No shortcut to success. Tidak ada lampu ajaib di dunia nyata. Tidak ada jin bernama Jindhuro yang siap mengabulkan tiga permintaan dalam sekejap mata.
Pesan tersirat itulah yang membekas saat guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik mementaskan drama parodi Aladhika dan Jindhuro dalam ajang MGKB Upgrading 2026 di Batu pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026. Di balik gelak tawa dan parodi jenaka yang disuguhkan tersebut, terselip sebuah otokritik yang relevan dengan realitas saat ini.
Tema besar Gearing Up for The New Academic Session yang diusung Majelis Dikdasmen PNF PCM GKB Gresik seolah menemukan panggung kontekstualnya melalui pertunjukan ini. Memasuki tahun ajaran baru, sekolah tak cukup hanya berbenah secara administratif. Lebih dari itu, kesiapan mental untuk melakoni proses panjang dan melelahkan adalah kuncinya.
Banyak orang mendamba hasil instan, layaknya Aladhika yang bergantung pada keajaiban jin. Padahal, setiap pencapaian bernilai selalu menuntut effort ekstra dan kesungguhan. Sebagaimana ditegaskan Tadz Akbar, salah satu tokoh dalam parodi tersebut, bahwa impian tanpa kerja keras hanyalah ilusi.
Namun, pelajaran berharga tak cuma berhenti pada panggung pertunjukan. Proses di balik layar justru menyimpan narasi yang tak kalah berbobot. Menyatukan belasan ego dan perbedaan gagasan adalah keniscayaan dalam sebuah tim.
Di sinilah letak “keajaiban” yang sebenarnya. Tanpa mantra magic dan mistis, kelompok ini mampu merajut ide-ide kecil menjadi satu keutuhan naskah yang kuat dan solid. Kuncinya sederhana namun langka: komunikasi yang santun dan keterbukaan untuk saling mendengarkan. Beda pendapat tidak berujung pada sekat, melainkan bermuara pada kompromi yang cantik.
Belajar dari Panggung Fiktif
Panggung drama boleh saja menyajikan kisah fiktif. Namun, hikmah yang dipetik para guru dan karyawan MGKB School hari itu sangatlah riil. Dunia pendidikan kita membutuhkan lebih banyak figur yang mau berproses, menghargai perbedaan, dan enggan mengambil jalan pintas.
Pementasan Aladhika dan Jindhuro menjadi bukti, bahwa penyampaian pesan moral tak harus kaku dan menggurui. Lewat balutan humor segar dan eksekusi yang apik, Smamio berhasil menegaskan posisinya: selalu siap menggebrak forum dengan gagasan baru yang tak sekadar menghibur, tapi juga kaya makna.
Pada akhirnya, di dunia nyata khususnya dunia pendidikan kita tak butuh jin pengabul mimpi. Yang kita butuhkan adalah konsistensi, kerja keras, dan kebersamaan. (*)
*) Penulis adalah guru di SMA Muhammadiyah 10 Gresik.


