Girimu.com – Bagaimana jika seorang siswa mencoret tembok sekolah? Cukup dimarahi? Pertanyaan sederhana itu membuka gerbang pemahaman baru di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik. Bukan hukuman yang menanti, melainkan sebuah ajakan untuk merangkul tanggung jawab, membangun kesadaran dari dalam diri, seperti dalam kegiatan Penyusunan Keyakinan Kelas pada MPLS Ramah “Srawung Bocah Riangtara” siswa kelas 2, Rabu 15 Juli 2026.
Ria Eka Lestari, Penanggung Jawab Bimbingan dan Konseling, membagikan kisah nyata seorang siswa yang pernah khilaf mencoret tembok. Alih-alih dimarahi atau dihukum, siswa itu diajak membersihkan dan mengecat kembali tembok yang ia kotori. Didampingi guru dan dibantu petugas janitor, ia bekerja hingga tembok kembali bersih. Sebuah pelajaran bahwa setiap tindakan punya konsekuensi.
Cerita itu menyulut perhatian. Anak-anak diajak berimajinasi: kelas idaman seperti apa yang mereka inginkan? Jawaban mengalir deras: bersih, saling menyayangi, tidak mengejek, rajin belajar, berani meminta maaf, dan menjaga fasilitas sekolah.
Seluruh gagasan itu kemudian dirajut menjadi “Keyakinan Kelas”, sebuah komitmen bersama yang akan menjadi jantung budaya belajar mereka selama setahun ke depan.
Tak cukup sampai di situ, siswa juga diselami konsep “konsekuensi logis”, sebuah bentuk tanggung jawab saat seseorang berbuat salah. Ini bukan hukuman, melainkan jembatan yang menghubungkan tindakan dengan tanggung jawab penyelesaiannya.
Beberapa contoh dipaparkan: merusak fasilitas berarti memperbaiki atau mengganti, membuang sampah sembarangan berarti membersihkan kembali, menghilangkan barang teman berarti membantu mencari atau mengganti.
Mereka juga diajak memahami bahwa mengabaikan kewajiban punya dampak pada hak. Tak mengerjakan tugas berarti waktu bermain terpakai untuk menyelesaikannya. Mengotori lingkungan berarti harus membersihkannya.
Bahkan perilaku mengganggu teman pun tak dibalas dengan amarah. Ada “positive time out”, jeda refleksi bagi siswa. Mengganggu belajar berarti mengganti waktu belajar saat istirahat, berkata kurang baik berarti dibimbing mengucapkan kata santun.
Ria Eka Lestari, Penanggung Jawab BK SD Muhammadiyah Manyar, menuturkan bahwa “Keyakinan Kelas” adalah upaya membangun kesadaran dari dalam diri. “Kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap pilihan punya konsekuensi. Bukan untuk menakuti, tapi agar mereka belajar bertanggung jawab. Ketika disusun bersama, mereka merasa memiliki dan lebih siap menjalaninya,” ujarnya.
Nurul Mahmudiyah, Ketua Jenjang Kelas 2, menambahkan, budaya positif takkan tumbuh jika sekadar jadi aturan tempelan. “Kami ingin anak-anak tidak sekadar menghafal, tapi memahami alasan di balik menjaga kelas, menghormati teman, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan. Keterlibatan sejak awal akan menumbuhkan kebiasaan, bukan karena takut dihukum, melainkan karena sadar itu benar,” jelasnya.
Sebagai ikatan komitmen, kegiatan ditutup dengan penandatanganan “Keyakinan Kelas” oleh semua pihak. Sagara Alken Ilmi, siswa kelas II Bumblebee, mewakili rekan-rekannya, didampingi ayahnya sebagai wakil orang tua. Dari pihak sekolah, ada Nurul Mahmudiyah dan Ria Eka Lestari.
Momen itu menjadi simbol: membangun karakter bukan semata tugas sekolah, melainkan kolaborasi segitiga antara siswa, orang tua, dan guru. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan lahir dari tanggung jawab bersama.
SD Muhammadiyah Manyar, melalui “Keyakinan Kelas” dan “konsekuensi logis”, menghadirkan pembelajaran karakter yang tak berhenti pada nasihat. Anak-anak diajak mengalami, memahami, dan mempraktikkan langsung nilai tanggung jawab. Inilah ruh MPLS Ramah “Srawung Bocah Riangtara”: menumbuhkan budaya positif sejak hari pertama, agar setiap siswa mandiri, berkarakter, dan siap belajar sepanjang hayat.













