Pengajian Ahad Pagi PDM Gresik: Teladan Besar dari Kisah Bapak Para Nabi, Ibrahim 

Reporter: Mahfudz Efendi

Keislaman31 Dilihat

Girimu.com — Nabi Ibrahim AS telah memberikan teladan luar biasa berupa besarnya pengorbanan jiwa raga dan hartanya untuk dakwah. Hal itu terungkap dalam Pengajian Ahad Pagi (PAP) yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, Ahad (7/6/2026), yang menghadirkan Ahmad Masduqi Lc, MA sebagai penceramah.

Pada kajian pada 21 Zulhijah 1447 H yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik Jl. Permata No. 07 Graha Bunder Asri (GBA) Kebomas Gresik itu, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) itu mengawali uraiannya dengan kisah teladan dari Nabi Ibrahim AS. Dalam Al-Quran, papar Ustadz Ahmad, nama Nabi Ibrahim diabadikan menjadi satu surat tersendiri. Selain itu, namanya juga disebut sebanyak 69 kali di 24 surat dalam Al-Quran. Julukan Bapak Para Nabi pun tersemat pada namanya. Sebab, dari 25 nabi dalam Islam, 19 di antaranya adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Mudir Ma’had Umar bin Al Khattab Surabaya itu mengungkapkan keteladanan pertama dari Ibrahim AS adalah semangat tinggi untuk mencari kebenaran.

“Meski Nabi Ibrahim seorang anak yang dibesarkan oleh ayah yang bekerja sebagai pematung berhala, namun makin dewasa ia tidak percaya begitu saja pada patung-patung yang disembah masyarakat saat itu,” ujarnya

Ustadz Ahmad menambahkan, dengan semangat dan rasa ingin tahu Nabi Ibrahim yang tinggi, ia belajar dan berpikir tentang ketuhanan hingga akhirnya menemukan Allah SWT sebagai Tuhan yang sebenar-benarnya. Ibrahim AS haus akan kebenaran dan tidak pernah menyerah saat mencari mana yang ia anggap sebagai kebenaran.

Teladan kedua dari Nabiyullah Ibrahim, papar Ustadz Ahmad adalah Ibrahim AS menggunakan rasionalitas dalam mencari kebenaran.

“Ibrahim adalah sosok yang rasional dalam mencari kebenaran. Saat mencari dan mengenal Tuhan, ia sempat bertanya-tanya apakah Tuhannya adalah matahari, bulan, atau alam semesta ini? Ia tidak meyakini berhala-berhala yang dibuat ayahnya sebagai Tuhan. Karena, baginya hal tersebut tidak masuk akal. Benda mati tidak bisa berbuat apa pun dan tidak bisa menguasai dirinya,” jelasnya.

Ustadz Ahmad melanjutkan, saat Ibrahim mulai memahami hakikat dari Tuhan dan pencipta, Allah SWT pun memberikan petunjuk, bahwa Tuhan adalah Allah SWT. Tiada lain yang menciptakan alam semesta dan tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh manusia, karena Tuhan memiliki sifat imaterial yang berbeda dengan manusia.

Teladan ketiga Nabiyullah Ibrahim adalah sifat sabar dalam menghadapi ujian. Ustadz Ahmad menuturkan, berkali-kali Ibrahim diuji oleh Allah, mulai dari ayahnya yang tidak mau ikut meyakini Allah SWT, sulit mendapat keturunan, dan yang lainnya. Namun, kesabarannya itu membuat Nabi Ibrahim dikaruniai dua orang istri, yaitu Siti Hajar dan Siti Sarah, yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan salih dan menjadi penerusnya dalam menyebarkan kebenaran.

Teladan keempat dari Ibrahim AS adalah mengabdikan diri di jalan kebenaran.

Kiai kelahiran Lamongan ini mengungkapkan, setelah mengetahui kebenaran, Ibrahim tak lantas berdiam diri. Ia mendakwahkan kepada lingkungannya, mengajak masyarakat untuk ikut serta bersamanya dalam jalan yang lurus. Ia juga menjadi pemimpin negeri yang adil dan berusaha untuk membawa negerinya menjadi adil dan makmur. Hal ini seperti doa Nabi Ibrahim yang terbadikan dalam Al-Quran:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, ‘Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al Baqarah: 126)

Dan terakhir teladan dari Ibrahim AS ialah menempatkan Allah SWT di atas segalanya. Ustadz Ahmad mengatakan, keyakinan Nabiyullah Ibrahim kepada Allah SWT membuat Ibrahim menjadikan Dia satu-satunya tujuan dalam hidup. Nabi Ibrahim juga membuktikan, bahwa ia adalah hamba yang takwa dan teguh beriman hanya kepada Allah SWT. Ismail yang menjadi putra kesayangan Ibrahim pun rela dikurbankan demi menaati perintah Allah SWT. Begitu pula Ismail.

Nabi Ibrahim dan Ismail adalah bukti ketakwaan paripurna. Kecintaan pada keluarga, manusia, tidak boleh mengalahkan kecintaan terhadap Allah SWT. Tentunya hal ini sangat berat dan belum tentu semua manusia bisa menghadapinya. Namun, mereka berdua pantas menjadi seorang nabi dan namanya diabadikan Al-Quran karena ketakwaan yang kuat.

Di zaman yang serba cepat dan instan seperti sekarang, keteladanan yang baik sulit sekali ditemukan. Makin sedikit tokoh yang bisa memberikan teladan baik bagi generasi masa kini. Namun, sebagai umat Muslim, kita memiliki banyak tokoh yang bisa diteladani, khususnya nabi-nabi kita. Nabi Ibrahim AS adalah salah satu yang terbaik. Kisah Nabi Ibrahim bukan hanya sekadar sejarah, tetapi juga buku yang bisa dipelajari dan masih sangat relate dengan kondisi sekarang. Hidupnya adalah tentang iman, ketaatan, pengorbanan, dan cara menjadi orang tua yang luar biasa. (*)

 

Editor