Dari Tiga Kambing ke Sepiring Kebersamaan, Simulasi Idul Adha Berlian Primary School Penuh Cerita dan Makna

Penulis: Waviq Amiqoh

banner 468x60

Girimu.com — Asap tipis mulai mengepul dari sudut halaman SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik (Berlian Primary School), Jumat (8/5/2026). Di bawah terik matahari pagi, siswa berkelompok mengelilingi peralatan masak sambil sibuk mengaduk bumbu, menyiapkan tusuk sate, hingga memanggang daging kurban hasil penyembelihan tiga ekor kambing yang sebelumnya mereka saksikan bersama.

Gelak tawa bercampur aroma masakan memenuhi halaman sekolah. Sebagian siswa tampak serius memotong bahan makanan, sementara yang lain antusias menawarkan hasil masakan mereka kepada guru.

“Ustadzah, coba hasil makanan kami ya. Kita bisa memasak, lho,” ujar Rayyan Al Fatih, siswa kelas 3 Al Battani, dengan wajah penuh kebanggaan.

Kegembiraan serupa dirasakan Yasmine Vioresta Azzahra, siswa kelas 5 Al-Qolam. Baginya, pengalaman belajar seperti ini menjadi momen yang sulit dilupakan.

“Seru dan senang sekali. Besok-besok seperti ini lagi ya, Ustz,” pintanya antusias.

Namun, di balik suasana riuh dan menyenangkan itu, ada pula momen emosional yang membekas di hati sebagian siswa. Surya Yadul Ulya, siswa kelas 5 Al-Qolam, mengaku sempat terharu saat menyaksikan proses penyembelihan kambing kurban.

“Saya tadi terharu melihat kambing disembelih. Setelah itu kami menyiapkan alat dan bahan yang akan dimasak bersama teman-teman,” tuturnya pelan.

Respons beragam dari para siswa justru menjadi bagian penting dari pembelajaran yang ingin dihadirkan sekolah. Kepala Berlian Primary School, Farikha, SPd, menilai, pengalaman langsung seperti ini mampu menanamkan nilai sosial dan spiritual lebih kuat dibanding sekadar pembelajaran di kelas.

“Siswa secara berkelompok mengolah daging kurban di halaman sekolah. Alhamdulillah, mereka bisa merasakan suasana Idul Adha meskipun dalam bentuk simulasi. Setidaknya mereka memahami, bahwa pada momentum Idul Adha, mereka perlu terlibat dan berpartisipasi secara langsung,” ujarnya.

Menurut Farikha, antusiasme siswa yang terlihat sepanjang kegiatan menjadi tanda, bahwa pembelajaran berbasis pengalaman mampu meninggalkan kesan mendalam.

“Setelah melihat respons mereka yang luar biasa, kami bersyukur anak-anak benar-benar ingin terlibat dalam seluruh rangkaian simulasi Idul Adha ini,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut bukan hanya tentang memasak atau makan bersama, melainkan juga tentang membangun karakter sosial anak sejak dini.

“Anak-anak belajar tolong-menolong, bekerja sama dalam tim, dan merasakan nuansa kebersamaan. Islam mengajarkan kebersamaan serta saling membantu dalam kebaikan tanpa membedakan kaya atau miskin. Mereka duduk dan makan bersama dengan menu yang sama,” jelasnya.

Di tengah aktivitas memasak itu, sekat-sekat sosial seolah menghilang. Semua siswa terlibat tanpa memandang latar belakang. Mereka berbagi tugas, berbagi cerita, bahkan berbagi rasa atas makanan yang dimasak bersama.

Simulasi Idul Adha di Berlian Primary School akhirnya menjelma lebih dari sekadar kegiatan sekolah. Dari tiga kambing yang disembelih pagi itu, lahir pelajaran tentang empati, keikhlasan, dan arti kebersamaan—nilai-nilai sederhana yang kelak akan tinggal lebih lama di ingatan anak-anak dibanding aroma sate yang perlahan hilang tertiup angin siang. (*)

 

Editor