‘Word of Mouth’ vs Media Sosial: Mana Pilihan Orang Tua?

wawasan2 Dilihat
banner 468x60

Oleh Abdul Rokhim Ashari

MEMILIH sekolah bagi orang tua jarang berangkat dari brosur atau video promosi. Keputusan itu lebih sering lahir dari percakapan sederhana antarorang tua, dari cerita pengalaman nyata yang dibagikan tanpa skenario.

Menjelang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), hampir semua sekolah bergerak dengan pola yang sama. Media sosial dioptimalkan, konten diproduksi intensif, spanduk dan iklan digital diperbanyak. Tujuannya jelas: dikenal dan dilihat publik, utamanya orang tua calon murid yang dibidik.

Namun, dikenal belum tentu dipercaya. Tidak sedikit sekolah yang nampak aktif di ruang digital, tetapi tetap menghadapi persoalan klasik: jumlah pendaftar belum sesuai harapan. Situasi ini menunjukkan, bahwa persoalan SPMB tidak semata soal promosi, melainkan tentang keyakinan orang tua sebelum mengambil keputusan.

Bagi mereka, memilih sekolah bukan perkara ringan. Yang dipertaruhkan bukan hanya biaya pendidikan, tetapi masa depan anak, pembentukan karakter, serta lingkungan tempat anak tumbuh setiap hari. Karena itu, keputusan jarang diambil secara spontan, tetapi terencana jauh sebelumnya.

Media sosial memang mampu menciptakan kesan awal. Fasilitas nampak lengkap, kegiatan terlihat hidup, dan program unggulan tersaji menarik. Namun, kesan visual sering belum cukup menjawab kegelisahan mendasar: apakah anak akan merasa aman, nyaman, dan diperhatikan? Di sinilah word of mouth memiliki pengaruh kuat.

Cerita sederhana seperti, “Anak saya betah,” atau “Gurunya komunikatif,” kerap jauh lebih meyakinkan dibanding konten promosi apa pun. Pengalaman nyata dianggap lebih jujur, karena lahir dari keseharian, bukan dari pesan yang dirancang. Sayangnya, banyak sekolah masih menempatkan promosi sebagai fokus utama, sementara pengalaman wali murid yang sudah ada belum sepenuhnya menjadi perhatian.

Padahal, orang tua yang merasa dihargai dan dilibatkan sering kali dengan sendirinya menjadi sumber kepercayaan. Pada titik ini, promosi bukan lagi soal strategi komunikasi, melainkan konsekuensi dari relasi yang terbangun.

Pemasaran pendidikan sejatinya hadir dalam hal-hal kecil: cara guru merespons orang tua, keramahan pelayanan, hingga suasana komunikasi di sekolah. Pengalaman inilah yang kemudian dibawa pulang dan diceritakan kembali—membentuk citra sekolah tanpa perlu iklan. Pada akhirnya, sekolah tidak dinilai dari apa yang ia katakan tentang dirinya, melainkan dari apa yang dirasakan oleh mereka yang berada di dalamnya.

Media sosial tetap penting sebagai pintu awal. Namun dalam dunia pendidikan, kepercayaan tetap menjadi penentu utama. Dan, kepercayaan tidak lahir dari konten yang ramai, melainkan dari pengalaman yang dijaga secara taat asas (konsisten), hari demi hari, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam. (*)

*) Penulis adalah Guru IT dan Humas SD Muhammadiyah 1 Kebomas Gresik, Jawa Timur.

 

Author