Kajian Jelang Buka di di Masjid Al-Manaar, KH Musthofa Muntasam Ungkap Analogi ‘Software’ Hati 

Reporter: Muhammad Rifki Agustian

Keislaman2 Dilihat

GIRIMU.COM — Menjelang waktu berbuka puasa di Masjid Al-Manaar Mojopuro Wetan, Bungah, Gresik Kamis (5/3/2026) suasana religius terasa kental dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh KH Musthofa Muntasam Lc. Dalam kajian tersebut, Kiai Musthofa menekankan pentingnya menjaga kesehatan hati sebagai kunci kualitas hidup seorang Muslim dengan mengambil analogi teknologi modern, bahwa hati disebut sebagai software atau perangkat lunak yang menentukan performa seluruh tubuh manusia.

Narasumber menjelaskan, setiap tindakan manusia berhulu pada kondisi hatinya sebagai pusat kendali. Hal ini merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW: “Ingatlah, bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kiai Musthofa menegaskan, bahwa jika “perangkat lunak” ini bermasalah, maka seluruh “perangkat keras” atau anggota tubuh akan ikut malfungsi dalam menjalankan ketaatan.

“Hati dan pikiran kita adalah software-nya, perangkat lunak di sana,” ungkap Kiai Musthofa dalam ceramah tersebut.

Ia menambahkan, bahwa kemaksiatan yang dilakukan manusia ibarat noda hitam yang menempel pada hati secara bertahap. Jika dibiarkan tanpa perbaikan, noda tersebut akan menumpuk hingga melahirkan penyakit sosial seperti su’udzon dan dengki yang merusak tatanan bermasyarakat. Fenomena ini digambarkan dalam Al-Quran surat Al-Muthaffifin ayat 14:

Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka“.

Dikatakan, momentum bulan Ramadan dipandang sebagai waktu yang paling tepat untuk melakukan “instal ulang” atau servis besar terhadap kondisi spiritual. Secara biologis dan spiritual, puasa diyakini mampu mempersempit pembuluh darah yang sering menjadi jalur pergerakan setan di dalam tubuh manusia. Hal ini selaras dengan pesan Rasulullah SAW, bahwa setan berlari di dalam tubuh manusia melalui aliran darah, maka persempitlah jalannya dengan rasa lapar melalui ibadah puasa yang sungguh-sungguh.

Sebagai langkah konkret pembersihan hati, Kiai Musthofa memberikan dua resep utama:

Pertama, Istighfar: Berfungsi sebagai pengkilap untuk noda-noda dosa yang mulai kusam. Ia mencontohkan, Rasulullah SAW sendiri yang sudah ma’sum, tetap ber-istighfar 70 hingga 100 kali dalam sehari sebagai bentuk edukasi bagi umatnya.

Kedua, Tilawah Al-Quran: Berperan sebagai pembersih karat pada hati yang sudah lama tertumpuk kotoran duniawi. Kiai Musthofa mengingatkan, bahwa satu huruf Al-Quran dibalas dengan sepuluh kebaikan, seperti membaca “Alif Lam Mim” yang dihitung sebagai tiga huruf atau tiga puluh kebaikan yang akan menerangi hati.

Di akhir ceramah, narasumber mengajak jamaah di Masjid Al-Manaar untuk memanfaatkan bulan suci ini dengan memperbanyak interaksi bersama Al-Quran secara konsisten. Target utamanya adalah agar setelah Ramadan usai, hati kembali bersih dan kinclong, sehingga mampu memancarkan perilaku yang lebih baik, tenang, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. (*)

 

Author