Girimu.com — Memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), para pendidik dari Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Gresik berkumpul dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Kamis (7/5/2026). Acara ini menjadi momentum refleksi sekaligus akselerasi bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman.
Suasana diskusi panel yang dipandu oleh Ketua FGM Kabupaten Gresik, Ria Pusvita Sari, MPd, mendadak hangat saat Pahri, SAg, MM, naik ke podium. Direktur Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sekolah Muhammadiyah yang juga Mudir Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi ini memaparkan materi bertajuk “Delapan Langkah Menuju Sekolah Jawara”.
Dalam kesempatan itu, Pahri menekankan, bahwa fondasi utama sekolah unggul adalah peneguhan visi Islam berkemajuan. Berdasarkan pengalamannya mengunjungi sekolah Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke, ia pun menarik satu kesimpulan krusial.
”Sekolah yang mampu bertahan dan melampaui zaman adalah sekolah yang ideologi Al-Islam dan ke-Muhammadiyahannya berjalan kuat,” tegas Pahri.
Ia mengingatkan peserta simposium pada sosok Kiai Ahmad Dahlan. Sang pendiri Muhammadiyah itu, lanjutnya, mampu mempertahankan institusi pendidikan di tengah keterbatasan sarana, karena memiliki ideologi yang mantap. Menurutnya, jika ideologi sudah meresap, pengabdian tidak lagi diukur semata-mata dengan materi atau uang.
Salah satu praktik nyata yang ia contohkan adalah penerapan Morning Spiritual Gathering selama 30 menit setiap pagi untuk mengisi “baterai” semangat spiritual para guru.
Delapan Langkah Mewujudkan Pendidikan Unggul
Dalam presentasinya, Pahri merumuskan delapan peta jalan yang harus ditempuh sekolah Muhammadiyah untuk menjadi institusi “jawara”, yakni:
1. Peneguhan Visi Islam Berkemajuan: Menjadikan nilai iman, ilmu, dan amal sebagai fondasi utama penggerak sekolah.
2. Kepemimpinan Transformatif: Kepala Sekolah harus memiliki mimpi besar, visi luas, serta cara berpikir yang melampaui batas ruang dan waktu (inovatif dan adaptif).
3. Peningkatan Kompetensi PTK: Pendidik dan Tenaga Kependidikan wajib menjaga performa, aura positif, ketertiban, dan disiplin. Guru harus menjadi role model akhlak sekaligus profesionalisme.
4. Kurikulum Adaptif dan Integratif: Menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan akar nilai Muhammadiyah.
5. Pembinaan Prestasi: Fokus pada pengembangan potensi siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
6. Fasilitas Sarana dan Prasarana: Menyediakan lingkungan belajar yang representatif dan mendukung proses digitalisasi pendidikan.
7. Target SPMB Naik 200%: Mendorong strategi pemasaran dan penerimaan siswa baru secara masif dan terukur.
8. Kekuatan Doa
Simposium ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial Hardiknas, tetapi menjadi titik balik bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia untuk kembali ke khitah pendidikan yang unggul, berkemajuan, dan berdaya saing global. (*)







