Ramadan Momentum Pengendalian Diri

wawasan3 Dilihat
banner 468x60

Oleh Rahmat Syayid Syuhur

Bulan Ramadan selalu kita yakini sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan menata kembali hubungan kita dengan Allah SWT. Karena itu, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bulan istimewa yang di dalamnya setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, pintu-pintu rahmat dibuka, serta kesempatan taubat terbentang luas bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada jalan-Nya.

Lebih dari itu, Ramadan juga menjadi madrasah pengendalian diri. Kita dilatih menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, bukan hanya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan emosi, amarah, dan kecenderungan untuk menyakiti orang lain. Puasa sejatinya membentuk kepekaan sosial, menumbuhkan empati, serta membangun kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Tujuan puncak dari seluruh rangkaian ibadah Ramadan tidak lain adalah lahirnya pribadi yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah, puasa diwajibkan agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah: 183). Takwa berarti mampu menjaga diri, menata sikap, dan menahan perilaku yang melanggar nilai kemanusiaan serta ajaran agama.
Namun, realitas di lapangan kadang justru bertolak belakang dengan nilai luhur tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat kembali dikejutkan oleh berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di sejumlah wilayah, khususnya di Kabupaten Gresik.

Salah satu peristiwa yang mencuri perhatian terjadi pada Minggu, 22 Februari 2026, di kawasan Gresik Kota Baru (GKB). Seorang warga yang tengah mencari sahur dilaporkan menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Di tempat lain, sebagaimana diberitakan media, seorang pelajar menjadi korban pembacokan yang dilakukan oleh kelompok gangster di kawasan Legundi, Krikilan, Driyorejo, Gresik, saat mengikuti patroli sahur untuk membangunkan warga.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kecamatan Panceng. Disinyalir terjadi tawuran antara warga Desa Campurejo dan warga Desa Banyutengah. Peristiwa itu bermula dari rombongan pemuda yang melakukan patroli sahur, kemudian berpapasan dengan kelompok pemuda desa lain. Adu mulut pun tak terhindarkan, hingga akhirnya berujung bentrok yang mengakibatkan dua orang mengalami luka bacok, Jumat (27/2/2026).

Rangkaian kejadian tersebut tentu membuat kita terperangah. Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh kedamaian justru ternodai oleh tindakan kekerasan, dendam, dan emosi yang tak terkendali. Tradisi patroli sahur sejatinya adalah aktivitas sosial yang mulia, bertujuan membangunkan masyarakat agar tidak terlambat makan sahur serta membangun semangat kebersamaan. Namun, ketika tradisi itu tidak dibarengi dengan kedewasaan, adab, dan pengendalian diri, niat baik pun dapat berubah menjadi musibah.
Inilah saatnya kita melakukan refleksi bersama.

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan, bahwa tantangan terbesar kita di bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan ego, gengsi, serta amarah. Kita perlu menanamkan kembali sikap saling menghormati, toleransi, dan menjaga persaudaraan antarsesama.Islam telah menegaskan bahwa seorang Muslim seharusnya menjadi sumber rasa aman bagi orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari kejahatan lisan dan tangannya.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6484)

Hadis tersebut memberikan pesan yang sangat kuat bahwa standar keimanan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menjaga lisannya dan tangannya dari menyakiti orang lain. Mencela saja dilarang, apalagi memukul, melukai, bahkan menumpahkan darah sesama Muslim.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW menegaskan:
“Setiap Muslim atas Muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
(HR. Sunan Ibn Majah).

Pesan ini menegaskan betapa mulianya posisi manusia dalam Islam. Melukai fisik, merampas harta, ataupun merendahkan martabat orang lain adalah dosa besar yang tidak sejalan dengan nilai takwa yang hendak kita raih melalui puasa.

Karena itu, Ramadan semestinya menjadi momentum memperkuat keimanan sekaligus mempererat persaudaraan. Kita perlu membangun budaya saling mengingatkan, bukan saling mengejek. Kita perlu menghidupkan semangat tolong-menolong, bukan adu kekuatan. Kita perlu membiasakan musyawarah, bukan main hakim sendiri.

Peran orang tua, pemuka Agama, tokoh masyarakat, pendidik, dan pemuda sangat penting dalam membangun suasana Ramadan yang damai. Tradisi patrol sahur, takbir keliling, dan berbagai aktivitas sosial hendaknya dikelola secara bijak, terkoordinasi, serta mengedepankan adab dan etika Islami. Anak-anak muda perlu dibimbing agar semangat kebersamaan tidak berubah menjadi ajang unjuk kekuatan kelompok.

Akhirnya, mari kita jaga kesucian Ramadan ini dengan memperbanyak amal saleh, memperhalus akhlak, serta memperkuat rasa persaudaraan. Ramadan adalah bulan rahmat, bulan penuh keberkahan, dan bulan ampunan. Jangan sampai ia ternodai oleh perbuatan-perbuatan yang justru menghapus pahala dan mendatangkan murka Allah.

Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menghadirkan perubahan nyata dalam diri kita, dari sekadar menahan lapar menjadi pribadi yang mampu menahan amarah, dari sekadar beribadah menjadi insan yang menebar kasih sayang, serta dari sekadar menjalankan tradisi menjadi hamba yang sungguh-sungguh bertakwa. (*)

*) Rahmat Syayid Syuhur, Wakil Ketua PCM Wringinanom dan Anggota MUI Kecamatan Wringinanom.

Author