Muhammadiyah • Oct 15 2022 • 28 Dilihat
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Mengupas Maulid Nabi dalam perspektif budaya, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah , Tafsir menyebut bahwa setiap syariat yang pasti akan menghasilkan fiqih dan budaya keagamaan, dan itu melanda di semua agama.
Budaya keberagamaan memiliki kaitan dengan fikih, jika dalam urusan fiqh terdapat perbedaan, maka budaya keagamaan tentu memiliki lebih banyak keberagaman. Ruang dan tempat, imbuh Tafsir, sangat berpengaruh dalam pandangan atau produk fikih, terlebih dalam budaya keagamaan.
“Itulah maka akan ada sedemikian ragam yang akan muncul budaya keagamaan di tengah-tengah kita sebagai ekspresi dalam beragama, atau dalam mencintai agamanya”. Ungkap Tafsir, Jumat (14/10) di acara Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang disiarkan secara online.
Dalam konteks masyarakat Islam, hari besar dapat dibedakan menjadi dua yaitu hari besar secara syariat dengan hari besar secara budaya. Tafsir menyebut, hari besar secara syariat sudah disebutkan secara jelas dalam dalil-dalil, seperti hari Idul Fitri, Iduladha dan hari Jumat. Tapi disisi lain ada hari besar secara budaya, salah satunya adalah Maulid Nabi.
Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), menurutnya jika dilaksanakan akan menjadi daya tarik bagi kalangan muda lebih-lebih untuk aktif menyemarakkan masjid. Tidak bisa dipungkiri perayaan PHBI menjadi daya tarik, dan dari situ memunculkan aktivis-aktivis atau kader persyarikatan dan kader umat yang berkualitas.
Selain menghasilkan hari besar secara budaya, kelahiran Nabi Muhammad juga menghasilkan ritus-ritus budaya, salah satunya adalah Sekaten di Yogyakarta. Maulid Nabi Muhammad juga melahirkan tradisi pesta atau makan-makan, juga memunculkan tradisi sastra sebagai ungkapan terhadap keagungan Nabi Muhammad.
“Kalau kita lihat di Jawa Tengah, yang pertama Maulid Ad-Diba’i dan yang kedua ada Maulid Barzanji, sebuah karya sastra yang berisi syair-syair cinta kepada Nabi Muhammad SAW.” Ungkap Tafsir.
Syair cinta yang ditujukan kepada Nabi Muhammad tersebut berisi muatan tentang nilai historis, tetapi juga ada nilai yang bersifat mitos-mitos. “Inilah Syair yang begitu dominan kita dengar mulai dari tanggal 1 sampai tanggal 12 Rabiul Awwal, masing-masing daerah biasanya ada kesukaan masing-masing”, tuturnya.
sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id
muhammadiyah.or.id adalah website resmi persyarikatan Muhammadiyah. Dan dikelolah oleh PP Muhammadiyah
View all postsmuhammadiyah.or.id adalah website resmi persyarikatan Muhammadiyah. Dan dikelolah oleh PP Muhammadiyah
MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA—Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menekankan pen...
MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA—Universitas Muhammadiyah Surakarta menjadi saksi berkumpulnya sekita...
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) harus menjadi arus ut...
MUHAMMADIYAH.OR.ID, KENDARI – Evangelis (Ev) Munfaridah dari Majelis Gereja Kebangunan Kalam Allah...
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Manhaj Tarjih Muhammadiyah dirancang untuk menjaga relevansi dan ...
MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Dalam wawancara yang disiarkan pada Sabtu (24/08) di acara ROSI, Kom...
No comments yet.