Air Mata Perpisahan, Janji Tak Ada Mantan Guru: MTs Muhammadiyah 7 Pantenan Lepas Angkatan 2025/2026

Reporter: M Daus Kholis

Berita Sekolah1686 Dilihat
banner 468x60

Malam yang semula dipenuhi canda dan tawa mendadak berubah menjadi lautan air mata di lingkungan Perguruan Muhammadiyah Pantenan, Gresik. Tangis haru pecah ketika puluhan siswa kelas IX MTs Muhammadiyah 7 Pantenan berpamitan kepada para guru yang tiga tahun ini menjadi pembimbing dan pembentuk karakter mereka. Momen “Perpisahan Lokal Tahun Pelajaran 2025/2026” pada Jumat (29/5) itu menyisakan kesan mendalam bagi siswa, guru, hingga wali murid.

Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB itu dihadiri dewan guru, Majelis Dikdasmen dan PNF Muhammadiyah Pantenan, wali murid, serta seluruh siswa kelas IX yang akan segera menuntaskan pendidikan madrasah tsanawiyah. Kegiatan tahunan ini menjadi penanda sebelum para siswa mengikuti prosesi wisuda bersama seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Perguruan Muhammadiyah Pantenan, terlaksana berkat kerja sama madrasah dengan Ikatan Wali Murid (IKWAM) kelas IX.

Sejak awal, suasana hangat dan kekeluargaan begitu terasa. Para siswa bersama orang tua mereka menikmati setiap rangkaian acara. Namun, saat sesi sambutan dan penyampaian pesan-kesan tiba, atmosfer perlahan berubah menjadi lebih emosional, merasuk ke hati setiap hadirin.

Nur Aida Putri, perwakilan siswa kelas IX, mendapat giliran menyampaikan pesan dan kesan. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa terima kasih mendalam kepada para guru yang selama ini tak hanya mengajar ilmu, melainkan juga menanamkan akhlak dan memberikan teladan berharga.

“Pada kesempatan ini saya mewakili teman-teman kelas IX ingin menyampaikan permohonan maaf kepada bapak dan ibu guru atas segala kesalahan yang pernah kami lakukan selama belajar di madrasah ini,” ujarnya. “Kami sadar bahwa terkadang kami kurang patuh, kurang memahami arahan, bahkan sering melakukan kesalahan. Namun kami yakin semua nasihat yang diberikan bapak dan ibu guru adalah bentuk kasih sayang dan perhatian kepada kami.”

Nur Aida juga memohon doa restu agar rekan-rekannya dimudahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan mampu menggapai cita-cita.

Bagian paling menyentuh dari sambutannya adalah saat ia menegaskan bahwa dalam hidupnya, tak ada istilah mantan guru. “Kami tidak akan pernah menganggap bapak dan ibu sebagai mantan guru. Bapak dan ibu akan selalu menjadi guru kami sampai kapan pun. Meskipun nanti kami sudah lulus dan tidak lagi belajar di kelas yang sama, nama bapak dan ibu akan selalu hadir dalam doa-doa kami setelah salat,” tuturnya, disambut tepuk tangan riuh, sementara tak sedikit guru dan wali murid mengusap air mata.

Suasana haru kembali meliputi ruangan saat Matsubah Noor, perwakilan wali murid, menyampaikan sambutan. Ia mewakili para orang tua siswa mengapresiasi dedikasi guru yang telah membersamai putra-putri mereka selama tiga tahun terakhir.

Menurutnya, mendidik remaja bukanlah tugas mudah. “Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru yang telah mendidik putra-putri kami dengan penuh kesabaran. Kami menyadari bahwa mendidik anak-anak seusia mereka tidaklah mudah. Karena itu kami sangat menghargai segala pengorbanan dan ketulusan bapak ibu guru selama ini,” kata Matsubah. Ia juga memohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin dilakukan siswa maupun wali murid.

Muhammad Tauhid, Kepala MTs Muhammadiyah 7 Pantenan, mengingatkan para siswa untuk menjaga kebiasaan baik yang telah terbentuk di madrasah. Kelulusan, baginya, bukanlah akhir, melainkan awal perjuangan yang lebih besar.

Ia berpesan agar siswa tetap menjaga salat lima waktu, melanjutkan hafalan Al-Qur’an, menghormati orang tua dan guru, serta semangat menuntut ilmu. “Anak-anak yang selama tiga tahun ini kami didik, malam ini secara simbolis kami kembalikan kepada bapak dan ibu. Tolong teruskan kebiasaan baik yang selama ini sudah dilaksanakan di madrasah. Jagalah salat lima waktu, lanjutkan hafalan Al-Qur’an, dan tetaplah menjadi pribadi yang berakhlak baik. Sebab kehidupan yang paling berharga adalah kehidupan yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT,” pesannya.

Muhammad Tauhid juga menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan dalam pelayanan pendidikan madrasah. “Apabila selama anak-anak belajar di MTs Muhammadiyah 7 Pantenan terdapat pelayanan yang kurang berkenan, baik kepada siswa maupun wali murid, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya,” ungkapnya.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Muhammadiyah Pantenan, Faqih Usman, berharap para lulusan meneruskan pendidikan di SMA Muhammadiyah 7 Pantenan. Menurutnya, keberlanjutan di lingkungan yang sama akan memudahkan pembinaan karakter dan penguatan nilai keislaman.

“Kami berharap anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke SMA Muhammadiyah 7 Pantenan sehingga proses pembinaan karakter, akhlak, dan hafalan Al-Qur’an yang telah dibangun selama di MTs bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Puncak haru memuncak saat panitia menayangkan video dokumentasi perjalanan siswa. Dari awal masuk hingga menjelang kelulusan, video itu menampilkan foto-foto kegiatan belajar, keagamaan, lomba, dan kebersamaan tiga tahun terakhir.

Gelak tawa sempat pecah saat siswa melihat foto lama mereka di kelas VII, namun suasana segera berubah haru seiring video berjalan, mengingatkan mereka pada perjalanan panjang di madrasah.

Momen paling emosional adalah prosesi salaman dan pamitan. Satu per satu siswa dan orang tua menghampiri guru, bersalaman, meminta maaf, dan memohon doa restu.

Tangis pecah di berbagai sudut. Banyak siswa tak kuasa menahan air mata saat memeluk guru, sementara beberapa guru pun menitikkan air mata, melepas anak didik yang telah menjadi bagian keluarga besar madrasah.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan makan malam, simbol kebersamaan sekaligus perpisahan terakhir Angkatan 2025/2026.

Meski perpisahan ini menandai berakhirnya masa belajar di madrasah, kenangan, nasihat, dan doa yang terjalin selama tiga tahun diyakini akan terus mengiringi langkah para siswa menuju masa depan.

Editor