Girimu.com — Di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk mengejar angka, capaian akademik, dan percepatan teknologi, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik Kota Baru (GKB) memilih memulai tahun ajaran baru dengan sesuatu yang lebih mendasar: membangun kembali adab dalam pendidikan.
Kegiatan ini melibatkan empat sekolah Muhammadiyah di lingkungan GKB, yakni SD Muhammadiyah GKB 1 (Mugeb Primary School), SD Muhammadiyah GKB 2 (Berlian Primary School), SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas), dan SMA Muhammadiyah 10 GKB (Smamio).
Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 07.00 WIB, Aula SD Muhammadiyah GKB 2 (Berlian Primary School) dipenuhi puluhan peserta sesi pertama dari jenjang Sekolah Dasar, yaitu Mugeb Primary School dan Berlian Primary School. Mereka hadir dalam kegiatan pembekalan persiapan Tahun Pelajaran 2026–2027 bertajuk Strengthening Adabic Pedagogy for MGKB Schools Teacher. Sesi kedua diikuti guru Spemdalas dan Smamio. Namun, lebih dari sekadar agenda rutin menjelang tahun ajaran baru, forum ini menjadi ruang refleksi tentang arah pendidikan Muhammadiyah di tengah tantangan zaman.
Di forum itu, pendidikan tidak lagi dibicarakan hanya sebagai proses transfer ilmu, melainkan sebagai upaya membentuk manusia berkarakter melalui adab.
Ketua Majelis Dikdasmen-PNF PCM GKB, Fiqih Risallah, MA, PhD, menegaskan, bahwa seluruh program pendidikan harus kembali diarahkan pada pembentukan karakter dan nilai.
“Kegiatan ini sebagai pra-RKAS. Mari kita review kembali RKAS dan menjadikan seluruh kegiatan serta standar proses di sekolah arahnya pada pembentukan adab,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penanda penting, bahwa penyusunan program sekolah tidak lagi hanya berorientasi pada target administratif atau akademik semata. Adab ditempatkan sebagai inti dari seluruh proses pendidikan.
Konsep Adabic Pedagogy adab pendidikan) yang diangkat dalam pembekalan ini berpijak pada gagasan bahwa pendidikan ideal tidak berhenti pada proses transfer informasi, fakta, dan pengetahuan teoritis (ta’lim) dan Pembinaan holistik yang mencakup perkembangan fisik, mental dan spiritual (tarbiyah), tetapi harus bermuara pada ta’dib: penanaman nilai, etika, serta kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat dan proporsional.
Dalam perspektif ini, guru tidak cukup hanya menjadi pengajar (mu’allim), melainkan juga pembimbing (murabbi) dan mentransformasikan karakter peserta didik menuju akhlak dan perilaku yang mulia (mu’addib). (*)
