Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026 bukan sekadar pesta. Tahun ini, gaung kebanggaan nasional haruslah bertaut erat dengan kepedulian mendalam terhadap sesama, terutama mereka yang terhimpit musibah. Di tengah gegap gempita perayaan, Aditio Yudono, Wakil Ketua LAZISMU Jawa Timur, mengingatkan betapa pentingnya uluran tangan bagi warga terdampak gempa bumi 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur, menegaskan makna kemerdekaan lewat aksi nyata dan empati sosial.
Sejalan dengan seruan tersebut, LAZISMU Wilayah Jawa Timur menggerakkan dua fokus utama sebagai lembaga amil zakat. Mereka tak hanya menghimpun dana zakat, tetapi juga mendayagunakannya secara masif untuk membantu warga yang membutuhkan uluran tangan, baik di Jawa Timur maupun di luar pulau.
“Saat ini LAZISMU mempunyai dua fokus perhatian yang membutuhkan effort dan kolaborasi penanganan secara bersama, yaitu program yang bersifat pemberdayaan di Jatim dan program aksi kemanusiaan terhadap warga tertimpa bencana di NTT,” kata Aditio di sela koordinasi program di Gedung Kemanusiaan LAZISMU Jatim, Buduran, Sidoarjo, pada 17 Agustus 2026.
Prioritas pertama adalah misi kemanusiaan ke Flores, Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Manggarai Timur dan Nagakeo. Bersama Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (MDMC), LAZISMU mengirimkan belasan relawan beserta bantuan. “Misi ini tidak hanya datang terus pergi, namun hingga masa tanggap darurat berakhir pun tetap terus berjalan dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi,” tambah Aditio, menegaskan penanganan kebencanaan Muhammadiyah yang berkelanjutan.
Sementara itu, fokus kedua adalah program pemberdayaan masyarakat di Jawa Timur melalui lima pilar utama: ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dakwah, dan lingkungan. Program ini dikemas dalam orkestrasi bertajuk “Gebyar Merdeka Berdaya 2026 LAZISMU se Jawa Timur,” melibatkan 13 kantor wilayah dan daerah LAZISMU di Sidoarjo, Bangkalan, Gresik, Magetan, Pasuruan, Ponorogo, Blitar, Jember, Bojonegoro, Mojokerto, Surabaya, dan Lamongan.
Berbagai program pemberdayaan tersebut dirancang untuk berdampak nyata dan berkelanjutan bagi mustahik. Contohnya, “Kampung Kaliampo Bestari” di Sidoarjo yang fokus pada lingkungan dengan bantuan sanitasi dan pemilahan sampah bagi 50 KK. Ada juga “Kelompok Usaha Bakso Pentol Barokah” di Surabaya yang membekali 20 orang dengan modal dan pelatihan usaha, serta “Day Care Mentari Pagi” di Lamongan yang memberikan terapi dan pendampingan kesehatan mental bagi 8 orang ODGJ. Tak ketinggalan, “Kampung Qur’ani Pucukan” di Sidoarjo dengan pengiriman dai mandiri dan perlengkapan ibadah untuk 57 KK, serta “Gerakan Orang Tua Asuh” di Gresik yang menyentuh 278 siswa-siswi sekolah Muhammadiyah.
“Kedua fokus program, pemberdayaan dan kemanusiaan, menjadi garapan serius LAZISMU Jatim di bulan Agustus 2026 ini. Namun keberlanjutan programnya hingga bulan-bulan berikutnya,” pungkas Aditio. Ia optimis tantangan pengelolaan dana ZISKA dapat diubah menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat yang transformatif, berdampak nyata, dan berkelanjutan, dengan harapan mustahik bisa bertransformasi menjadi muzaki.





