Satu Jam Penuh Makna, Serunya Membuat Makrame dan Gasing di SD Mudri

GIRIMU.COM — Suasana kelas 4 Abu Bakar sangat berbeda selama satu jam berjalan. Tangan-tangan kecil sibuk merangkai simpul tali membuat makrame dan memutar gasing penuh antusias. Dalam kegiatan Guest Teacher yang diadakan SD Muhammadiyah 1 Driyorejo (SD Mudri) pada Jumat, (23/1/2026) wali murid hadir langsung ke kelas untuk memberikan pengalaman dan keterampilan yang telah mereka kuasai.

Hal ini menjadikan proses belajar terasa lebih dekat, bermakna, dan menggembirakan. Kegiatan singkat ini tak hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga mempererat hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua.

Pada kesempatan kali ini, kelas 4 Abu Bakar mendatangkan salah satu wali muridnya, yakni Cipto Laili Muniroh, yang lebih dikenal dengan sapaan Bunda Lely. Ia merupakan salah satu pemerhati lingkungan dan sering aktif dalam kegiatan kelurahan, khususnya bagian keterampilan. Perempuan ini juga sering memenuhi panggilan Kelurahan Petiken hingga Kecamatan Driyorejo untuk memberikan pelatihan tentang keterampilan dan pengelolaan limbah sampah, khususnya kepada paguyuban Bank Sampah. Hari-harinya juga dipenuhi dengan tugas kantor sebagai accounting di perusahaan kontraktor.

Dengan membawa semangat untuk memberikan edukasi pada siswa, serta berbekal pengalaman itulah, ia berkenan meluangkan waktunya untuk menjadi guru tamu di tengah-tengah kesibukannya. Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, saat Bunda Lely memasuki ruang kelas dengan menenteng 2 paperbag berisi bahan yang hendak digunakan, serta hasil kerajinannya dari sampah bekas.

Ia pun membuka kelas tersebut dengan memberikan edukasi terhadap sampah. Bunda Lely berusaha mengubah pola pikir para siswa agar tidak lagi sembarangan saat membuang sampah, sebab sampah yang dibuang, bisa menimbulkan dampak ekologis bagi lingkungan sekitar. Contohnya, bencana alam banjir yang belakangan ini terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya itu, ia juga mengedukasi, bahwa barang yang sudah habis manfaatnya jika tidak diolah akan menjadi sampah. Tetapi, ketika diolah dengan baik, bisa memiliki manfaat baru. Misalnya, mainan baling-baling dari botol bekas, hingga pemanfaatan tutup botol menjadi gasing yang akan dibuat oleh para siswa.

Para siswa sangat antusias saat melihat Bunda Lely memperagakan sampah yang dimanfaatkan kembali menjadi mainan. Mata mereka penuh semangat dan semua berseru takjub saat melihat botol bekas ketika diputar tuasnya membuat baling-baling yang ada di tutup botol menjadi berputar. Begitu pula dengan gasing yang dapat berputar sempurna saat dimainkan meski hanya dari satu tutup botol.

Setelah edukasi singkat, Bunda Lely mengajarkan para siswa membuat gantungan kunci makrame. Tali yang dibawa segera dibagikan kepada seluruh siswa yang ukuran serta jumlahnya telah disesuaikan. Para siswa sibuk memperhatikan tutorial yang diberikan Bunda Lely. Jemari mereka telah lincah mengikat tali menjadi simpul kepala. Setelah tali diikat, mereka perlu mengurai benang satu-per satu, gunanya agar tidak sulit saat disisir. Setelah disisir makrame tersebut harus digunting sesuai pola agar terlihat lebih rapi. Tiga siswa yang menyelesaikan lebih dulu akan mendapat hadiah kecil dari Bunda Lely. Semua sibuk dengan talinya masing-masing, untuk berlomba menuntaskan miliknya lebih dulu.

Setelah semua siswa menyelesaikan gantungan kunci makramenya, Bunda Lely mengajak untuk membuat gasing dari tutup botol. Tutup botol yang dibawa siswa satu persatu diberi lubang, lalu pada bagian dalam tutup botolnya diberi tusuk gigi sebagai sebagai kepala dan tumpuan agar gasing dapat berputar, setelahnya bagian tutup botol yang terbuka ditutup dengan kertas berbentuk lingkaran. Meski bahan yang digunakan serta pembuatannya sederhana, tapi bisa membuat seisi kelas menjadi bergembira saat memainkannya. Setelah semuanya jadi, satu persatu menguji coba gasingnya. Seruan demi seruan kegembiraan mengisi ruang kelas 4 Abu Bakar.

“Hari ini seru sekali, yang paling aku suka bisa buat gasing dari tutup botol. Biasanya tutup botol langsung aku buang, tapi baru tau ternyata bisa dibuat menjadi gasing,” tutur Yazid Athallah Soib salah satu siswa kelas 4 Abu Bakar.

Hingga tak terasa waktu 1 jam cepat berlalu. Tiba di penghujung kegiatan, semua anak merasa senang karena telah mendapat keterampilan baru, dan membawa pulang kerajinan yang telah mereka bikin sebagai oleh-oleh yang bisa ditunjukkan kepada anggota keluarga di rumah.

Di akhir sesi dokumentasi semua anak kompak mengucapkan terima kasih kepada Bunda Lely, karena telah mau membagi ilmu serta keterampilannya. Bahkan, beberapa siswa berebut untuk salim, sembari mengiringi kepulangan Bunda Lely. (*)

Kontributor: Melan Damayanti

Author