Asah Nalar Kritis, Guru Spemdalas Berlatih Menulis Opini

banner 468x60

GIRIMU.COM — Dalam upaya meningkatkan budaya literasi dan menguatkan nalar kritis pendidik, sekolah menyelenggarakan pelatihan penulisan opini bagi guru, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini menjadi wadah reflektif bagi para guru untuk menuangkan gagasan, pemikiran, serta pengalaman mengajar dalam bentuk tulisan opini yang bernilai edukatif.

Kegiatan penulisan opini tersebut dirancang dengan dua agenda utama, yaitu sosialisasi kegiatan penulisan opini dan praktik menulis opini. Seluruh rangkaian kegiatan diikuti dengan antusias oleh para guru dari berbagai mata pelajaran. Selain sebagai sarana peningkatan kompetensi literasi, kegiatan ini juga menjadi langkah awal penyusunan antologi opini guru yang direncanakan akan dibukukan dan diluncurkan pada momen Final Moment kelas IX mendatang.

Sesi sosialisasi disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ichwan Arif, SPd., MHum. Dalam pemaparannya, Ichwan Arif menekankan pentingnya peran guru sebagai penulis opini yang mampu menyuarakan realitas pendidikan dari sudut pandang praktisi kelas. Menurutnya, opini guru memiliki kekuatan, karena lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori.

Pada kesempatan tersebut, Ichwan Arif menjelaskan beberapa tema yang dapat dipilih oleh peserta, di antaranya:

1. Guru Bermakna Bukan Guru Sempurna
2. Inspirasi dari Ruang Kelas
3. Muridku, Inspirasiku
4. Guru Pembelajar Seumur Hidup
5. Bukan Sekadar Hadir di kelas, Guru harus….

Tema-tema tersebut diharapkan mampu menggugah kepekaan guru terhadap persoalan pendidikan di sekitarnya.

“Tulisan opini guru harus benar-benar orisinal dan bersumber dari pengalaman mengajar,” ujar Ichwan Arif.

Dirinya juga menambahkan terkait orisinalitas dalam penjelasannya. Dikatakan, kejujuran dalam bercerita, membuat tulisan memiliki daya hidup dan kekuatan pesan.

Selain itu, peserta juga dibekali materi teknis penulisan opini, mulai dari pemilihan topik yang aktual, penggunaan gaya bahasa yang santai dan komunikatif, struktur tulisan yang sederhana, hingga pentingnya menjaga orisinalitas karya. Guru juga diajak mengenal teknik menulis opini yang terasa sastrawi namun tetap berbasis fakta, sehingga tulisan tidak hanya informatif, tetapi juga menarik untuk dibaca.

Pada agenda praktik, para guru langsung menuangkan gagasan ke dalam tulisan opini sesuai tema pilihan masing-masing. Suasana kegiatan berlangsung aktif dan reflektif, dengan diskusi serta saling berbagi pengalaman antarpeserta.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir karya-karya opini guru yang autentik, inspiratif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan, sekaligus menjadi dokumentasi pemikiran guru dalam bentuk antologi. (*)

Kontributor: Dheni Iga Pratiwi

Author

Berita Yang lain