Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadan Dibedah dalam Kajian Jelang Buka Puasa di Masjid At-Taqwa Giri

Kontributor: Mahfudz Efendi

Keislaman5 Dilihat

 

GIRIMU.COM — Perintah puasa awalnya disyariatkan setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Setelah tiba di Madinah, Rasulullah SAW aktif menjalankan puasa Asyura (10 Muharram) dan puasa ayyamul Bidh, sebelum puasa Ramadan diwajibkan.

Hal itu diungkapkan Fakhruddin Anshori, Lc, MHtn, Pengasuh di Pondok Pesantren Maskumambang Dukun,  dalam kajian menjelang buka puasa di Masjid At-Taqwa Giri, Kebomas, Gresik, Senin (23/2/2026) sore. Dikatakan, bahwa Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas RA:

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW menyaksikan umat Yahudi Madinah berpuasa Asyura. ‘Puasa apa?’ tanya Rasulullah SAW. ‘Ini (Asyura) hari baik. Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka pada hari ini,’ jawab Yahudi Madinah. Rasulullah SAW kemudian juga ikut berpuasa Asyura dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa Asyura.”

Dalam riwayat lain, lanjut Fakhruddin, diceritakanatkan tentang pertanyaan Rasulullah kepada Yahudi Madinah: “Hari apa yang kalian puasakan ini?” Mereka menjawab, “Ini hari agung di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya; dan menenggelamkan Fira’un dan pengikutnya. Kami berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur. Kami pun berpuasa pada ini hari.”

Fakhruddin mengatakan,  puasa di bulan Ramadan disyariatkan pada tahun kedua hijriyah. Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 183-185, katanya, sebagai perintah wajib puasa Ramadan. Setelah puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada sahabatnya untuk mengamalkan atau tidak mengamalkan puasa Asyura.

“Sungguh, Asyura adalah salah satu hari (milik) Allah. Siapa saja yang ingin berpuasa di dalamnya, silakan berpuasa,” kata Rasulullah SAW. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar.

Fakhruddin Anshori menambahkan, pada tahun pertama perintah wajib puasa Ramadan, para sahabat dilarang untuk mendekati istri mereka pada malam-malam puasa. Aturan tersebut, ungkapnya, dinilai berat oleh para sahabat. Al-Quran kemudian merespon keberatan dan kesulitan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan tersebut melalui Surat Al-Baqarah ayat 187 yang membolehkan mereka untuk menggauli istri pada malamnya.

Awalnya, ujar Fakhruddin, umat Islam diberikan pilihan antara mengerjakan puasa Ramadan dan fidyah sebagai dendanya jika tidak melaksanakan puasa Ramadan. Hal ini disebutkan dalam Al-Quran pada Surat Al-Baqarah ayat 183-184.

“Surat Al-Baqarah ayat 184 secara jelas memberikan pilihan kepada umat Islam yang mampu melakukan puasa untuk berpuasa atau membayar fidyah sekiranya ia memiliki beban atau kesulitan tambahan, yaitu memberikan makan kepada fakir miskin setiap harinya. Meski demikian, pilihan puasa tetap lebih baik daripada fidyah,” ujarnya.

Ia menyampaikan, prinsip pemberlakuan hukum secara bertahap merupakan manhaj Al-Qur’an. Tahapan ini yang juga dipesankan dalam Al-Quran terhadap kewajiban puasa. Puasa merupakan ibadah yang sulit, terlebih bagi masyarakat di negeri tertentu seperi Hijaz dan bagi masyarakat Muslim masa-masa awal yang umumnya fakir dan susah, sehingga butuh mengerahkan kemampuan fisik untuk mendapatkan penghasilan harian.

Fakhruddin lalu menceritakan, ketika masyarakat telah terbiasa dengan ibadah puasa, Al-Quran menghapus pilihan fidyah tersebut melalui Surat Al-Baqarah ayat 185, yang  mewajibkan puasa Ramadan bagi siapa saja yang sehat dan mampu setelah sebelumnya memberikan pilihan kepada mereka untuk berpuasa atau menggantinya dengan fidyah.

Dijelaskan, tahapan pewajiban puasa melalui tiga fase. Fase pertama, kewajiban puasa selama tiga hari dalam setiap bulan dan puasa Asyura. Fase kedua, kewajiban puasa Ramadan dengan pilihan berbuka puasa dan denda fidyah bagi mereka yang mampu secara fisik menjalankan puasa. Mereka yang ingin berpuasa dipersilakan. Yang memilih berbuka puasa, juga dipersilakan dengan pengganti membayar fidyah. Sedangkan fase ketiga, kewajiban puasa Ramadan tanpa pilihan fidyah bagi mereka yang mampu secara fisik. (*)

Author