Girimu.com — Halaman SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik dipadati lebih dari 700 siswanya, Senin, 4 Mei 2026. Wajah-wajah penuh ingin tahu menatap ke satu titik yang sama: podium sederhana, tempat sejarah sekolah yang baru akan diumumkan.
Langit membiru cerah, matahari bersinar hangat, seolah ikut merestui lahirnya pemimpin baru Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Spemdalas. Sorak sorai, tepuk tangan, dan bisik antusias pun saling bersahutan. Momen ini bukan sekadar pengumuman, melainkan puncak dari perjalanan panjang demokrasi pelajar yang telah dimulai sejak pekan lalu.
Kepala Spemdalas, Yugo Triawanto, MSi, membuka acara dengan pesan yang hangat, namun sarat makna. Ia menegaskan, bahwa pergantian kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan dalam setiap organisasi. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada ketua IPM sebelumnya, Arya Bima Arrasyid, yang dinilai telah berhasil mengantarkan organisasi menuju fase kepemimpinan berikutnya.
Di balik kemeriahan hari itu, tersimpan proses panjang yang penuh pembelajaran. Pembina IPM, Octaria Wahyu Ningtias, SPd, menjelaskan, rangkaian pemilihan dimulai dari penjaringan calon, penyampaian visi dan misi, hingga proses voting yang melibatkan seluruh elemen sekolah, yakni siswa, guru, dan karyawan. Persiapan pengumuman pun dilakukan secara matang, mulai dari koordinasi panitia hingga memastikan hasil dapat disampaikan secara transparan.
Rangkaian tersebut meliputi orasi visi misi pada Jumat, 24 April, dan voting pada Selasa, 28 April 2026. Dari tiga kandidat yang berkompetisi, Fulki Asyam Tsaqif dengan perolehan suara 26,4%, Azalia Mercyana Zahirah (17,5%), dan Alaric Az Zahidi Ariwibowo (56,1%). Nama terakhir akhirnya diumumkan sebagai Ketua IPM Spemdalas periode 2025–2026.
Sorak sorai seluruh siswa pecah, mengiringi langkah Alaric Az Zahidi Ariwibowo yang maju ke podium. Dalam pidato kemenangannya, ia menyampaikan, motivasinya mencalonkan diri adalah untuk mengembangkan IPM Spemdalas menjadi lebih baik. Baginya, organisasi pelajar adalah ruang untuk membimbing dan memotivasi rekan-rekan dalam mencapai tujuan bersama.
Program prioritas yang diusungnya:IPM Connect, diharapkan menjadi jembatan kolaborasi dengan organisasi atau sekolah lain. Ia juga menegaskan pentingnya budaya kerja sama agar setiap anggota IPM dapat berkembang dan berpartisipasi secara aktif. Bahkan, ia menegaskan, bahwa sejak awal hingga setelah pengumuman, ia tetap memandang dua kandidat lainnya sebagai rekan seperjuangan—cerminan sikap sportivitas yang kuat.
Kawah Candradimuka
Lebih dari sekadar organisasi, IPM di Spemdalas menjadi ruang strategis pembentukan karakter. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ichwan Arif, SSos, MHum, yang menyebut IPM sebagai bagian integral dari sistem pendidikan sekolah. Menurutnya, IPM adalah tempat siswa belajar kepemimpinan, tanggung jawab, dan keterampilan sosial secara nyata.
Ia menekankan, bahwa kepemimpinan tidak terbentuk secara instan. Siswa perlu melalui proses, pengalaman, serta pembiasaan nilai, seperti integritas, kerja sama, dan komunikasi sebagai bekal masa depan. Untuk mendukung hal tersebut, sekolah menyediakan berbagai fasilitas, seperti Ruang Kader Sang Pencerah sebagai pusat kaderisasi dan koordinasi, serta Dalas Store sebagai wadah praktik kewirausahaan siswa. Pelatihan kepemimpinan dan kegiatan studi tiru juga terus dikembangkan guna memperluas wawasan siswa.
Pengumuman ketua IPM ini pun mendapat apresiasi sebagai bagian penting dari pendidikan demokrasi di sekolah. Harapannya, kepengurusan baru mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, merangkul seluruh anggota, dan menghadirkan program yang berdampak nyata.
Momen ini bukan hanya penutup dari rangkaian pemilihan, melainkan ruang pembelajaran yang bermakna. Di bawah langit biru cerah pagi itu, Spemdalas menegaskan komitmennya dalam melahirkan pemimpin muda—bahwa dari proses inilah akan tumbuh generasi yang siap melangkah lebih jauh, menjadi tokoh bangsa di masa depan. (*)
