GIRIMU.COM –– Memasuki bulan Ramadan 1447 H, Masjid At-Taqwa Melirang, Bungah, Gresik menggelar agenda bertajuk Pengajian Spesial Ramadan Jelang Berbuka. Acara yang berlangsung pada Ahad (8/3/2026) sore, menghadirkan tokoh pendidikan sekaligus praktisi manajemen, Dr Syamsul Ma’arif, MPSDM sebagai penceramah.
Dalam ceramahnya, Dr Syamsul Ma’arf menekankan, bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah “madrasah” atau tempat pendidikan untuk mendisiplinkan diri secara lahiriah maupun batiniah. Sebagai pakar di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), ia menarik garis lurus nilai-nilai ibadah dengan profesionalisme di dunia kerja.
”Dalam dunia profesional atau dunia kerja, disiplin itu adalah kunci,” ungkap Dr Syamsul Ma’arf di hadapan jamaah. Dijelaskan, Islam telah menanamkan fondasi kedisiplinan melalui jadwal salat lima waktu yang presisi, serta penetapan waktu imsak dan berbuka puasa yang tidak boleh dilanggar. Menurutnya, jika nilai kedisiplinan ibadah ini ditransformasikan ke dalam pekerjaan atau usaha, maka kemajuan nyata bagi umat Islam akan mudah tercapai.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur ini mengingatkan para jamaah agar tidak menjadi golongan orang yang merugi.
“Orang yang merugi adalah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Dan orang yang celaka adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin,” tegasnya mengutip nilai filosofis Islam.
Ia mendorong warga Melirang agar menjadikan Ramadan tahun 2026 ini sebagai momentum transformasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain aspek individu, Dosen Luar Biasa FISIP Unair ini juga menyoroti pentingnya penguatan aspek sosial atau hablum minannas. Dr Syamsul Ma’arif berharap, Masjid At-Taqwa Melirang dapat memfungsikan diri sebagai pusat peradaban desa, tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga sebagai ruang belajar dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Di akhir kajiannya, Direktur GAMA Group Companies ini mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kualitas puasa dengan meluruskan niat serta menjaga lisan dan hati. Kajian ditutup dengan sesi diskusi interaktif sembari menunggu kumandang adzan Maghrib untuk menikmati menu spesial buka puasa berupa lontong sayur yang disediakan oleh ibu-ibu Aisyiyah. (*)





