Ustadz Soedjono Kupas Rahasia Keluarga Sakinah ala Nabi Ibrahim di Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah Cerme

Reporter: Mardiyana Zulifah

Kabar2120 Dilihat
banner 468x60

Halaman Perguruan Muhammadiyah Cerme, Kabupaten Gresik, dipadati ratusan jamaah sejak Ahad pagi, 24 Mei 2026. Mereka datang bukan hanya untuk mengikuti Pengajian Ahad Pagi yang rutin digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cerme, tetapi juga untuk menyimak tausiyah penuh hikmah dari dai yang dikenal dengan gaya dakwah jenaka dan membumi, Badrus Soedjono.

Dengan balutan batik khas nusantara yang menjadi ciri penampilannya, Soedjono langsung mencairkan suasana sejak awal kajian. “Batik itu singkatannya Bikin Aku Tampil Istimewa dan Keren,” ujarnya, disambut tawa hangat jamaah yang memadati lokasi pengajian.

Namun di balik gaya ceramah yang ringan dan penuh parikan khas Jawa, Soedjono menyampaikan pesan serius tentang pentingnya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman digital. Dalam kajian bertema “Membentuk Keluarga Sakinah ala Nabi Ibrahim”, ia mengajak jamaah meneladani ketangguhan keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai fondasi pendidikan keluarga Muslim.

Menurutnya, Nabi Ibrahim bukan hanya dikenal sebagai Khalilullah atau kekasih Allah, tetapi juga Abul Anbiya, bapak para nabi, yang berhasil mendidik putra-putranya menjadi pribadi saleh dan pemimpin umat.

“Kesuksesan keluarga Nabi Ibrahim tidak dibangun secara instan. Ada pondasi aqidah, ibadah, komunikasi, dan akhlak yang terus dijaga,” ujarnya.

Soedjono kemudian memaparkan empat pilar utama dalam membentuk keluarga sakinah.

Pondasi Aqidah Menjadi Dasar Utama

Pilar pertama yang ditekankan ialah penguatan aqidah atau tauhid dalam keluarga. Ia mengibaratkan aqidah sebagai pondasi rumah yang menentukan kokoh atau rapuhnya bangunan kehidupan.

“Kalau pondasinya kuat, diterpa badai apa pun tidak mudah roboh,” katanya.

Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW menghabiskan 13 tahun pertama dakwah di Makkah untuk menguatkan tauhid umat. Karena itu, menurutnya, pendidikan anak harus dimulai dari mengenalkan sifat-sifat Allah dengan pendekatan kasih sayang.

“Ajak anak shalat dengan cinta. Katakan bahwa shalat membuat kita dekat dengan Allah dan masuk surga-Nya,” pesannya.

Ibadah sebagai Tujuan Hidup

Pada bagian kedua, Soedjono menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Ia mengingatkan pentingnya menjaga shalat sebagai tiang agama sekaligus amalan pertama yang akan dihisab di akhirat.

Ia juga menyinggung doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an, “Rabbi habli minash shalihin”—permohonan agar dianugerahi keturunan yang saleh.

Di hadapan jamaah, Soedjono membagikan lima kiat sederhana agar mampu istiqamah menjalankan shalat tahajud, mulai dari tidur lebih awal hingga saling membangunkan pasangan.

Suasana pengajian kembali mencair ketika ia menyelipkan humor khasnya.

“Kalau masih malas bangun tahajud, baca saja doa pamungkas: Allahumma pekso,” ujarnya, disambut gelak tawa jamaah.

Komunikasi Demokratis dalam Keluarga

Pilar ketiga yang dibahas ialah pentingnya komunikasi sehat di dalam rumah tangga. Menurutnya, kemajuan teknologi justru sering membuat anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing sehingga kehilangan waktu berbicara secara langsung.

“Ayah harus menyediakan waktu untuk ngobrol dengan anak dan istri. Komunikasi keluarga itu harus demokratis,” tuturnya.

Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim yang tetap berdialog dengan Nabi Ismail saat menerima perintah menyembelih putranya. Sikap itu, menurutnya, menunjukkan bahwa komunikasi dalam keluarga Islam dibangun melalui musyawarah dan penghargaan terhadap pendapat anggota keluarga.

Akhlak Menjadi Penentu Kemuliaan

Pada bagian akhir ceramahnya, Soedjono menekankan bahwa kecerdasan akademik tidak akan berarti tanpa akhlak yang baik. Ia mengingatkan pentingnya menjaga lisan serta menanamkan etika sejak dini kepada anak-anak.

“Orang pintar tanpa akhlak bisa merusak banyak hal. Karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi prioritas keluarga,” ujarnya.

Kajian Ahad pagi itu ditutup dengan suasana penuh kehangatan. Jamaah tampak antusias mengikuti pengajian hingga akhir, bahkan beberapa kali dibuat tertawa oleh parikan dan humor segar sang ustadz.

Melalui pengajian tersebut, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cerme berharap nilai-nilai keluarga sakinah ala Nabi Ibrahim dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam membangun rumah tangga yang religius, harmonis, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

 

Editor