Girimu.com – Sebuah pemandangan menyejukkan hati mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Di bawah terik matahari, ratusan siswa SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik khusyuk mengikuti serangkaian ujian karakter berbasis praktik manasik haji.
Namun, ada satu hal yang mencuri perhatian publik: keterlibatan aktif para siswa non-Muslim yang mengenakan pakaian putih, berbaur bersama teman-temannya mengikuti simulasi rukun Islam kelima tersebut.
Bagi Smamsatu Gresik, kehadiran siswa non-Muslim dalam pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta PPKN bukanlah hal baru. Menggunakan pendekatan yang kreatif dan inklusif, sekolah ini berhasil mengubah materi keagamaan menjadi ruang penguatan karakter, seperti kedisiplinan, kesabaran, ketangguhan, dan empati tanpa adanya paksaan akidah. Para siswa non-Muslim mengikutinya bukan sebagai ritual ibadah personal, melainkan sebagai prosesi sosiologis dan edukasi budaya untuk memahami saudara seiman mereka yang Muslim.
Aksi inklusif ini memantik refleksi mendalam di tengah masyarakat, terutama jika dikaitkan dengan polemik nasional yang sempat ramai beberapa waktu lalu mengenai boleh tidaknya warga non-Muslim menjadi petugas haji domestik, seperti tim medis atau teknis di tanah air.
Refleksi Hukum Islam: Menghargai Kompetensi dan Kemanusiaan
Melihat fenomena di Smamsatu Gresik, publik seolah diingatkan pada pemikiran progresif dari para pakar hukum Islam. Menanggapi polemik non-Muslim menjadi petugas haji, Pakar Hukum Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam kajiannya sempat menggarisbawahi, bahwa dalam dimensi muamalah (hubungan sosial dan profesional), kerja sama lintas agama adalah hal yang diperbolehkan, sejauh tidak menyentuh ranah ibadah mahdah (ritual inti keagamaan).
Merujuk pada ulasan ilmiah di laman resmi UMY, ibadah haji memang merupakan kewajiban suci umat Islam. Namun, manajemen penyelenggaraan haji mulai dari logistik, kesehatan, hingga transportasi adalah wilayah manajerial dan pelayanan publik. Dalam pandangan hukum Islam yang moderat, keterlibatan non-Muslim dalam aspek-aspek teknis pelayanan kemanusiaan justru mencerminkan esensi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Jika dalam konteks negara, non-Muslim boleh berkontribusi melayani calon jamaah haji demi kelancaran tugas negara, maka di level sekolah, siswa non-Muslim pun sah-sah saja mempelajari ekosistem haji demi memupuk rasa persaudaraan.
Sekolah sebagai Laboratorium Toleransi
Kepala Smamsatu Gresik, Nurul Ilmiah, menegaskan, kegiatan manasik haji ini bukan sekadar simulasi fisik, melainkan praktik “sekolah kehidupan”. Ujian karakter ini mengajarkan bagaimana manusia harus bersabar saat mengantre, kompak dalam bergerak, dan saling membantu saat kelelahan nilai-nilai universal yang melampaui batas-batas sekat agama.
“Bagi siswa non-Muslim yang ikut serta, pengalaman ini memberikan perspektif baru. Mereka tidak hanya belajar menghargai kekhusyukan ibadah teman Muslimnya, tetapi juga merasakan atmosfer gotong royong yang menjadi ruh dari bangsa Indonesia,” ujar Nurul, Rabu (20/5/2026).
Foto dan video keseruan manasik haji yang melibatkan siswa lintas iman ini pun langsung menuai banjir pujian dari netizen. Banyak yang menilai, apa yang terjadi di Gresik merupakan potret nyata wajah Islam Muhammadiyah yang berkemajuan, inklusif, dan damai.
Di saat ruang digital sering bising oleh narasi intoleransi, Smamsatu Gresik dan refleksi akademik dari UMY seolah memberikan jawaban sejuk: bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk saling memahami, melayani, dan berjalan beriringan dalam bingkai kemanusiaan. (red)
