Kambing Mainan di Tangan Jagal Cilik: ‘KB Aisyiyah 8 Bungah Ajarkan Ikhlas Lewat Qurban

Reporter: Eva Maya

Berita Sekolah, Kabar3494 Dilihat
banner 468x60

Takbir berkumandang, bukan dari lapangan luas, melainkan dari sebuah kelas. Di Kelompok Bermain ‘Aisyiyah 8 Bungah, Girimu, Jum’at 22 Mei 2026, puluhan bocah bersemangat memerankan jagal, pemotong daging, hingga juru masak. Mereka tak menyembelih kambing sungguhan, tapi seutas makna keikhlasan dan kepedulian tersembul dari setiap gerak riang mereka dalam simulasi qurban.

Rangkaian praktik itu dimulai dari menyembelih hewan qurban mainan, memotong daging, menimbang, hingga membagi dan mengolahnya. Semua dilakukan dengan gembira, bagian dari topik akhir semester dua bertajuk “Indahnya berbagi saat berqurban.” Tujuannya sederhana namun mendalam: mengenalkan aneka hewan qurban, tata caranya, sekaligus menanamkan nilai agama dan kepedulian sejak dini melalui cara yang menyenangkan.

Sebelum praktik langsung, anak-anak diajak menyelami sejarah. Sebuah video tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diputar. “Kami ingin menunjukkan sejarah Islam pada anak tentang asal muasal penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha,” ujar Evi Maya Safitri, kepala Kelompok Bermain ‘Aisyiyah 8 Bungah. “Anak-anak masih minim pengetahuan sejarah Islam.”

Antusiasme terpancar jelas. Saat video diputar, mata-mata mungil itu tak berkedip. Bahkan, ketika Shofi, salah satu guru, bertanya, “Apa mimpi Nabi Ibrahim saat tidur?”, Rayyan, seorang murid, sigap menjawab lantang: “Disuruh golok anaknya.”

Momen paling ditunggu adalah simulasi potong qurban. Anak-anak tak sabar ingin terlibat. Guru memberi kebebasan memilih peran: jagal, pemotong, penimbang, pembagi, penerima, atau pemasak. Perebutan peran jagal pun terjadi, bahkan Jihan, seorang murid perempuan, tak mau kalah. “Aku pengen yang itu, Bu guru,” katanya sambil menunjuk tempat penyembelihan.

Kegembiraan dan keceriaan memenuhi ruangan. Mereka memerankan peran masing-masing dengan apik, tanpa berebut atau menyakiti teman. Mereka seolah sudah punya pengalaman, menuntaskan tugas dengan cekatan.

Simulasi ini diharapkan menjadi pengalaman spiritual menyenangkan, menumbuhkan rasa cinta pada sang pencipta dan ajarannya, serta menanamkan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama, mengasah nilai agama dan moral anak sejak dini.

Editor