Pola Asuh Orang Tua pada Era Digital Dibedah dalam Seminar Parenting Ikwam SD Almadany

banner 468x60

GIRIMU.COM — Orang tua tidak bisa begitu saja terlepas dalam masalah keluarga, utamanya permasalahan seputar anak.

Hal itu disampaikan Dr Idha Rahayuningsih, SPsi, MPsi, dalam seminar parenting Ikatan Wali murid (Ikwam) SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Sabtu (29/11/2025).

Perempuan berusia 48 tahun ini mengupas peluang dan tantangan untuk optimalisasi perkembangan anak. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ini juga  menyampaikan perkembangan psikologi anak usia 7-12 tahun.

“Di usia ini terjadi transisi dari berpikir konkret ke logis,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, pada tahap ini anak mulai dapat memecahkan masalah yang bersifat konkret, memahami pola logis hubungan sebab-akibat, konsep jumlah, jarak, waktu, dan mampu mengklasifikasikan objek.

Ia menambahkan, dalam pengembangan empati dan moral, anak mampu memahami sudut pandang orang lain. pandangn orang lain (perspective-taking) dan mengembangkan rasa empati. Selanjutnya, pada usia ini keterampilan motorik kasar (menari, melompat, olah raga) dan motorik halus (menulis, menggambar detail) semakin sempurna.

Selain itu, wanita yang tinggal di Perum Graha Kembangan Asri Kebomas, Gresik ini, menambahkan, anak mulai mengalami peningkatan kosakata dan pemahaman bahasa, dimana semakin kosakata bertambah, mereka mulai mengerti lelucon dan permainan kata, mampu menyusun kalimat seperti orang dewasa, dan mampu menceritakan pengalaman secara rinci.

Pada usia ini, sambung Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik 2017-2019 ini, anak mulai membentuk identitas dan mengembangkan rasa kompetensi, terutama di lingkungan sekolah.

Dijelaskan, era digital merupakan masa atau periode waktu di mana kehidupan manusia didominasi oleh teknologi digital, terutama komputer, internet, dan perangkat komunikasi, seperti smartphone dan gawai.

Ia menguraikan ciri-ciri utama era digital, di antaranya adalah dominasi teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Di antaranya, informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah melalui internet, komunikasi menjadi lebih cepat, mudah, dan sering terjadi melalui platform digital dan media sosial, terjadi transformasi bisnis dan industri dengan munculnya e-commerco, periklanan digital.

Direktur Direktorat Sumber Daya Insani Universitas Muhammadiyah Gresik 2025 ini juga mengupas perubahan gaya belajar anak di era digital.

“Anak lebih mudah memahami informasi yang disajikan dalam bentuk gambar, animasi, video, dan aplikasi interaktif (visual-interaktif) dibandingkan teks panjang,” paparnya.

Di era digital ini, ia menyebutkan anak cenderung menyukai belajar dengan mencoba langsung (learning by doing) menggunakan aplikasi edukasi, game berbasis pembelajaran, atau media simulasi. Mereka lebih tertarik bereksperimen melalui klik, sentuhan layar, dan interaksi digital dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru/orang tua.

Ia menambahkan, belajar anak terbiasa menerima informasi dalam potongan singkat, lebih tertarik pada pembelajaran yang cepat, menyenangkan, dan variatif. Selain itu, juga melakukan multitasking, misalnya belajar sambil menonton video atau mendengarkan musik.

Perubahan gaya belajar anak di era digital, katanya, meski cenderung individual saat menggunakan gawai, anak juga bisa menunjukkan gaya belajar kolaboratif melalui platform digital, misalnya belajar bersama teman lewat video call atau aplikasi edukasi daring.

Meskipun demikian, ia mewanti-wanti anak tetap butuh pendampingan literasi digital. Anak di era digital cepat menguasai teknologi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan kritis dalam memilah informasi.

Ia menyampaikan, perubahan gaya bermain anak di era digital, anak cenderung berkurang aktivitas fisiknya. Pola bermain digital menyebabkan anak lebih banyak duduk dan terpapar layar dalam waktu lama. Hal ini berisiko menurunkan aktivitas motorik kasar, mengurangi kreativitas bermain, serta berpengaruh terhadap kesehatan fisik (obesitas, gangguan postur) dan psikologis (kecanduan layar).

Ia juga menyoroti anak mengalami perubahan pola sosial. Jika permainan tradisional menekankan interaksi langsung dengan teman sebaya, permainan digital lebih sering dilakukan secara individual atau secara daring dengan orang lain yang tidak selalu dikenal anak. Hal ini dapat mengurangi keterampilan sosial yang diperoleh melalui negosiasi, berbagi, dan kerja sama dalam permainan nyata.

“Di sinilah peran kita sebagai orang tua untuk memberikan pengasuhan yang sesuai zaman,” ujarnya.

Dia menyampaikan Digital Parenting (Pengasuhan Digital) adalah pendekatan pengasuhan anak yang dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan dan pengaruh teknologi digital dalam. kehidupan sehari-hari anak.

Tujuan utama penerapan Digital Parenting ini menurutnya sangat diperlukan, tujuannya di antaraya:
1. Melindungi anak dari konten negatif (kekerasan, pornografi, cyberbullying).
2. Membentuk kebiasaan digital yang sehat sejak dini, termasuk membatasi durasi penggunaan gawai (screen time).
3. Mengajarkan tanggung jawab dan etika dalam berinteraksi di dunia digital.
4. Meningkatkan literasi digital anak (kemampuan memahami dan menggunakan teknologi).
5. Menjaga kualitas interaksi langsung antara orang tua dan anak.

Wakil Sekretaris PD Aisyiyah Gresik 2023-2027 ini lalu menyampaikan strategi digital parenting:
1. Pendampingan Aktif.
Temani anak saat menggunakan gadget/internet. Diskusikan konten yang dilihat anak.

2. Aturan Screen Time.
Sesuaikan dengan usia (misalnya WHO menyarankan anak kurang dari 2 tahun sebaiknya tidak diberi screen time. Dan pada anak usia dini maksimal 1 jam per hari.

3. Role Model Digital.
Orang tua memberi teladan tidak kecanduan gadget, menggunakan media sosial dengan bijak.

4. Konten Positif.
Aplikasi edukatif, video pembelajaran, game interaktif yang sesuai usia. Hindari konten kekerasan atau tidak sesuai usia.

5. Keseimbangan Aktivitas.
Dorong anak untuk tetap bermain di luar, olah raga, membaca, bersosialisasi.

6. Literasi & Etika Digital.
Ajarkan anak tentang privasi, keamanan data, etika berkomunikasi online, serta berpikir kritis terhadap informasi

Dosen dengan 24 publikasi ilmiah ini mengungkapkan 24 keuntungan digital parenting. Di antaranya, anak lebih terlindungi dari dampak negatif media digital, anak terbiasa menggunakan teknologi untuk hal positif, hubungan orang tua-anak lebih dekat karena ada interaksi digital bersama, anak memiliki keterampilan literasi digital sejak dini.

Namun dia mengungkapkan tantangan digital parenting:
– Orang tua juga harus melek digital.
– Butuh konsistensi dalam aturan screen time.
– Risiko anak terpapar konten negatif tetap ada.
– Membutuhkan komunikasi yang intensif antara orang tua dan anak.

Idha kemudian mengungkapkan cara menyeimbangkan digital dan fisik. Perubahan ini menegaskan, bahwa orang tua dan guru perlu mengadopsi pendekatan hybrid dalam mendampingi anak 7-12 tahun. Teknologi tidak bisa dihindari, tetapi harus diintegrasikan secara bijak.

Selain itu, orang tua dan guru perlu menyeimbangkan antara digital dan fisik. Di antaranya  adanya pengaturan waktu terstruktur:
1. Menerapkan aturan atau kesepakatan dengan anak untuk melakukan kegiatan “Fisik dahulu, gadget kemudian”.
Contoh Praktisnya adalah anak harus bermain di taman selama 45 menit atau bersepeda sebelum mereka boleh menyentuh tablet untuk bermain game selama 1 jam.
2. Menggunakan checklist harian atau mingguan
Contoh praktisnya adalah membuat checklist visual yang mencantumkan tugas harian wajib, seperti PR selesai, tugas rumah, membaca buku non-digital, dan aktivitas luar ruangan/fisik 1 jam. Gawai hanya bisa diakses jika semua item fisik dan kewajiban sudah dicentang.
3. Menentukan “zona merah” waktu layar.
Contoh praktisnya adalah anak tidak diizinkan membuka gadget di pagi hari (setelah bangun tidur) dan 1 jam sebelum tidur di malam hari.

Cara lain dalam menyeimbangkan antara digital dan fisik adalah dengan membangun keterlibatan fisik dan digital yang positif:
1. Mewajibkan Berkegiatan di Luar Ruangan.
Memanfaatkan waktu bermain di luar ruangan atau olahraga yang disukai anak, seperti sepak bola, renang, karate, dan lainnya. Selain itu, kegiatan fisik tersebut dapat dilakukan bersama keluarga.
2. Integrasikan Gerakan ke Dalam Pembelajaran Digital.
Jika anak harus menggunakan tablet untuk belajar, dorong mereka untuk belajar sambil bergerak. Misalnya, menggunakan Youtube atau aplikasi video lainnya untuk belajar menari, olahraga, dan lainnya.
3. Perkenalkan Hobi Non-Digital.
Dorong anak untuk mengembangkan minat non-digital, seperti menggambar, melukis, merajut, membuat kerajinan tangan, memasak, bermain alat music, dan lainnya. Hobi ini mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar serta kreativitas yang tidak distimulasi oleh gawai.

Selain itu, cara menyeimbangkan antara digital dan fisik adalah adanya komunikasi dan teladan orang tua:
1. Orang Tua Menjelaskan Pentingnya Aktivitas Fisik.
Bicara terbuka kepada anak tentang mengapa aktivitas fisik itu penting. Misalnya menghubungkan aktivitas fisik dengan kinerja kognitif, “Setelah berlari, otakmu jadi segar, dan kamu bisa fokus belajar di game.”
2. Menjadi Role Model
Anak-anak 7-12 tahun sangat memperhatikan orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan contoh kepada anak. Misalnya ketika anak mengajak bermain, orang tua menyimpan gadgetnya dan fokus bermain bersama anak.

Menciptakan keseimbangan ini membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Namun, hasilnya adalah anak yang sehat secara fisik, cerdas secara digital, dan memiliki keterampilan sosial yang baik agar anak dapat menikmati kecanggihan teknologi namun tanpa melupakan aktivitas fisiknya. (*)

Kontributor: Mahfudz Efendi

Author