Girimu.com — Di tengah meningkatnya isu ketahanan pangan, limbah lingkungan, dan minimnya ruang hijau di kawasan perkotaan, Sekolah Dasar (SD) kini dituntut menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mampu membangun kepedulian dan keterampilan nyata siswa dalam menghadapi tantangan masa depan. Berangkat dari kondisi tersebut, proyek STEAMS Aqua Farming Inovasi Hijau untuk Keberlanjutan Bumi hadir sebagai ruang belajar kontekstual yang mengajak siswa memahami hubungan antara pangan, lingkungan, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.
Program pembelajaran berbasis STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Social) yang dilakukan siswa kelas IV SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) ini, mengubah area belakang sekolah menjadi ruang belajar hidup yang memadukan budi daya ikan, tanaman, dan pengolahan limbah organik dalam satu ekosistem pembelajaran berkelanjutan.
Kegiatan diawali dari tahap empathize dalam pendekatan Design Thinking. Siswa mengamati berbagai persoalan di lingkungan sekolah dan melakukan wawancara. Observasi dimulai dari pengamatan limbah sisa makan siang hingga lahan kebun sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tukang kebun sekolah dan chef penyedia makan siang dipilih siswa sebagai sumber belajar dalam kegiatan wawancara untuk mengalih permasalahan kontekstual.
Dari hasil pengamatan tersebut, siswa mulai mendefinisikan masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Mereka berdiskusi dan mencetuskan beberapa ide yang dapat diwujudkan sebagai solusi. Siswa kemudian merancang solusi sederhana melalui sistem Aqua Farming yang mengintegrasikan budi daya ikan dan tanaman sebagai bentuk pembelajaran kontekstual sekaligus edukasi ketahanan pangan sejak dini.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa makanan sehat tidak datang begitu saja, tetapi membutuhkan proses, kepedulian, dan kerja sama. Dari proyek ini, mereka belajar menghargai pangan dan lingkungan secara bersamaan,” ujar guru pendamping proyek, Siti Mariyanti, SPd, Kamis (21/5/2026).
Proyek Aqua Farming dinilai relevan dengan semangat keberlanjutan bumi, karena mengenalkan siswa pada konsep pangan sehat dan berkelanjutan. Tanaman seperti timun dan pakcoy yang ditanam siswa menjadi simbol sederhana bagaimana sekolah dapat membangun budaya hidup sehat melalui pembelajaran nyata. Selain itu, siswa juga belajar bahwa limbah organik dari sisa makan siang dapat diolah kembali menjadi kompos cair yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Pendekatan ini memperkenalkan konsep ekonomi sirkular dan keberlanjutan kepada siswa sejak usia dini.
“Kalau biasanya anak-anak hanya makan sayur, sekarang mereka tahu bagaimana sayur itu ditanam dan dirawat. Mereka jadi lebih peduli dan bangga dengan hasil tanamannya sendiri,” ungkap salah satu guru, Ilham Yahya, SPd.
Dalam proses pembelajaran, siswa bekerja secara kolaboratif untuk merancang dan membangun prototype Aqua Farming menggunakan bahan sederhana seperti ember, pipa, galon bekas, dan botol plastik. Kreativitas siswa semakin berkembang ketika mereka mulai membuat desain digital menggunakan Canva serta melakukan refleksi pembelajaran dengan bantuan Gemini AI. Integrasi teknologi ini membuat siswa terbiasa berpikir inovatif dan memanfaatkan teknologi secara produktif.
“Saya senang karena bisa membuat tanaman tumbuh bersama ikan. Ternyata barang bekas juga bisa dipakai jadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Aliyah Putri Wibowo, salah satu siswa kelas 4 Cordoba yang menjadi peserta proyek.
Tidak berhenti pada tahap pembuatan prototype, siswa juga melakukan perawatan rutin terhadap sistem Aqua Farming. Mereka bergiliran memberi pakan ikan, menyaring komposter cair, mengamati pertumbuhan tanaman, hingga mengevaluasi kondisi air.
“Aktivitas tersebut melatih tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembelajaran,” tutur Nur Aini Ochtafiya, MPd, Koordinator Proyek.
Manajemen sekolah menegaskan, proyek ini menjadi bukti, bahwa pembelajaran abad ke-21 perlu menghadirkan pengalaman nyata agar siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menciptakan solusi.
Sebagai puncak kegiatan, siswa menampilkan hasil proyek mereka dalam STEM Fest yang digelar di Gress Mall, Sabtu (16/5/2026) lalu. Prototype Aqua Farming dipamerkan lengkap dengan dokumentasi tahapan Design Thinking, presentasi siswa, hingga dokumentasi kreatif yang menggambarkan perjalanan belajar siswa. Antusiasme pengunjung terlihat ketika siswa dengan percaya diri menjelaskan bagaimana proyek sederhana tersebut dapat menjadi langkah kecil menuju masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Anak-anak tidak hanya belajar akademik, tetapi juga belajar menjadi generasi yang peduli terhadap pangan, lingkungan, dan masa depan,” tutur Ketua Jenjang Kelas IV, Rika Maharani, SPd.
Melalui STEAMS Aqua Farming Inovasi Hijau untuk Keberlanjutan Bumi, sekolah menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Dari kolam kecil dan tanaman hijau di halaman belakang sekolah, lahir pengalaman belajar yang mengajarkan bahwa inovasi dapat dimulai dari hal sederhana. Ketika anak-anak diberi ruang untuk berpikir, mencoba, dan berkarya, mereka bukan hanya menjadi pelajar, tetapi juga calon inovator masa depan. (*)






