Girimu.com Jakarta – Haedar Nashir, pemimpin tertinggi Muhammadiyah, kini resmi menyandang status sebagai wartawan utama. Sebuah pengakuan tak lazim bagi pucuk pimpinan organisasi besar, Kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers disematkan langsung Komarudin Hidayat di Auditorium Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Muchlas MT, ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam sambutannya menyebut jejak jurnalisme Muhammadiyah terentang jauh, bahkan sejak Suara Muhammadiyah terbit pada tahun 1915. Keputusan Dewan Pers untuk menganugerahkan kartu khusus ini kepada Haedar, ujarnya, telah melalui proses panjang dan diputuskan pada Maret 2026.
Komarudin Hidayat, ketua Dewan Pers, punya benang merah personal dengan Muhammadiyah. Ia pernah memimpin Ikatan Pelajar Muhammadiyah cabang Muntilan Magelang. Dalam pidatonya, Komarudin menyoroti fenomena ‘wartawan tanpa surat kabar’ (WTS) yang tumbuh subur hanya demi bertahan hidup. Padahal, katanya, masyarakat berkembang karena informasi, sebuah kebutuhan primer seperti makan dan minum.
Persoalan muncul ketika informasi tereduksi. Komarudin mencatat dilema antara pemerintah yang antikritik dan menganggap pers musuh, versus pejabat yang berterima kasih karena pers menjadi penyeimbang. Bagi Komarudin, pers tak ubahnya tukang ronda, yang selalu membunyikan kentongan peringatan dini saat masalah datang.
Sementara itu, Haedar Nashir sendiri berbagi kisah awal perjalanannya dengan pena. ‘Bisa dibayangkan sudah ngetik susah-susah diedit redaktur dan akhirnya disobek tulisan saya karena katanya belum layak terbit, sebagai anak muda saat itu, bagaimana perasaan kita,’ kenangnya. Sebuah proses pembelajaran pahit yang harus ia terima.
Jejak Haedar di dunia jurnalistik bukan sekadar lewat. Ia mengawali menjadi wartawan lapangan dan kini telah menulis 700 lebih tulisan tajuk di Suara Muhammadiyah. ‘Saya mendapatkan kartu wartawan utama ini bukan karena saya ketua PP Muhammadiyah, tetapi memang saya wartawan di Suara Muhammadiyah dan saya mengikuti proses yang ada,’ tegasnya, menepis anggapan statusnya sebagai pemimpin organisasi menjadi jalan pintas.
Penyerahan kartu khusus ini, imbuhnya, menjadi momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Acara ini juga diramaikan dengan Jambore Media Afiliasimu, yang diikuti oleh 50 pengelola media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah.





