Perpisahan Siswa SD Almadany Gresik Diwarnai Aksi Nobar Film Children Of Heaven

Reporter: Mahfudz Efendi

Kabar2241 Dilihat
banner 468x60
Girimu.com – Paguyuban wali murid kelas VI SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, menggelar acara perpisahan mandiri bertajuk Farewell Ceremony for 6th Grade Students di Icon Mall Gresik, Rabu (17/6/2026). Acara yang dikemas melalui kegiatan makan bersama (mabar) dan nonton bareng (nobar) ini diikuti oleh 52 siswa.
Agenda swadaya ini bertujuan memberikan kesan mendalam sekaligus merayakan kebersamaan antarsiswa sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Kegiatan ini berlangsung sepekan setelah prosesi pelepasan resmi dari pihak sekolah pada 9 Juni 2026 lalu.
Acara ini diisiasi oleh paguyuban kelas VI Al-Hayruni, gabungan dari kelas 6 Ibnu Al-Haytham dan 6 Abu Rayhan Al-Biruni. Selain puluhan siswa, agenda ini dihadiri oleh 25 wali murid serta dua guru kelas VI, yakni Mahfudz Efendi dan Nur Sini.
Rangkaian kegiatan bermula dengan makan siang bersama di restoran cepat saji Richeese Factory Icon Mall Gresik. Setelah itu, rombongan melanjutkan agenda utama dengan menonton film bersama di CGV Cinemas.
Film pilihan paguyuban jatuh pada Children Of Heaven, karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo yang tayang di bioskop sejak 27 Mei 2026. Film berdurasi 97 menit ini merupakan adaptasi dari film legendaris asal Iran karya Majid Majidi (1997), yang mengisahkan cinta dan pengorbanan dalam keterbatasan keluarga.
Ketua Paguyuban Kelas VI Ibnu Al-Haytham, Nur Hayati, mengungkapkan esensi utama dari penyelenggaraan kegiatan ini. Pihaknya ingin para siswa merefleksikan kembali perjalanan panjang mereka selama menempuh pendidikan dasar.
“Kegiatan hari ini kami ingin mengajak anak-anak mengenang proses selama 6 tahun, sebagai bekal ke jenjang selanjutnya,” ujar Nur Hayati.
Salah satu siswa, Surya Gilang, menyatakan kegembiraannya atas keseruan selama menikmati jalannya pemutaran film tersebut. Atmosfer bioskop menjadi sangat hidup saat seluruh siswa larut dalam alur cerita.
“Sangat berkesan, studio bioskop seakan bergetar saat semua teriak ikut mendukung Ali juara lomba lari maraton,” kata Surya.
Alur cerita film berpusat pada kehidupan tokoh Ali dan adiknya, Zahra, di pinggiran Kota Semarang pada tahun 1988. Konflik bermula ketika Ali tidak sengaja menghilangkan satu-satunya sepatu milik Zahra.
Karena kondisi ekonomi ayah mereka yang bekerja serabutan dan terlilit utang, Ali melarang adiknya mengadu. Sebagai solusinya, kedua kakak beradik ini terpaksa bertukar pasang sepatu butut setiap hari demi bisa tetap bersekolah.
Meskipun menghadapi kerumitan hingga sering terlambat ke sekolah, Ali akhirnya menemukan jalan keluar. Ia berjuang keras mengikuti lomba lari maraton demi mendapatkan hadiah sepatu baru untuk sang adik. (*)

Editor