Di Antara Detik yang Tak Pernah Berhenti

Oleh Mahfudz Efendi

banner 468x60

Alarm di ponsel Siska berbunyi tepat pukul 03.00. Suara itu bukan sekadar pengingat waktu, melainkan lonceng dimulainya pertarungan yang belum selesai dari hari kemarin. Maya tidak langsung bangun. Ia menatap langit-langit kamarnya yang mulai retak catnya, merasakan berat tubuhnya seolah menyatu dengan kasur. Ada jeda lima detik di mana ia berharap dunia lupa akan keberadaannya. Hanya lima detik.

Namun, di detik keenam, layar ponselnya menyala. Tiga pesan WhatsApp dari grup kantor, dua email bertanda “Urgent”, dan satu notifikasi tagihan internet. Dunia tidak lupa. Dunia bahkan tidak tidur.

Dengan helaan nafas yang terasa berat di dada, Siska menyeret kakinya ke kamar mandi. Di depan cermin, ia melihat sepasang mata yang kehilangan binar. Lingkaran hitam di bawahnya adalah saksi bisu dari tumpukan deadline dan insomnia yang setia menemani. Ia membasuh wajah, mengenakan “topeng” bedak dan lipstik tipis, lalu tersenyum kaku pada pantulannya sendiri.

“Kau baik-baik saja,” bisiknya, sebuah “mantra” yang makin hari makin terdengar seperti kebohongan.

Ia menggelar sajadah tua di sudut kamarnya. Siska bersujud di sepertiga malam. Dahinya menyentuh bumi, merendah serendah-rendahnya. Namun, jiwanya terasa sedang melayang, naik mengetuk pintu langit. Di dalam sujud itu, pertahanannya runtuh. Ia menangis, memasrahkan beban dan masalah hidupnya di pelukan sang Khalik.

Perjalanan menuju kantor adalah siksaan tahap kedua. Di dalam gerbong kereta yang sesak, Siska terhimpit di antara punggung-punggung yang basah oleh keringat dan bau parfum murah yang bercampur aduk. Tidak ada ruang gerak, bahkan untuk sekadar mengambil nafas panjang. Semua orang menunduk menatap layar ponsel. Jari-jari mereka menari lincah, sibuk merespons tuntutan yang tak ada habisnya.

Siska memandang sekeliling. Apakah mereka juga merasa ingin berteriak? Apakah pria paruh baya yang tertidur sambil berdiri itu juga merasa hidupnya sedang digerus perlahan? Atau hanya Siska yang merasa seolah sedang tenggelam di daratan?

Sesampainya di kantor, riuh suara keyboard menyambutnya seperti hujan kerikil. Belum sempat ia meletakkan tas, Pak Sonny, manajernya, sudah berdiri di ambang pintu kubikel.

“Sis, revisi proposal klien Budi Mulia sudah selesai? Mereka minta meeting jam sepuluh nanti. Oh ya, data penjualan bulan lalu tolong ditarik lagi, ada selisih.”

Siska mengangguk. Mulutnya berkata, “Siap, Pak, segera saya kirim,” sementara batinnya menjerit, ‘Saya belum sarapan. Saya baru tidur tiga jam. Tolong beri saya waktu lima menit untuk bernafas.’

Tapi Siska tahu, kerapuhan adalah dosa di dunia profesional. Tidak ada yang peduli jika hatimu sedang berantakan atau jika ibumu menelepon tadi malam mengeluhkan biaya obat yang naik. Yang dunia pedulikan adalah hasil. Angka. Target. Dan Siska, seperti jutaan orang lainnya, telah terprogram untuk memberikan itu, meski harus menggerus kewarasannya sendiri.

Pukul dua siang, “gelas” di dalam diri Siska mulai retak.

Ia menerima telepon dari adiknya. Suara di seberang sana terdengar panik. “Mbak, Ibu jatuh di kamar mandi. Nggak apa-apa sih, cuma memar, tapi Ibu nangis terus. Kayaknya Ibu kangen Mbak.”

Jantung Siska mencelos. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada deadline mana pun. Ia adalah generasi sandwich, terjepit di antara ambisi karier yang menuntut totalitas dan tanggung jawab keluarga yang membutuhkan kehadiran. Ia ingin pulang. Ia ingin memeluk ibunya. Tapi, layar komputer di depannya menampilkan spreadsheet yang belum selesai, dan Pak Sonny masih menunggu di ruangan kaca itu.

“Bilang Ibu, Mbak pulang akhir pekan ini,” suara Siska bergetar. Ia mematikan telepon dan berlari ke toilet kantor.

Di dalam bilik sempit itu, Maya duduk di atas kloset tertutup, menekan wajahnya ke telapak tangan. Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering tertahan ego. Ia hanya gemetar. Dadanya sesak seolah oksigen di gedung bertingkat ini habis disedot oleh ambisi orang-orang.

Kenapa hidup tidak pernah memberikan jeda? Batinnya menggugat. Kenapa setiap kali aku merasa bisa bernafas, gelombang baru datang menghantam?

Ia teringat draf tulisan di laptop pribadinya, sebuah proyek antologi yang ia ikuti iseng-iseng. Judulnya tentang stres yang menumpuk. Saat menulis itu, ia pikir ia sedang menyuarakan perasaan orang lain. Kini ia sadar, ia sedang menulis biografinya sendiri.

Malam harinya, hujan turun deras membasahi kota yang tak pernah tidur. Siska duduk di halte bus, basah kuyup karena payungnya patah diterpa angin—sebuah metafora konyol yang sempurna untuk harinya. Di sebelahnya, duduk seorang perempuan muda, mungkin mahasiswa. Ia sedang menangis tersedu-sedu sambil memegang lembaran kertas yang basah—mungkin skripsi yang dicoret dosen, atau surat penolakan kerja.

Siska menatap perempuan itu. Biasanya, orang-orang di kota ini akan memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat kesedihan orang lain agar tidak tertular. Tapi malam ini berbeda. Kelelahan Siska telah meruntuhkan tembok pertahanannya.

Ia merogoh tasnya, mengeluarkan satu-satunya tisu kering yang tersisa, dan menyodorkannya pada perempuan itu.

Perempuan itu menoleh, terkejut. Matanya bengkak. Ia mengambil tisu itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Kak. Maaf, saya… saya cuma capek banget. Rasanya dunia jahat banget hari ini.”

Siska tersenyum, kali ini senyum yang tulus meski getir. “Saya tahu rasanya. Kamu nggak sendirian.”

Kalimat itu sederhana, namun dampaknya luar biasa. Perempuan itu berhenti menangis, menatap Siska seolah baru saja menemukan pelampung di tengah lautan badai. Di bawah atap halte yang bocor, di tengah deru klakson kendaraan yang tidak sabaran, dua orang asing berbagi hening yang menenangkan.

Dunia masih menuntut. Besok, Siska masih harus menghadapi Pak Sonny. Tagihan masih akan datang. Ibunya masih sakit. Hujan masih akan turun. Masalah tidak hilang begitu saja.

Tapi malam itu, Siska menyadari satu hal penting yang menjadi inti dari antologi kehidupan ini: Validasi.

Bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah. Tidak apa-apa untuk merasa ingin menyerah sejenak. Dan yang paling penting, beban yang ia pikul terasa sedikit lebih ringan ketika ia sadar bahwa ia tidak memikulnya sendirian. Jutaan orang di luar sana, di balik jendela-jendela gedung tinggi, di dalam kereta yang sesak, juga sedang bertarung dengan iblis yang sama.

Bus datang. Siska berdiri, kakinya masih terasa berat, tapi hatinya sedikit lebih lapang. Ia naik ke dalam bus, duduk di dekat jendela, dan mengeluarkan ponselnya. Bukan untuk membuka email pekerjaan, melainkan untuk membuka aplikasi catatan.

Ia mengetik sebuah kalimat penutup untuk tulisannya:

“Kita sering mengira, bahwa kuat berarti tidak pernah rapuh. Padahal, bertahan hidup di dunia yang tidak pernah berhenti menuntut ini, sambil tetap menjaga kewarasan, adalah bentuk kekuatan yang paling murni. Istirahatlah jika perlu, tapi jangan berhenti melangkah. Kamu tidak sendirian.”

Bus melaju membelah hujan, membawa Siska pulang. Hidup memang tidak memberi jeda, tetapi ia belajar bahwa ia bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri—lewat nafas panjang, lewat tisu dan solusi yang dibagi, dan sebuah janji-Nya, Allah tidak menaruh kita di situasi ini untuk melihat kita hancur. Dia menaruh kita di sini karena Dia tahu kapasitas pundak kita. Bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Yang artinya, jika kita sedang menghadapi masalah besar sekarang, itu adalah validasi dari Allah bahwa jiwa kita kuat. (*)

Editor

Berita Yang lain