Serunya Belajar Berpendapat dan Adu Argumen dalam Debat Siswa SD Almadany

GIRIMU.COM — SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik menekankan pentingnya belajar berpendapat dengan argumen yang kuat dalam debat. Hal ini untuk melatih berpikir kritis, komunikasi logis, dan kepercayaan diri siswa.

Metode pembelajaran debat dapat meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan ide dan mempertahankan sudut pandang secara santun menggunakan fakta serta data. Hal ini menunjukkan, bahwa debat merupakan cara efektif membentuk generasi cakap dalam menyampaikan pikiran di depan kelas.

Hal itu terlihat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang dipadukan dengan mata pelajaran Pendidikan Pancasila maupun Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan, yang berlangsung pada Kamis (22/1/2026) bagi siswa kelas VI SD Almadany. Mereka terbagi dalam enam kelompok, masing-masing terdiri atas 4-5 siswa. Dalam program ini, mereka berpraktik untuk mengasah keterampilan  menyajikan pendapat atau argumen pro dan kontra dalam setiap kasus yang dipresentasikan setiap kelompok di kelas.

Guru kelas VI Mahfudz Efendi, SPd,Gr, MM, menyampaikan 6 topik kasus yang harus dibahas setiap kelompok dan dipresentasikan di depan kelas. Keenam topik itu adalah:
– Kasus 1 : Bolet tidak mau naik bus bersama kawan-kawannya saat kegiatan refreshing ke luar kota. Dia akan berangkat sendiri naik mobil bersama keluarganya.
– Kasus 2 : Bondet tidak membayar uang kas hampir 1 semester, padahal dia anak orang yang berkecukupan.
– Kasus 3 : Boneng tidak mengerjakan piket kebersihan kelas dengan alasan, itu bukan tugas siswa, tetapi menjadi tugas pramubakti.
– Kasus 4 : Boncu sering tidak memakai seragam di sekolah, dia beralasan seragamnya masih basah, belum kering.
– Kasus 5 : Di desa Ahmad diadakan sedekah desa, berdasarkan keyakinannya, hal itu tidak pernah diajarkan Rasulullah SAW.
– Kasus 6 : Ahmad pindah dari desanya ke desa baru. Ternyata di desa itu juga diadakan sedekah desa.

“Apa yang akan kalian lakukan jika dalam posisi teman-temanmu itu, dan apa tanggapan dari kelompok lain dengan jawaban yang dikemukakan kelompok yang lain ?” tanya guru kelas VI tersebut membuka acara debat santun hari ini.

Ia lalu memanggil semua ketua kelompok ke depan kelas. Mereka diminta suit untuk menentuka siapa yang terpilih dan berkesempatan membahas topik kasus pertama. Sisa lima ketua kelompok, dilakukan suit kembali, yang terpilih akan membahas topik kasus kedua. Dan seterusnya, hingga tersisa dua ketua kelompok, yang terpilih akan membahas topik kasus kelima dan yang kalah mendapatkan giliran membahas topik keenam.

Fendi memberikan kesempatan, setiap kelompok berdiskusi terlebih dahulu, memahami inti permasalahan secara mendalam (mosi), menyusun argumen yang kuat dengan disertai logika dan bukti. Lalu memutuskan posisi kelompok siswa berada di posisi afirmasi (mendukung) atau oposisi (menentang) mosi tersebut, juga mengantisipasi argumen lawan dengan sanggahan (tandingan) terhadap poin-poin mereka.

“Gunakan etika debat, sanggah ide atau argumennya, bukan menyerang pribadi lawan debat,” pesannya.

Tibalah giliran kelompok 1 menyampaikan kasusnya. Abraham Yazdan Zaini menyampaikannya dengan bahasa yang baik, kontak mata dan gestur tubuh yang baik. Kalimatnya pun terstruktur dan runtut, juga didukung intonasi dan volume suara yang jelas.

Kelompok lain mulai berpendapat. Ada yang sependapat, ada pula yang berlawanan pendapat dengan bukti yang menyertainya. Suasana kelas jadi riuh,bergemuruh dengan berbagai ide dan tanggapan, meskipun ada yang memberikan pendapat sekenanya. Seperti halnya Mas Iqbal Baihaqi, melihat situasi yang kian tegang ia mengancungkan tangan dan berpendapat.

“Saya kira kalau Bolet ini anaknya anggota DPR, boleh saja dia melakukan hal itu. Namanya juga anak orang yang lagi berkuasa,” jawabnya yang disambut geeeeer kawan-kawannya.

Tak terasa sudah giliran kelompok keenam yang mempresentasikan kasus yang diterimanya. Hampir sama seperti kelompok lain, jawaban kelompok yang diketuai Azarine Ayu Zahira Wicaksono Soegito ini juga menyulut pro dan kontra. Suasana kembali gaduh oleh jawaban siswa yang nampak bersaut-sautan. Saking antusiasnya, siswa yang duduk di belakang merangsek memindahkan kursinya ke depan, mendekati kelompok yang menjadi narasumber.

Fendi kemudian menutup kegiatan belajar hari ini dengan menetralisasi suasana kelas. Satu per satu kasus ia bahas dan berikan penekanan masalah, serta alternatif solusi. Tak lupa ia memberikan pujian untuk siswa-siswanya yang sudah berani mengungkapkan pendapat dengan argumentasinya.

“Dengan mengasah kemampuan ini, akan mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi atau debat di kelas dan menyampaikan ide-ide kalian secara efektif dan percaya diri. Teruslah berlatih ya,” pungkasnya. (*)

Kontributor: Mahfudz Efendi

Author