Tarawih Hari Ketiga di Musholla Al-Jihad Giri Gajah, Ustadz Hilmi: Ramadhan Saatnya Membentuk Pribadi Bertakwa

Kontributor: Lilik Isnawati

Kabar6 Dilihat
banner 468x60

GIRIMU.COM — Suasana penuh semangat dan kekhusyukan terasa pada pelaksanaan salat Tarawih hari ketiga di Musholla Al-Jihad Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Giri Gajah,  Kebomas, Gresik, Kamis (19/2/2026) malam. Jamaah yang hadir mengikuti rangkaian ibadah penuh antusias, dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Hilmi, Wakil Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas.

Dalam tausiyah-nya, Ustadz Hilmi mengajak jamaah untuk memahami, bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan merupakan momentum besar untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di sinilah kita dilatih untuk sabar, disiplin, dan mengendalikan diri, agar menjadi pribadi yang bertakwa,” tegasnya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al Quran, Surat Al-Baqarah ayat 183:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Ustadz Hilmi menjelaskan, tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan pelakunya. Saat seseorang mampu menahan diri dari makan dan minum yang sebenarnya halal, maka seharusnya ia juga mampu menahan diri dari segala yang diharamkan, seperti berkata kasar, berbohong, marah berlebihan, dan perbuatan dosa lainnya. Menurutnya, orang yang bertakwa adalah mereka yang taat menjalankan perintah Allah dan bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan, lanjutnya, tidak hanya terlihat dari ibadah ritual, tetapi juga dari akhlak sehari-hari misalnya jujur, amanah, sabar, rendah hati, dan peduli kepada sesama.

Ia kemudian memaparkan langkah-langkah untuk menjadi pribadi bertakwa, di antaranya meluruskan niat karena Allah, menjaga salat wajib tepat waktu, memperbanyak membaca Al-Quran, memperbanyak dzikir dan istighfar, serta melatih kesabaran dalam setiap keadaan.

“Ketakwaan tidak datang tiba-tiba, tetapi dibangun dari kebiasaan baik yang terus dijaga, terutama di bulan Ramadan ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hati dengan mengutip hadits Rasulullah SAW:
“Ketahuilah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Hilmi menekankan, hati adalah pusat dari segala perilaku. Jika hati bersih dan dipenuhi iman, maka ucapan dan tindakan akan baik. Sebaliknya, hati yang kotor akan melahirkan sikap buruk.

“Hati yang baik akan menuntun kita ke jalan yang baik. Maka Ramadan adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati dari iri, dengki, sombong, dan segala penyakit hati,” pesannya penuh semangat.

Menutup kultumnya, Ustadz Hilmi mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan diri. Ia juga mengingatkan agar selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati tetap istiqamah dalam kebaikan.

“Semoga Ramadan ini menjadikan hati kita lebih hidup, lebih dekat kepada Allah, dan selalu menuntun kita dalam kebaikan. Jangan lupa, selalu berdoa agar Allah menjaga hati kita dan melindungi kita dari jalan yang salah,” pungkasnya. (*)

Author