Gelar Seminar Nasional ‘Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas’, UMG Siap Kolaborasi Wujudkan Swasembada Pangan

Kabar2 Dilihat
banner 468x60

GIRIMU.COM — Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menggelar seminar nasional “Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas” di Hall Sang Pencerah UMG, Rabu (28/1/2026). Dalam seminar ini UMG menegaskan diri, siap menjadi mitra pemerintah untuk percepatan swasembada pangan.

Hadir sebagai pembicara utama dalam seminar ini, Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Dr (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM (Zulhas). Dalam seminar yang dihelat di lantai 8 kampus UMG ini, Menko Zulhas memaparkan visi besar pemerintah dalam membangun kedaulatan pangan yang mandiri.

Ia menegaskan, Indonesia harus berdaulat dan tidak boleh lagi bergantung pada pasokan pangan luar negeri. Penegasan ini demi menjaga eksistensi bangsa di tengah ketidakpastian global.

Dalam pemaparannya, Menko Zulhas juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi desa melalui pembentukan delapan puluh ribu Koperasi Desa (Kopdes) di seluruh Indonesia. Di Kabupaten Gresik, ditargetkan terdapat sekitar 300 Kopdes yang diharapkan mulai beroperasi pada Maret 2026. Kopdes ini dirancang sebagai pilar closed loop economy yang akan menyerap hasil bumi petani, peternak, dan nelayan dengan harga yang adil.

“Juga dilengkapi dengan penyeiaan fasilitas cold storage agar komoditas, seperti cabai dan ikan tidak cepat membusuk yang merugikan produsen lokal,” ujarnya.

Di hadapan ratusan peserta seminar, Menko Zulhas juga menyampaikan capaian sektor pertanian yang membanggakan. Dikatakan, pada tahun 2025 Indonesia mencatatkan sejarah dengan tidak mengimpor satu butir beras pun dan bahkan mengalami surplus beras lebih dari empat juta ton.

Keberhasilan ini, lanjutnya, didorong oleh reformasi sistem subsidi pupuk yang kini beralih dari sistem cost plus ke market to market. Dengan efisiensi anggaran subsidi sebesar Rp 44 triliun, pemerintah mampu menurunkan harga pupuk hingga 20% dan mengalokasikan dana sisa untuk pembangunan tujuh pabrik pupuk baru dalam lima tahun ke depan.

Sektor perikanan dan peternakan juga tak luput dari perhatian pemerintah. Menko Zulhas mengungkapkan rencana pembangunan 2.000 kampung nelayan tahun ini dengan total anggaran mencapai Rp 44,5 triliun untuk memastikan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Selain itu, pemerintah berkomitmen memanfaatkan lahan sitaan negara seluas 4 juta hektare untuk dikelola oleh UMKM dan masyarakat. Selain itu, pemerintah juga memberikan kesempatan kepada koperasi untuk mengelola tambang melalui sistem bagi hasil dengan negara. Hal ini demi pemerataan ekonomi yang sesuai dengan semangat Pancasila.

Sesi seminar menjadi semakin dinamis saat Rektor UMG Prof Dr Khoirul Anwar, SPd, MPd, memperkenalkan inovasi dari tim peneliti UMG di bawah pimpinan Prof Setyabudi. Tim ini berhasil mengembangkan varietas tebu unggul bernama ‘UMG’ dan ‘Setyabudi (SB)’ yang memiliki rendemen dan produktivitas tinggi.

Inovasi ini dianggap sebagai solusi atas tingginya biaya produksi gula di Indonesia yang mencapai Rp 12.000 per kilogram, jauh di atas Thailand yang hanya Rp 3.500 per kilogram. Hasil riset ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan industri gula Indonesia sebagaimana dialami pada masa lampau.

Merespons temuan tersebut, Menko Zulhas menyatakan komitmennya untuk membantu percepatan proses paten dan uji varietas di Kementerian Pertanian. Tak hanya itu, ia juga siap memfasilitasi dukungan infrastruktur riset melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Secara khusus, Menko Zulhas mengapresiasi semangat akademisi UMG yang terus berpikir kritis dan produktif. Ia menegaskan, negara yang unggul adalah negara yang memiliki sumber daya manusia cerdas dan mampu menghasilkan inovasi untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kualitas hasil pertanian nasional.

Mengakhiri paparannya, Prof Khoirul menegaskan kesiapan UMG untuk berkolaborasi dalam mengelola hutan tidak produktif menjadi lahan budi daya tebu besertifikat. Dengan target perluasan lahan gula nasional hingga 5 juta ton, kampus ber-home bas di Perumahan Gresik Kota Baru (GKB) ini siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.

“Dukungan pemerintah terhadap riset lokal adalah kunci bagi kita untuk tidak sekadar menjadi konsumen, tapi menjadi pemain utama di pasar pangan dunia,” pungkas Prof Khoirul. (red)

Author

Berita Yang lain