Memaknai Pesan Al-Insyirah dalam Halal Bialal Lazismu Gresik

Reporter: Dyah Faridah

GIRIMU.COM — “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Qs. Al-Insyirah 7-8)

Aroma bulan Ramadan masih terasa hingga saat ini, menenangkan dan menyejukkan. Hal inilah yang mendasari Lazismu Gresik mengadakan halal bihalal pada Sabtu (4/4/2026) yang dihadiri oleh seluruh Tim Kantor Layanan Lazismu (KLL). Setiap ucapan maaf mulai terlontar dari lisan peserta, satu per satu. Mereka berharap bisa termaafkan kesalahan yang lalu dan kembali menyambut hari dengan bahagia di masa yang akan datang.

Demi memperdalam makna halal bihalal ini, Ketua Badan Pengurus Lazismu Kabupaten Gresik, Abdul Rojak, SPd, MPd, mengutarakan bagaimana awak Lazismu bisa tetap termotivasi untuk terus maju dalam tausiyahnya.

“Al-Insyirah ayat 7 dan 8 merupakan surat dalam Al-Quran untuk memotivasi Rasulullah setelah sekian lama wahyu tidak turun. Surat ini juga bisa menjadi motivasi bagi kita. Bukan berarti setelah bulan Ramadan selesai, kita sudah mencapai apa yang diinginkan, kita lalu beristirahat,” ujar Rojak.

Apresiasi diberikan oleh Rojak kepada seluruh tim lazismu Gresik yang telah menjalankan tugas selama di bulan Ramadan, hingga ada peningkatan dalam penghimpunan dana sebesar Rp 1,03 miliar.

Allhamdulillah, semoga ini menjadi penyemangat, karena ritme kita sudah mulai tertata,” ucapnya.

Rojak juga mengungkapkan, bahwa salah satu tanda puasa seseorang diterima adalah adanya semangat dalam melakukan amalan dan kebaikan pada diri sendiri tidak akan melemah. “Salat jamaah tetap terjaga, baca Qurannya tetap terjaga, ibadah puasa sunnah dilengkapi. Istirahat kita di waktu tidur, selain itu waktunya kita ber-fastabiqul khairat,” tuturnya.

Rojak juga menyampaikan bagaimana zaman saat ini berubah yang awalnya dunia nyata menjadi dunia layar. Manusia, kata Rojak, tak lepas dari yang namanya media sosial, bahkan anak-anak pun mulai overdosis dalam mengonsumsi dunia maya ini. Sampai pemerintah membuat peraturan pembatasan media sosial. Memaknai fenomena ini, Rojak menuturkan, bahwa setiap insan juga dibatasi dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

“Kita sibuk dengan status dan komentar tanpa merasa, bahwasanya apa yang kita tulis bisa jadi bukan dicatat oleh malaikat Raqib, melainkan Atid (malaikan pencatat amal keburukan, Red). Perlu diingat dalam surat Qaf ayat 18 dijelaskan, bahwa setiap ucapan manusia, baik maupun buruk diawasi dan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid yang selalu hadir di sisi-Nya. Maka dari itu, mari kita berhati-hati,” katanya mengingatkan.

Sebagai penutup, Rojak menyampaikan, bahwa apa yang disampaikan bisa menjadi pengingat, “Luka oleh pedang bisa sembuh, tapi luka oleh kata-kata sulit untuk sembuh.” (*)

 

Editor