GIRIMU.COM — Suasana khidmat menyelimuti ruang pertemuan SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu), Kamis (26/2/2026). Memasuki hari ketiga kegiatan TAQWA (Tuntunan Syariat, Akhlak, Qiyam Ibadah, Wawasan Fikih, dan Amanah), peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan adalah siswa putra kelas XI dan XII, setelah dua hari sebelumnya diperuntukkan bagi siswa putri.
Kegiatan diawali dengan salat Duha, zikir bersama, serta Gema 30 Juz Ramadan, program tadarus yang menargetkan khatam Al-Quran dalam sehari. Atmosfer religius semakin terasa saat sesi materi dimulai dengan menghadirkan pemateri eksternal, yakni Ustaz Muhammad Nur Fathoni, MA.
Mengangkat tema “Kajian Tafsir Al-Quran: Jalan Pasti Menuju Sukses Dunia dan Akhirat bagi Pelajar”, Ustaz Fathoni membuka pemaparannya dengan pertanyaan sederhana namun mendasar, “Apa itu Al-Quran?”
Ruang pertemuan pun riuh oleh jawaban para siswa. Ada yang menjawab kitab suci, firman Allah, hingga mukjizat. Ustaz Fathoni kemudian menyempurnakan jawaban tersebut. Ia menegaskan, bahwa Al-Quran sepenuhnya merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, tanpa satu pun campur tangan perkataan manusia, termasuk Nabi Muhammad sendiri dan membacanya bernilai ibadah.
“Karena isinya adalah ucapan Allah, maka Al-Quran tidak pernah salah. Kalau ada yang salah, maka yang salah adalah cara orang yang memahaminya. Ingat itu!” tegasnya.
Ia kemudian mengajak siswa menelaah Surat An-Nahl ayat 97 sebagai salah satu ayat representatif terkait jalan pasti menuju sukses dunia dan akhirat. Dalam ayat tersebut ditegaskan, bahwa siapa pun yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, akan diberi kehidupan yang baik di dunia dan balasan pahala di akhirat.
“Perhatikan frasa ‘dalam keadaan beriman’. Apakah ketika orang kafir berbuat baik tidak dibalas Allah?” tanyanya.
“Dibalas!” jawab siswa serempak.
Ustaz Fathoni membenarkan jawaban tersebut. Namun, ia menegaskan adanya perbedaan balasan. Kebaikan orang yang tidak beriman Allah balas di dunia karena Allah Maha Adil, tetapi tidak menjadi bekal keselamatan di akhirat.
“Jadi, kalau ingin sukses dunia dan akhirat, berbuat baiklah dan pastikan dalam keadaan beriman,” ujarnya.
Ia juga menekankan, sejatinya setiap kebaikan yang dilakukan manusia bukanlah untuk Allah, melainkan kembali kepada diri sendiri. “Apakah Allah butuh kebaikan kita?” tanyanya lagi. Untuk memudahkan pemahaman, ia menganalogikan interaksi antara dokter dan pasien. Ketika dokter meminta pasien menebus resep obat, bukan dokter yang membutuhkan obat tersebut, melainkan pasien demi kesembuhannya. Begitu pula amal saleh, manfaatnya kembali kepada pelakunya.
Berikutnya, Ustaz Fathoni membahas Surat Al-Isra’ ayat 23 tentang perintah tidak menyembah selain Allah dan kewajiban berbakti kepada orang tua. Ia mengajak siswa merenungi redaksi larangan dalam ayat tersebut.
“Kenapa redaksinya ‘jangan menyembah selain Allah’, bukan ‘sembahlah Allah’?” tanyanya. Ia menjelaskan, larangan menyembah selain Allah menutup seluruh kemungkinan penyekutuan. Dengan demikian, tauhid menjadi fondasi utama sebelum membangun amal dan ilmu.
Menurutnya, keimanan sangat berkaitan dengan derajat seseorang. Allah mengangkat derajat orang berilmu, tetapi ilmu yang mengangkat itu adalah ilmu yang disertai iman. Tanpa iman, ilmu justru dapat menjerumuskan.
“Inilah sebabnya ada orang yang pekerjaannya terlihat lebih ringan tetapi penghasilannya besar, karena ia memiliki ilmu. Namun, ilmu itu akan benar-benar bernilai jika dibingkai dengan iman,” jelasnya.
Pada penutup materi, ia mengulas Surat Ali Imran ayat 185 tentang hakikat kemenangan. Ayat tersebut menegaskan, bahwa orang yang benar-benar menang adalah mereka yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga.
Ia juga menyinggung keberadaan golongan A’raf, yakni golongan yang berada di antara surga dan neraka. “Yang disebut menang bukan sekadar tidak masuk neraka, tetapi benar-benar dimasukkan ke surga, bukan golongan A’raf,” tegasnya.
Materi yang disampaikan secara argumentatif dan penuh analogi itu mendapat respons positif dari peserta. Mario Cahyo, siswa kelas XII Saintek 3, mengaku puas dengan penyampaian materi tersebut.
“Informatif. Ternyata tafsir ayat Al-Quran bisa se-excited ini. Tidak hanya menambah wawasan, yang terpenting saya merasa hati saya terketuk, iman terasa bertambah,” tuturnya.
Melalui kegiatan TAQWA ini, Smamsatu Gresik tidak sekadar menghadirkan kajian ke-Islaman, tetapi juga menanamkan fondasi iman dan cara pandang hidup berbasis Al-Quran yang menjadi bekal penting bagi pelajar dalam meraih sukses dunia sekaligus keselamatan akhirat. (*)







