GIRIMU.COM — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Driyorejo, Gresik menggelar Baitul Arqom pada hari ke-10 Ramadan 1447 H sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai Islam dan Ke-Muhammadiyahan. Kegiatan yang diikuti oleh pengurus, guru, serta warga persyarikatan ini berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan pada Jumat (27/2/2026).
Dalam sambutannya, Ketua Majelis Dikdasmen PCM Driyorejo, Sutikno menegaskan, bahwa Ramadan merupakan momentum strategis untuk melakukan refleksi diri, baik dari sisi ibadah maupun akhlak keseharian. Salah satu poin yang ditekankan dalam Baitul Arqom kali ini adalah materi pentingnya penampilan Islami sebagai cerminan ketakwaan seorang Muslim.
Berlokasi di aula lantai 3 SD Muhammadiyah 1 Driyorejo, Baitul Arqom yang diselenggarakan oleh PCM Driyorejo ini diikuti oleh 85 peserta yang berasal dari Amal Usaha Muhammadiyah Aisyyiah (AUMA) Driyorejo. Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dipandu oleh Inas Amania, SPd dan Zulfa Islahul Mujtahidah, SPd selaku MC. Keduanya adalah guru yang berasal dari KB-TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 49 Griya Kencana.
Tepat pukul 10.00 WIB, materi berpenampilan dan berbusana Islami disampaikan oleh Drs Syafii, MPdI. Bertindak sebagai moderator adalah Erna Dwi Hayati, SSos, SPd, guru dari TK Aisyiyah 45 Bambe.
“Penampilan bukan sekadar urusan luar. Ia adalah identitas dan bagian dari dakwah. Cara berpakaian yang sesuai syariat mencerminkan kesadaran diri sebagai hamba Allah,” ungkap Ustadz Syafii di hadapan peserta.
Materi yang disampaikan dalam forum tersebut menyoroti, bahwa busana Islami bukan hanya simbol, melainkan bentuk ketaatan yang memiliki nilai edukatif dan sosial. Di lingkungan Muhammadiyah, penampilan yang rapi, sopan, dan sesuai tuntunan agama menjadi bagian dari karakter yang harus dibangun secara konsisten.
Pengertian penampilan secara Islami meliputi cara berpakaian yang menutup aurat, mencerminkan kesederhanaan, dan memiliki kesopanan, sehingga dapat menghindarkan dari perbuatan maksiat.
Peserta nampak antusias mengikuti setiap sesi, terlebih ketika Ustadz Syafii, selaku narasumber mengaitkan tema penampilan dengan tanggung jawab moral sebagai kader persyarikatan. Dalam era modern yang penuh tantangan nilai, menjaga identitas ke-Islaman dinilai menjadi langkah penting untuk tetap kokoh dalam prinsip.
Selain kajian materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif yang memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pandangan. Suasana dialogis tersebut memperkaya pemahaman, bahwa ketakwaan tidak hanya tecermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap, perilaku, dan cara membawa diri di tengah masyarakat.
“Dengan berpenampilan dan berbusana Muslim yang benar, maka identitas sebagai warga Muhammadiyah dapat langsung terlihat. Tetap menjaga pandangan dan tidak larut mengikuti tren fashion saat ini yang pada akhirnya dapat menjerumuskan kita dalam kesalahan dan bernilai haram,” tegasnya.
Melalui Baitul Arqom ini, PCM Driyorejo berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Momentum hari ke-10 Ramadhan 1447 H pun menjadi pengingat, bahwa membangun ketakwaan adalah proses berkelanjutan. Dengan penampilan Islami yang selaras dengan akhlak mulia, diharapkan lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sosial. (*)




