sejumlah dosa dan salah. Di sisi lain, ada juga manusia yang justru Ramadan datang, perasaannya senang tapi susah hingga yang susah sama sekali.
Agar dapat menjadikan hati suka gembira, modal utamanya adalah dengan menata hati. Ustadz Muhannan mengatakan, at taqwa haa huna (takwa itu di hati), karena seperti diketahui, ada hati yang bersih, hati yang sakit, bahkan hati yang berpenyakit.
Hati yang sehat, katanya, adalah hati yang bersih, wajah pemiliknya selalu bersinar, menyenangkan saat berbicara, tidak menggunjingkan orang lain, tidak memfitnah dan mengadu domba. Saat hati tertutup, harus dibuka agar cahaya dan sinar kebenaran masuk dan menyinari. Saat hati kotor, bersihkan dari dosa, salah dan khilaf. Saat hati tumpul, asahlah, karena hati yang tajam akan mampu membedakan yang haq dan yang bathil.
Ditambahkan, hati biasa disifati dengan hidup dan mati. Artinya, ada hati yang hidup dan ada hati yang mati. Di antara tiga macam hati, ada hati yang sehat, itulah hati yang bersih (selamat). Seseorang akan selamat di hari kiamat kelak jika menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari segala macam bentuk syahwat yang menyalahi perintah Allah atau menerjang larangan-Nya. Hati itu pun selamat dari berbagai subhat yang menyimpang. Intinya, hati yang bersih adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun. Bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, yaitu irodah (keinginan), cinta, tawakal, inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya ditujukan pada Allah semata
“Semoga dalam menyambut dan memasuki Ramadan tahun ini, kita dapat berjumpa Ramadan dalam keadaan hati yang bersih dan selamat, yang selamat dari penyimpangan akidah dan kesyirikan,” pungkasnya. (*)
