Spirit Ramadan, Belajar pada Metaformosis Ulat dan Ular

Kontributor: Chanif Muslich 

Kabar, Keislaman7 Dilihat
banner 468x60

GIRIMU.COM — Rintik hujan yang turun sejak sore mengiringi pelaksanaan salat Tarawih dan kultum Ramadan hari ke-7 di Masjid Al Ikhlas Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ngembung, Kecamatan Cerme, Gresik, Jawa Timur, Senin (23/2/2026).

‎Dalam suasana yang sejuk tersebut, Ustadz M. Syaifullah, Bendahara Umum Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Cerme, menyampaikan kultum Ramadan bertema “Puasa Ulat dan Puasa Ular”. Dengan analogi sederhana namun sarat makna, ia mengajak jamaah memahami puasa sebagai proses transformasi diri.

‎Pada bagian pertama, ia mengisahkan ulat yang dikenal sebagai makhluk yang terus-menerus memakan daun. Namun, pada fase tertentu, ulat berhenti makan dan berdiam diri dalam kepompong. Proses menahan diri itulah yang kemudian mengantarkannya berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

‎Menurut dia, puasa memiliki makna serupa. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan pengendalian diri agar terjadi perubahan karakter. Jika ulat saja mampu bertransformasi karena proses menahan diri, manusia, lanjutnya, seharusnya lebih mampu menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan iman dan akhlak.

‎“Ramadan adalah kepompong kehidupan kita. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, kita akan keluar sebagai pribadi yang lebih sabar, lebih taat, dan lebih baik perilakunya,” ujar ustadz muda itu.

‎Analogi kedua yang disampaikan adalah tentang ular. Ular, katanya, juga “berpuasa” ketika hendak berganti kulit. Ia berdiam diri hingga kulit lamanya terlepas dari sekujur tubuhnya. Namun, meskipun nampak baru secara fisik, sifat aslinya tetap sama, tetap berbisa dan berbahaya.

‎Melalui perumpamaan tersebut, jamaah diingatkan agar tidak menjadikan Ramadan sekadar perubahan lahiriah. Ibadah yang meningkat selama bulan suci ini harus berdampak pada perubahan hati dan perilaku setelahnya. Transformasi yang diharapkan bukan hanya tampilan luar, melainkan perbaikan akhlak yang berkelanjutan.

‎Di akhir kultum, Ustadz Syaiful menegaskan, bahwa Ramadan menghadirkan dua pilihan: menjadi seperti ulat yang berproses lalu berubah menjadi lebih baik, atau seperti ular yang hanya berganti kulit tanpa perubahan hakiki. (*)

Author