Girimu.com – Senin (13/7/2026) menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Jawa Timur. Bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2026–2027 atau First Day School (FDS), SDMM menghadirkan rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang penuh makna dengan tema “MPLS Ramah – Srawung Bocah Riangtara”.
Konsep Srawung Bocah Riangtara dirancang untuk menciptakan ruang interaksi yang membuat siswa baru dapat saling mengenal, berbaur, dan membangun kebersamaan tanpa rasa canggung. Nuansa budaya Jawa Timur turut mewarnai kegiatan tersebut dengan menghadirkan Grup Seni Reog Ponorogo Seni Giri Budoyo dari Gresik.
Kegiatan FDS SDMM semakin istimewa karena dibuka langsung oleh Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Arif Jamali Muis, M.Pd. Beliau hadir didampingi Kepala UPT LPABK Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Renyta Yuniarti Ningtyas, M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Arif Jamali Muis juga meresmikan Ruang Terapi TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication-Handicapped Children) di SDMM.
Ruang TEACCH merupakan fasilitas khusus yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran, terapi, serta peningkatan kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus melalui pendekatan yang lebih terstruktur. Ruangan ini berada di lantai III Gedung Innovative, bersebelahan dengan ruang kelas VI Taj Mahal.
Kehadiran ruang TEACCH merupakan bentuk komitmen SDMM dalam memperkuat layanan pendidikan inklusi. Program ini berawal dari keterlibatan SDMM sebagai perwakilan Kabupaten Gresik dalam pelatihan inklusi intensif selama 20 hari di Sidoarjo.
Melalui ruang tersebut, SDMM berupaya memberikan intervensi pembelajaran berbasis visual dan spasial yang sesuai dengan kebutuhan siswa, khususnya bagi anak dengan hambatan komunikasi dan interaksi seperti Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
“Dengan adanya ruang TEACCH ini, kami ingin memberikan fasilitas terapi dan pembelajaran yang lebih terstruktur agar siswa dapat belajar dengan lebih fokus, nyaman, serta mampu meningkatkan regulasi diri, kemandirian, kemampuan akademik, dan sosial mereka,” ujar pihak SDMM.
Ria Eka Lestari, Penanggung Jawab Ruang Bahagia SDMM, menyampaikan bahwa sekolah ingin membuktikan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya sebatas menerima siswa berkebutuhan khusus secara administratif, tetapi juga memberikan pendampingan dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.
Apresiasi Dirjen terhadap Layanan Inklusi SDMM
Dalam kunjungannya, Arif Jamali Muis, M.Pd. memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya SDMM dalam menghadirkan layanan pendidikan inklusi yang komprehensif.
Menurutnya, SDMM tidak hanya menunjukkan keunggulan dalam bidang akademik dengan capaian sebagai peringkat 2 Puspresnas, tetapi juga menunjukkan kepedulian besar dalam memuliakan anak-anak berkebutuhan khusus melalui keberadaan Shadow Teacher dan fasilitas terapi yang memadai.
Beliau mengaku terinspirasi dengan model layanan inklusi yang diterapkan SDMM. Sebagai tindak lanjut, SDMM diminta membuat video profil layanan inklusi sekolah yang akan dikonsultasikan bersama Tim IT Kementerian. Video tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh bagi satuan pendidikan lain di seluruh Indonesia.
Saat ini, SDMM memiliki 9 peserta didik penyandang disabilitas (PDPD) yang mayoritas memiliki diagnosis ASD dan ADHD. Untuk memastikan hak belajar serta kenyamanan mereka terpenuhi, setiap siswa mendapatkan pendampingan personal dari 9 orang Shadow Teacher (Guru Pembimbing Khusus) yang mendampingi aktivitas pembelajaran dan terapi mereka sehari-hari.
Melalui penguatan fasilitas dan layanan inklusi ini, SD Muhammadiyah Manyar terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang ramah, setara, dan mampu memenuhi kebutuhan setiap peserta didik.
Reporter: Muhammad Ilham Yahya









