Jombang tak hanya menjadi saksi hajat besar Nahdlatul Ulama, tetapi juga panggung persaudaraan lintas organisasi Islam. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jombang, sang “dulur tuo”, tak tinggal diam. Mereka menyiapkan posko pelayanan lengkap, menyuguhkan 10 ribu mangkuk bakso gratis, ribuan telur matang, hingga dukungan keamanan bagi ribuan muktamirin di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, 26-30 Agustus 2026. Ini bukan sekadar ucapan selamat, melainkan wujud konkret solidaritas.
Posko Muhammadiyah, seperti dijelaskan Ketua PDM Jombang Abdul Malik, direncanakan berdiri sekitar 500 meter di utara Lapangan Untung Suropati, Tambakberas. Lokasi strategis ini dipilih untuk memastikan peserta Muktamar NU mudah mengakses layanan sepanjang rangkaian acara. Rencana ini adalah tindak lanjut dari silaturahmi antara Abdul Malik dan jajaran Muhammadiyah dengan Panitia Lokal Muktamar, Abdul Rozaq Soleh, yang akrab disapa Gus Rozaq.
“Pertemuan membahas bentuk dukungan konkret yang dapat diberikan Muhammadiyah Jombang untuk membantu kelancaran pelaksanaan muktamar,” kata Malik. Dari diskusi itu, PDM Jombang memutuskan membuka posko dengan lima kelompok pelayanan utama, dengan layanan kesehatan gratis sebagai salah satu perhatian utama.
Keberadaan tim medis diharapkan mampu membantu muktamirin yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan di tengah padatnya agenda. Dengan estimasi jumlah peserta dan aktivitas yang tinggi, dukungan kesehatan menjadi kebutuhan vital yang disiapkan Muhammadiyah.
Urusan perut juga tak luput dari perhatian. Selain 10 ribu mangkuk bakso, Muhammadiyah Jombang juga menyediakan 10 ribu telur matang. Kopi dan teh gratis siap melengkapi kebutuhan konsumsi di posko tersebut, menjadikannya bukan sekadar titik pelayanan teknis, melainkan juga ruang singgah yang nyaman bagi peserta.
Dukungan juga merambah aspek keamanan. PDM Jombang mengerahkan personel dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) dan Tapak Suci. “Personel tersebut disiapkan untuk membantu menjaga keamanan dan ketertiban di sekitar posko sekaligus mendukung pelayanan kepada muktamirin,” tambah Malik.
Keterlibatan Muhammadiyah dalam hajatan NU ini menegaskan bentuk dukungan nyata antar elemen umat Islam. Dua organisasi besar ini, dengan sejarah dan karakternya masing-masing, dapat bertemu dalam semangat pelayanan kepada umat. Bagi Muhammadiyah Jombang, dukungan melampaui sekadar retorika; diterjemahkan menjadi pelayanan langsung terhadap kebutuhan “dulur enom” mereka. Keduanya, konon, lahir dari rahim yang sama, Saikhuna Cholil Bangkalan.
Dari Jombang, semangat persaudaraan itu diwujudkan secara sederhana dan konkret. NU menggelar muktamar, Muhammadiyah ikut melayani para tamunya, membantu menjaga mereka tetap sehat, menyediakan makanan, menyuguhkan kopi dan teh, serta ikut menjaga keamanan.


