Dari Ruang Kelas ke Panggung Dakwah, Guru Muhammadiyah Didorong Perkuat Ideologi dan Peran Perubahan

Pewarta: Mahfudz Efendi

Kabar70 Dilihat
banner 468x60

GIRIMU.COM — Di tengah dinamika dunia pendidikan yang kian kompleks, peran guru tak lagi berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru dituntut menjadi penggerak nilai, penanam ideologi, sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat. Pesan itu mengemuka dalam Pengajian dan Pembinaan Guru Karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik, Badrus Sholeh, S.E., sebagai penceramah dengan tema “Guru Muhammadiyah Berideologi Kuat: Dari Kelas Menggerakkan Dakwah, Memajukan Persyarikatan.”

Dalam pemaparannya, Badrus membuka kajian dengan mengutip kaidah penting dalam Islam, “Al-‘ilmu qobla al-qouli wal ‘amal”—ilmu harus didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Ia juga merujuk Surah Muhammad ayat 19 yang menegaskan pentingnya tauhid dan permohonan ampun kepada Allah sebagai fondasi kehidupan seorang Muslim.

Menurutnya, pemahaman ideologi menjadi kunci dalam membentuk karakter guru Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa ideologi berasal dari kata ideos (gagasan) dan logos (ilmu), yang berarti seperangkat nilai, cita-cita, serta cara mencapainya yang menjadi pedoman dalam berorganisasi.

“Guru Muhammadiyah harus memahami ideologi sebagai pijakan dalam bergerak, bukan sekadar konsep, tetapi menjadi arah dalam mendidik dan berdakwah,” ujarnya.

Ia juga menguraikan konsep manhaj sebagai metode atau jalan yang jelas dalam mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks Muhammadiyah, manhaj tersebut menekankan pada pemurnian akidah serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 36 dan Surah Al-Anbiya ayat 107.

Lebih lanjut, Badrus menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus dijalankan dengan pendekatan yang bijak. Ia merujuk Surah An-Nahl ayat 125 tentang pentingnya berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

“Bil hikmah berarti menyampaikan kebenaran dengan landasan ilmu yang kuat dan argumentasi yang meyakinkan. Sedangkan mau’izhah hasanah adalah penyampaian yang santun, disertai keteladanan nyata,” jelasnya.

Ia juga menyinggung karakter utama dakwah Muhammadiyah yang meliputi tajdid (pembaruan), purifikasi (pemurnian ajaran), dan wasathiyah (moderat).

Dalam konteks pendidikan, Badrus menekankan bahwa guru Muhammadiyah harus memiliki fondasi keilmuan yang kuat, khususnya dalam pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Pembinaan akidah dan pembentukan akhlak, menurutnya, harus menjadi prioritas utama dalam proses pendidikan.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing yang menanamkan nilai. Dari kelas, guru bisa menggerakkan dakwah dan membawa kemajuan bagi persyarikatan,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, ia mengingatkan bahwa setiap Muslim pada hakikatnya adalah seorang dai. Mengutip Surah Ali Imran ayat 104, ia menegaskan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab kolektif umat.

“Seorang dai tidak dibatasi profesi. Ia adalah agen perubahan, problem solver, dan siap berkorban—baik harta, pikiran, maupun tenaga—di jalan Allah,” ujarnya, merujuk pula pada pesan dalam Surah As-Shaff ayat 10–11.

Pengajian ini menjadi penguat bagi para guru dan karyawan SD Almadany bahwa peran mereka melampaui tugas administratif dan akademik. Dari ruang kelas, nilai-nilai Islam ditanamkan, dakwah digerakkan, dan masa depan persyarikatan dibangun secara berkelanjutan.

Editor