GIRIMU.COM — Kamis (15/1/2026) pagi halaman kantor SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Jawa Timur terlihat beda. Gelaran tikar terpal berwarna biru dan hijau memenuhi halaman depan sekolah berkonsep alam itu.
Pagi ini ada kegiatan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan menghadirkan guru MTs Muhammadiyah 15 (Mulimas) Al Mizan Lamongan Ustadz Alfain Jalaluddin Ramadlan sebagai penceramah.
Ketua Bina Prestasi Mulimas ini membawakan tema ceramah “Momentum Meneguhkan Nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin “. Dia mengawalinya dengan kesedihan yang dialami Rosulullah Muhammad SAW saat itu. Saking galaunya Nabi, kejadian ini (kegalauan Nabi) pernah menjadi nama tahun, yang orang-orang Arab ketika itu sering menyebutnya sebagai “tahun kesedihan” atau bahasa Arabnya adalah ‘amul husni.
Adapun yang menjadi penyebab sedihnya nabi ketika itu adalah karena ditinggal oleh pamannya, Abu Thalib dan dalam waktu hampir bersamaan menyusul ditinggal oleh istrinya, Khadijah.
Apalagi di saat seperti itu, sambungnya, kondisi umat Islam juga dalam posisi yang sangat menyedihkan. Umat Islam diboikot di sebuah lembah yang disebut “Syib”. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, tidak ada makanan, tidak ada jual beli dan lainnya. Melihat kondisi sosial politik Umat Islam yang sangat lemah itu membuat perasaan Nabi bertambah semakin sedih.
Ustadz Alfain Jalaluddin menunjukkan cara Allah menghibur kekasih-Nya itu dengan di-Isra’-kan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dan dengan di-Mi’raj-kan, artinya nabi dipanggil oleh Allah menghadap ke hadapannya secara langsung di sidratul muntaha.
Ia lalu menceritakan kisah Isra’ dan Mi’raj. Dipaparkan, Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung, yaitu Allah Subhanahu wa Taala (SWT) memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad SAW untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril, dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta.
Ia melanjutkan, penegasan ini sebagaimana firman Allah dalam surat Isra’ ayat 1: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Ia lalu menyampaikan hadist riwayat Imam Bukhari yang mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52. Intisarinya adalah: Suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan menyucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula.
Ustadz Alfain Jalaluddin lalu melanjutkan ceritanya, setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai buraq dengan diantar oleh Malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.
Di langit dunia ini, sambungnya, Nabi bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam (AS), Jibril menunjukkan, bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi. Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam, berikutnya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad.
Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa. Nabi Musa pun menangis, karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim.
Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya. Selanjutnya Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu. Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan, bahwa susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya.
Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah SWT dan mewajibkan melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan dalam perjalanan bertemu Nabi Musa. Ia mengingatkan, bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari.
Nabi Musa mengatakan, umatnya telah membuktikan. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali kepada Allah SWT, untuk mohon keringanan untuk umatnya. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali.
Ustadz Alfain Jalaluddin lalu mengakhirkan kisahnya, kemudian Nabi Muhammad kembali , dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Nabi Musa tetap mengatakan, bahwa umat Muhammad tidak akan kuat. Nabi Muhammad menjawab: “Saya malu untuk kembali menghadap pada Allah dan ridha serta pasrah kepada Allah”. (*)
Kontributor: Mahfudz Efendi






