Girimu.com – Suara ‘telolet… telolet….’ bersahut-sahutan menggema di halaman SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Selasa (14/7/2026). Keceriaan itu menjadi pembuka rangkaian Pagi Ceria dalam program MPLS Ramah “Srawung Bocah Riangtara” bagi siswa kelas 2. Melalui tema Petualangan Bus Tayo, para siswa diajak belajar berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun kepercayaan diri melalui permainan yang dekat dengan dunia anak.
Sejak pagi, seluruh siswa kelas 2 berkumpul di halaman sekolah. Kegiatan diawali dengan berbaris rapi sambil menyanyikan lagu Pesawat Terbang. Melalui gerakan tengok ke kiri dan tengok ke kanan, guru mengajak siswa mengatur jarak antarteman sehingga barisan menjadi lebih tertib sebelum memulai aktivitas pagi.
Suasana semakin semarak saat musik Senam Rukun Sama Teman diperdengarkan. Dengan penuh semangat, anak-anak mengikuti setiap gerakan bersama guru. Wajah-wajah ceria dan gelak tawa tampak menghiasi halaman sekolah, menciptakan energi positif untuk mengawali hari kedua MPLS.
Usai senam, seluruh siswa membentuk lingkaran besar yang memenuhi halaman sekolah. Dari sinilah permainan Mencari Teman dimulai. Guru memberikan berbagai instruksi yang harus segera diikuti siswa. Saat terdengar aba-aba, “Satu, siwa menjadi pesawat terbang,” anak-anak langsung bergerak mencari pasangan sesuai instruksi.
Tantangan kemudian berlanjut menjadi dua orang sebagai pengendara motor, tiga orang membentuk lampu lalu lintas, empat orang menjadi bunga yang sedang kuncup dan mekar, hingga akhirnya sepuluh orang membentuk kelompok Bus Tayo.
Sorak sorai dan tawa pecah ketika siswa berusaha menemukan kelompoknya masing-masing. Permainan sederhana tersebut tidak hanya melatih konsentrasi dan kecepatan berpikir, tetapi juga mengajak mereka saling mengenal dan bekerja sama dengan teman-teman baru.
Keseruan berlanjut melalui permainan pesan berantai. Dalam setiap kelompok Bus Tayo, siswa yang berada di barisan paling depan berperan sebagai sopir bus, sedangkan siswa paling belakang menjadi kondektur.
Sang sopir menerima informasi dari sebuah gambar yang dibisikkan oleh guru sebagai petunjuk awal. Tanpa memperlihatkan gambar tersebut, informasi harus disampaikan melalui bisikan secara berantai kepada seluruh kru bus hingga akhirnya diterima oleh kondektur. Tugas kondektur adalah menggambarkan kembali informasi yang diterimanya pada selembar kertas.
Saat hasil gambar dibandingkan dengan gambar asli, suasana halaman sekolah dipenuhi gelak tawa. Ada kelompok yang berhasil menyampaikan informasi dengan baik, tetapi ada pula yang menghasilkan gambar unik karena pesan berubah di sepanjang perjalanan.
Permainan semakin meriah karena setiap awal dan akhir permainan seluruh kelompok wajib membunyikan suara ‘telolet’ dengan gaya masing-masing. Berbagai versi suara klakson bus terdengar bersahutan, membuat halaman sekolah berubah menjadi arena bermain yang penuh keceriaan.
Pemandu kegiatan, Nur Aini Ochtafiya, MPd, mengatakan, bahwa Petualangan Bus Tayo dirancang agar anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.
“Anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa senang. Karena itu, Petualangan Bus Tayo kami rancang sebagai permainan kolaboratif yang dekat dengan dunia mereka. Melalui aktivitas ini, siswa belajar menyimak, menyampaikan informasi dengan jelas, bekerja sama dalam tim, sekaligus membangun kepercayaan kepada teman. Mereka bermain, tetapi di saat yang sama sedang mengembangkan keterampilan komunikasi yang akan sangat dibutuhkan dalam proses belajar,” jelasnya.
Setelah mengikuti Pagi Ceria, peserta didik kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti Toilet Training sebagai pembiasaan hidup bersih dan mandiri. Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan 7KAIH, sebelum seluruh siswa mengikuti sesi School Habit bersama Kepala SD Muhammadiyah Manyar, Athiq Amiliyah, SPd, di perpustakaan HACI.
Dalam suasana yang hangat, Ustadzah Athiq mengajak seluruh siswa menyanyikan Mars SD Muhammadiyah Manyar dan Hymne SD Muhammadiyah Manyar. Lagu-lagu tersebut menjadi media untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap sekolah sejak hari-hari pertama pembelajaran.
Selanjutnya, siswa dikenalkan dengan berbagai school habit yang menjadi budaya positif di SD Muhammadiyah Manyar. Materi diawali dengan pembiasaan 6S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Salim) sebagai bentuk penghormatan kepada guru, orang tua, dan teman. Anak-anak juga diajak membangun kebiasaan melaksanakan salat tepat waktu, bertutur kata yang baik dan santun, rajin belajar, menjaga kebersihan lingkungan, serta bertanggung jawab terhadap setiap tugas yang diberikan.
Penyampaian materi berlangsung interaktif. Ustadzah Athiq mengajak siswa berdialog, menjawab pertanyaan, dan memberikan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga suasana belajar terasa lebih menyenangkan. Menurut Athiq Amiliyah, pembiasaan karakter perlu ditanamkan sejak awal tahun ajaran agar menjadi budaya yang melekat dalam keseharian peserta didik.
“MPLS Ramah bukan hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menanamkan budaya positif sejak hari pertama. Melalui School Habit, kami ingin membiasakan anak-anak menerapkan nilai-nilai Islami dan karakter mulia, mulai dari 6S, disiplin beribadah, bertutur kata yang baik, rajin belajar, hingga peduli terhadap lingkungan. Harapannya, kebiasaan baik ini tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan mereka di rumah dan masyarakat,” tuturnya.
Keceriaan hari itu juga dirasakan Hanan Rahman Ihsan, siswa kelas 2 Ladybug. Baginya, belajar sambil bermain membuat hari kedua sekolah terasa lebih menyenangkan.
“Aku paling suka waktu jadi Bus Tayo. Aku harus membisikkan info gambar ke teman sampai yang paling belakang menggambarnya. Pas lihat hasil gambarnya, semuanya ketawa karena lucu-lucu. Terus waktu semua bus bunyi telolet juga seru sekali. Aku jadi senang sekolah karena bisa bermain dan belajar bersama teman-teman,” ungkapnya.
Melalui Petualangan Bus Tayo, SD Muhammadiyah Manyar menunjukkan, bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Permainan sederhana yang dikemas secara kreatif mampu menjadi sarana menumbuhkan keterampilan komunikasi, kolaborasi, konsentrasi, serta kepercayaan diri anak.
Sejalan dengan semangat MPLS Ramah “Srawung Bocah Riangtara”, setiap kegiatan dirancang agar peserta didik merasa diterima, bahagia, dan siap memulai perjalanan belajar di tahun ajaran baru. Sebab, bagi SD Muhammadiyah Manyar, hari-hari pertama sekolah bukan sekadar masa pengenalan lingkungan, melainkan awal membangun karakter dan kebiasaan baik yang akan terus tumbuh sepanjang proses pendidikan. (*)
