GIRIMU.COM — Untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusif, SD Al Islam Cerme, Gresik menggelar Safari Visitasi Inklusi dengan menghadirkan pakar dari Lembaga UPT IRC (Information and Resource Center), Reynita Yuniarti Ningtiyas, sebagai narasumber. Kegatan yang berlangsung di aula SD Al Islam Cerme ini, selain diikuti oleh seluruh guru sekolah ini, juga melibatkan para guru lintas jenjang pendidikan di jajaran Majelis Dikdasmen & PNF Pimpinan Cabang Muhamamdiyah (PCM) Cerme.
Adapun pesertanya, selain dewan guru SD Al Islam Cerme, juga dari perwakilan dari TK ABA 26 & TK ABA 40, SMP Muhammadiyah 7, SMA Muhammadiyah 8, dan SMK Muhammadiyah 3.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Kepala SD Al Islam Cerme, Cicik Indrawati. Ia menekankan pentingnya pemahaman guru terhadap kondisi unik yang melekat pada setiap siswa.
Sementara Reynita Yuniarti Ningtiyas dalam paparannya menjelaskan, bahwa disabilitas terbagi menjadi dua, yaitu temporer (bisa membaik) dan permanen (menetap).
“Identifikasi awal adalah harga mati. Misalnya, anak dengan disleksia. Mereka sangat membutuhkan media tulisan bergaris untuk membantu mempermudah proses belajar mereka,” jelas Reynita.
Praktisi pendidikan, Anjar, menambahkan, diagnosis medis bukanlah sekadar label, melainkan peta bagi guru untuk menentukan strategi akademik yang tepat, terutama di usia SD. Dalam event ini, para peserta diajari teknik pengisian matriks perkembangan menggunakan simbol khusus, yakni:
* Plus (+): untuk kemampuan yang sudah dikuasai.
* Minus (-): untuk kemampuan yang belum muncul.
* Bintang (*): untuk kemampuan yang belum konsisten.
Bagi siswa dengan indikasi ADHD atau ASD (autisme), Reynita menyarankan agar guru tidak memberikan beban intervensi yang terlalu banyak dalam waktu bersamaan. Jika hasil diagnosis menunjukkan banyak poin minus, guru cukup fokus pada tiga poin prioritas selama minimal tiga bulan.
Khusus untuk penanganan anak autis di kelas, ditekankan strategi instruksi yang efektif. Penanganannya, lanjut Reynita, harus fokus pada satu perbuatan. Jangan menggunakan terlalu banyak kata agar anak tidak bingung.
Sesi diskusi menjadi hangat saat salah satu peserta, Siti Fatimah, menanyakan solusi jika orang tua menolak (denial) kondisi anaknya. Solusi yang ditawarkan narasumber adalah dengan mengajak orang tua mengisi instrumen identifikasi secara bersama-sama. Namun, jika orang tua tetap menolak, sekolah dipersilakan memberikan pembelajaran reguler sesuai keinginan orang tua sebagai bentuk pembuktian objektif, sembari terus menyarankan konsultasi ke dokter tumbuh kembang sebagai otoritas resmi.
Pertanyaan dari Nur Hidayati (TK ABA 26) mengenai trik menangani speech delay menutup diskusi dengan kesimpulan penting: keberhasilan pendidikan inklusi bergantung pada komitmen antara sekolah dan orang tua. Tanpa keselarasan program di sekolah dan di rumah, intervensi tidak akan berjalan maksimal. (*)
Kontributor: Mardiyana Zulifah






