Refleksi Akhir Tahun Kader Muhammadiyah: Ahmad Labib Ingatkan Kemurnian Gerakan, Dubes Hajriyanto Tekankan Keunggulan Muhammadiyah di Mata Dunia

banner 468x60

GIRIMU.COM — Muhammadiyah kembali dilabeli sebagai salah satu kekuatan strategis bangsa yang memiliki peran penting, tidak hanya dalam konteks keumatan dan kebangsaan, tetapi juga dalam pandangan dunia internasional.

Penegasan ini mengemuka dalam Refleksi dan Dialog Kebangsaan yang menghadirkan Ahmad Labib, anggota DPR RI Komisi VI, bersama pimpinan dan kader Pemuda Muhammadiyah Gresik dan Lamongan, serta masyarakat Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Rabu (25/12/2025).

Dalam forum tersebut, Ahmad Labib menyampaikan harapan besar agar Muhammadiyah —khususnya kader mudanya— tetap menjaga kemurnian gerakan dan tidak terjebak dalam praktik politik pragmatis yang berpotensi merusak marwah persyarikatan.

“Pemuda Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai penjaga moral dan stabilitas sosial. Jangan sampai suksesi kepemimpinan di Muhammadiyah meniru praktik politik praktis. Jika jabatan diperebutkan, itu tanda bahaya bagi organisasi,” tegas Labib.

Ia menekankan, bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah bukanlah gerakan politik, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang berorientasi pada pengabdian umat. Karena itu, menurutnya, penting untuk melakukan pemetaan peran kader secara jernih dan dewasa.

“Harus dipisahkan secara tegas: mana kader politik, kader organisatoris, kader mubaligh, kader intelektual, dan kader profesional. Semua penting, tapi jangan dicampuradukkan hingga merusak ruh gerakan,” ujarnya.

Labib juga mengingatkan, bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada integritas jamaahnya. Ia mencontohkan sejarah masa Orde Baru, ketika Muhammadiyah dipercaya negara, karena kualitas, moralitas, dan kemandiriannya, sehingga banyak kader dipercaya menduduki posisi strategis untuk membantu pembangunan nasional.

Gerakan Langka di Mata Dunia
Pandangan Ahmad Labib tersebut sejalan dengan perspektif global yang disampaikan Drs Hajriyanto Y. Thohari, MA, Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon yang hadir dalam pertemuan tersebut. Hajriyanto menilai, bahwa Muhammadiyah merupakan fenomena yang hampir tidak ditemukan di luar negeri.

“Di banyak negara, peran pendidikan, kesehatan, dan sosial dijalankan oleh institusi yang berbeda. Muhammadiyah mampu merangkum semuanya dalam satu gerakan yang hidup dan berkelanjutan. Ini sangat khas Indonesia dan langka di mata dunia,” ungkap Hajriyanto.

Menurutnya, Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi gerakan sosial yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Sekolah, rumah sakit, universitas, hingga gerakan kemanusiaan dijalankan secara konsisten dengan spirit keikhlasan dan kemandirian.

Di tengah meningkatnya krisis kepercayaan terhadap institusi global dan menguatnya ekstremisme, Hajriyanto menilai model Muhammadiyah justru semakin relevan.

“Islam yang rasional, berkemajuan, dan berpihak pada kemanusiaan seperti yang dipraktikkan Muhammadiyah adalah contoh nyata. Ini bukan sekadar wacana, tetapi praktik yang sesungguhnya dibutuhkan dunia,” jelasnya.

Tantangan Kader Muda Muhammadiyah
Baik Labib maupun Hajriyanto sama-sama menegaskan, bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan bukan soal eksistensi, melainkan bagaimana menjaga relevansi, kemandirian, dan integritas gerakan di tengah perubahan zaman.

Apa yang selama ini dianggap biasa oleh kader di tingkat lokal, sejatinya merupakan aset besar dan langka dalam perspektif global. Karena itu, kader muda Muhammadiyah didorong untuk terus memperkuat kapasitas diri, kemandirian ekonomi, serta menjaga jarak sehat dengan kepentingan politik praktis.

Menutup refleksinya, Labib menitipkan pesan agar kader Muhammadiyah terus menjaga kedaulatan gerakan.

“Dorong kader untuk kreatif dan mandiri. Jika jamaah kuat secara ekonomi, maka Muhammadiyah akan tetap berdaulat, bermartabat, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan kemanusiaan,” pungkasnya. (*)

Kontributor: Falaq Fazarudhin

Author